Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Intan Syifa Ainaya Azzahra

Bhinneka Tunggal Ika: Antara Slogan dan Kenyataan

Eduaksi | 2025-12-22 08:45:36
Gambar: https://share.google/0hcHSYHJjaa3HtnwG

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk. Dari Sabang hingga Merauke, terdapat ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, serta beragam agama dan kepercayaan. Keberagaman ini dirangkum dalam semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Semboyan tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan. Namun, pertanyaan penting yang patut direnungkan adalah: sejauh mana Bhinneka Tunggal Ika benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata, dan tidak berhenti hanya menjadi slogan belaka?

Dalam konteks ideal, Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan sikap saling menghormati, toleran, dan kesadaran bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Setiap warga negara memiliki hak yang sama tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan. Nilai ini sejalan dengan Pancasila, khususnya sila kedua dan ketiga yang menekankan kemanusiaan dan persatuan. Secara normatif, prinsip ini telah tertua dalam konstitusi dan berbagai peraturan perundang-undangan.

Namun dalam praktiknya, kenyataan di lapangan sering kali menunjukkan kondisi yang berlawanan. Konflik bernuansa SARA, intoleransi, kebencian, hingga diskriminasi masih sering terjadi di tengah masyarakat. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana mempererat persaudaraan justru sering dimanfaatkan untuk menyebarkan provokasi dan mempererat perbedaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap makna Bhinneka Tunggal Ika belum sepenuhnya tertanam kuat dalam kesadaran warga negara.Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah rendahnya internalisasi nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang mengenal Bhinneka Tunggal Ika hanya sebatas hafalan atau simbol di lambang negara, tanpa benar-benar menghayati maknanya. Pendidikan kewarganegaraan terkadang masih bersifat teoritis, belum mencakup ranah sikap dan perilaku secara nyata. Akibatnya, nilai persatuan mudah goyah ketika dibayangkan pada perbedaan kepentingan, pandangan politik, atau identitas kelompok.

Selain itu, faktor keteladanan juga menjadi persoalan penting. Ketika tokoh publik atau elit politik justru mempertontonkan sikap yang tidak mencerminkan semangat persatuan, masyarakat cenderung menirunya. Polarisasi sosial yang tajam dapat menjadikan masyarakat lebih mementingkan identitas kelompok daripada kepentingan bangsa secara keseluruhan. Dalam situasi seperti ini, Bhinneka Tunggal Ika berisiko kehilangan makna substansialnya.

Meski demikian, bukan berarti semboyan ini telah gagal sepenuhnya. Di banyak daerah, praktik hidup berdampingan secara damai masih terus terjaga. Gotong royong lintas suku dan agama, solidaritas sosial saat terjadi bencana, serta kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat menjadi bukti bahwa nilai Bhinneka Tunggal Ika masih hidup.

Tantangannya adalah bagaimana memperluas praktik tersebut dengan baik agar menjadi budaya nasional, bukan sekadar fenomena lokal.Peran generasi muda sangat strategis dalam menjembatani kesenjangan antara slogan dan kenyataan. Generasi muda perlu dibekali kesadaran kritis bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan bangsa. Melalui pendidikan, dialog terbuka, serta pemanfaatan media sosial secara bijak, generasi muda dapat menjadi agen pemersatu di tengah arus globalisasi dan mengganggu informasi. Pendidikan PPKn harus diarahkan tidak hanya untuk mencetak warga negara yang cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Pada akhirnya, Bhinneka Tunggal Ika akan kehilangan maknanya jika hanya dijadikan simbol tanpa pengamalan nyata. Persatuan bangsa tidak lahir secara otomatis, melainkan harus diperlakukan melalui sikap toleran, adil, dan saling menghormati. Menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kenyataan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Dengan komitmen dan kesadaran kolektif, semboyan tersebut dapat benar-benar menjadi semangat kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sekadar slogan yang hampa makna.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image