Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Harya Bima Satria Adhirangga

Lingkungan: Ramai di Wacana, Sunyi di Tindakan

Edukasi | 2026-01-14 14:28:49
Wacana ramai, realitas rusak (sumber: freepik.com)

Isu lingkungan saat ini menjadi salah satu topik yang paling sering muncul di ruang publik. Media online hampir setiap hari memuat berita tentang krisis iklim, kampanye pengurangan plastik, hingga ajakan menerapkan gaya hidup berkelanjutan. Di media sosial, tagar bertema lingkungan bermunculan dan dibagikan ribuan kali, sering kali dibarengi narasi kepedulian dan tanggung jawab bersama. Namun, di balik tingginya intensitas pembicaraan tersebut, kerusakan lingkungan tetap berlangsung tanpa tanda perlambatan berarti. Sungai masih tercemar, sampah terus menumpuk, dan emisi karbon terus meningkat. Situasi ini memperlihatkan adanya jarak yang cukup lebar antara kesadaran publik dan tindakan nyata di lapangan.


Fenomena ini menunjukkan bagaimana peran media sangat kuat dalam membentuk perhatian publik. Isu-isu tertentu dapat tampil menonjol dan dianggap penting karena terus diangkat dan diulang dalam pemberitaan. Ketika lingkungan terus hadir di berbagai kanal media, publik pun terdorong untuk memandangnya sebagai persoalan utama. Namun, persoalan sesungguhnya bukan terletak pada seberapa sering isu lingkungan dibicarakan, melainkan pada cara isu tersebut dikemas, ditekankan, dan diarahkan.


Dalam praktiknya, banyak pemberitaan dan konten lingkungan lebih menyoroti sisi simbolik dibandingkan substansi masalah. Kampanye hijau, aksi tanam pohon seremonial, atau citra perusahaan ramah lingkungan kerap mendapatkan porsi perhatian lebih besar dibandingkan pembahasan mendalam mengenai kebijakan industri, lemahnya pengawasan pemerintah, atau sistem produksi yang secara nyata merusak alam. Akibatnya, publik perlahan diarahkan untuk percaya bahwa kepedulian terhadap lingkungan cukup diwujudkan melalui tindakan-tindakan kecil yang bersifat simbolis.


Pola pemberitaan semacam ini membentuk kesan seolah kepedulian lingkungan sudah berjalan dengan baik. Banyak orang merasa telah berkontribusi hanya dengan menyukai unggahan kampanye lingkungan, membagikan konten bertema hijau, atau membeli produk berlabel “eco-friendly”. Padahal, tindakan tersebut sering kali tidak menyentuh akar persoalan lingkungan yang bersifat struktural dan sistemik. Isu lingkungan pun berubah menjadi tren komunikasi, bukan dorongan menuju perubahan yang nyata.


Situasi ini juga membuka ruang bagi praktik greenwashing, ketika kepedulian terhadap lingkungan dimanfaatkan sebagai strategi pencitraan. Perusahaan atau institusi tampil seolah ramah lingkungan melalui pesan dan visual yang meyakinkan, sementara praktik bisnis utamanya masih berpotensi merusak alam. Media, baik secara sadar maupun tidak, turut memperkuat narasi tersebut dengan memberikan ruang besar pada pesan-pesan positif tanpa disertai kritik dan pengawasan yang memadai. Fokus pembicaraan akhirnya bergeser dari upaya penyelamatan lingkungan menjadi upaya menjaga citra.


Dari sudut pandang komunikasi, persoalan lingkungan hari ini bukan lagi soal minimnya informasi. Publik sebenarnya sudah cukup mengetahui bahwa lingkungan sedang berada dalam kondisi krisis. Namun, perhatian yang terbentuk sering kali tidak diarahkan untuk memahami siapa yang paling bertanggung jawab dan perubahan apa yang benar-benar dibutuhkan. Isu lingkungan terlihat penting, tetapi tidak cukup mendorong kesadaran kritis yang mampu memicu tekanan sosial maupun kebijakan yang tegas.


Jika pola pembentukan perhatian publik seperti ini terus berlangsung, isu lingkungan akan selalu ramai dalam diskusi, tetapi miskin aksi konkret. Media seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pesan, melainkan juga sebagai penunjuk arah bagi publik—mengajak melihat persoalan lingkungan secara lebih mendalam, kritis, dan berorientasi jangka panjang. Tanpa itu, isu lingkungan hanya akan menjadi tajuk berulang yang kehilangan daya dorong perubahan.
Pada akhirnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup dibangun melalui narasi indah dan kampanye simbolik semata. Diperlukan komunikasi yang lebih jujur, kritis, dan berani menyinggung kepentingan besar yang selama ini luput dari sorotan. Jika tidak, wacana lingkungan akan terus hidup di layar—sementara alam terus rusak dalam diam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image