Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Akun montoon Ml

Ali Syafik dan Kita yang Terlalu Ramai Saat Manusia Menghilang

Kolom | 2026-01-14 19:51:38

Oleh: Malfin Ardiansyah, kontributor retizen

Nama Ali Syafik tiba-tiba memenuhi linimasa. Ia viral bukan karena prestasi, bukan karena kontroversi, melainkan karena satu hal yang seharusnya membuat kita hening: ia hilang di gunung.

Foto: Proses evakuasi tim SAR di medan pegunungan. Sumber: ECR (Radio Pantai Timur) – www.ecr.co.

Namun seperti banyak tragedi lain di era digital, kerugian ini tidak hanya memicu doa dan empati, tetapi juga banjir ekonomi, bahkan penghakiman. Di tengah upaya pencarian dan kecemasan keluarga, masyarakat justru berlomba menjadi komentator paling cepat—bukan yang paling peduli.

Inilah potret zaman kita hari ini: manusia bisa hilang, namun gangguan justru semakin menjadi-jadi.

Ketika Tragedi Berubah Menjadi Tontonan

Gunung adalah ruang yang sunyi, tempat manusia seharusnya belajar rendah hati di alam. Namun ketika kabar hilangnya Ali Syafik menyebar, kesunyian itu runtuh oleh hiruk-pikuk media sosial. Ringkasnya informasi beredar tanpa kendali, opini saling terlintas, dan empati sering kalah oleh rasa ingin tahu.

Alih-alih bertanya “bagaimana membantu?”, sebagian sibuk justru bertanya “siapa yang salah?”.

Seolah-olah tragedi harus selalu punya kelemahan, meski nyawa manusia masih belum ditemukan.

Viralitas yang Kehilangan Arah

Viral seharusnya membantu—memperluas informasi, mempercepat dukungan, memperkuat solidaritas. Tapi terlalu sering, viral justru berubah menjadi arena adu narasi. Setiap orang merasa berhak menilai, meski tidak berada di lokasi, tidak mengenal korban, dan tidak memikul beban keluarga yang menunggu.

Ali Syafik bukan konten.

Ia bukan bahan diskusi algoritma.

Ia adalah manusia—dengan keluarga, harapan, dan hidup yang kini tergantung di sekelilingnya.

Empati yang Datang Terlambat

Ada sesuatu yang keliru ketika tragedi baru dianggap penting setelah ramai. Seakan-akan nilai sebuah nyawa bergantung pada seberapa sering namanya muncul di beranda. Padahal, bagi keluarga yang menunggu, satu jam terasa seperti seumur hidup—tidak peduli apakah publik sedang menonton atau tidak.

Kita lupa bahwa di balik setiap kabar “hilang”, ada ibu yang tak tidur, ada keluarga yang menggantungkan harap, dan ada doa-doa yang tak pernah masuk trending topic.

Belajar Diam, Belajar Peduli

Kasus Ali Syafik seharusnya menjadi pengingat: tidak semua hal perlu dikomentari, tidak semua tragedi memerlukan opini. Ada kalanya yang paling manusiawi adalah diam, mendoakan, dan tidak menambah beban dengan asumsi.

Gunung mengajarkan kerendahan hati. Tragedi pengajaran empati. Sayangnya, media sosial sering mengajarkan kita untuk berbicara lebih dulu sebelum memahami.

Ali Syafik mungkin hilang di gunung, tapi yang benar-benar berisiko hilang adalah hati nurani kita sendiri, jika tragedi terus kita lakukan sebagai tontonan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image