Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syarifudin Brutu

Dari Lumpur Sungai Menuju Tahta: Lika-Liku Lahirnya Peradaban Pertama Manusia

Sejarah | 2026-01-13 18:39:30
Sebuah representasi visual fajar peradaban di Mesopotamia: Menampilkan megahnya struktur Ziggurat yang menjulang di atas lahan pertanian subur, melambangkan transisi manusia dari kelompok kecil menjadi terstruktur di bawah kepemimpinan raja dan masyarakat sistem hukum pertama

Selama ribuan tahun, nenek moyang kita hidup berpindah-pindah dalam kelompok kecil, hanya memikirkan cara bertahan hidup demi hari. Namun, sekitar 5.000 tahun yang lalu, sebuah transformasi radikal terjadi di hamparan tanah pinggiran kota antara Sungai Eufrat dan Tigris. Di sanalah, Mesopotamia, “fajar peradaban” mulai menyingsing.

Titik Balik: Revolusi Pertanian Semua ini tidak dimulai dari mahkota atau pedang, melainkan dari sebutir benih. Penemuan cara tanam yang cocok memaksa manusia untuk berhenti berpindah dan mulai menetap. Ketika makanan menjadi berlebih (surplus), tidak semua orang perlu bertani. Lahirlah para pengrajin, pedagang, pemuka agama, dan yang paling krusial: para pemimpin.

Lika-Liku Sistem Pemerintahan Pertama Sistem pemerintahan pertama di dunia tidak langsung muncul sebagai kerajaan yang megah. Ia berevolusi melalui tahapan yang penuh intrik:

Teokrasi (Pemerintahan Tuhan): Di kota-kota kuno seperti Uruk, pemimpin pertama bukanlah raja, melainkan pendeta tinggi (En). Rakyat percaya bahwa kota mereka dimiliki oleh dewa, dan pendeta adalah "manajer" di bumi yang mengatur distribusi gandum

Lugal (Manusia Besar): Semakin meningkatnya konflik perebutan air dan lahan, muncullah kebutuhan akan pemimpin militer. Sosok ini disebut Lugal. Lama-kelamaan, kekuasaan yang tadinya sementara untuk masa perang, berubah menjadi permanen. Inilah cikal bakal konsep Raja.

Hukum Tertulis: Transisi terbesar terjadi ketika kekuasaan tidak lagi hanya berdasarkan kekuatan fisik, tetapi aturan. Kode Hammurabi dari Babilonia adalah salah satu upaya pertama manusia untuk menciptakan keadilan yang terstandardisasi, meski dengan prinsip keras "mata ganti mata".

Mengapa Mereka Berhasil (dan Runtuh)? Peradaban pertama seperti Sumeria, Mesir Kuno, dan Lembah Indus berhasil karena mereka mampu mengorganisir ribuan orang untuk satu tujuan: membangun irigasi dan monumen. Namun, mereka juga menghadapi musuh yang sama dengan kita sekarang: korupsi birokrasi, perubahan iklim yang membuat lahan kering, dan ketimpangan sosial yang tajam.

"Sejarah bukan sekadar deretan tanggal, melainkan cermin dari usaha keras manusia untuk menciptakan di tengah kekacauan alam."

Hari ini, saat kita melihat gedung pemerintahan atau membayar pajak, kita sebenarnya sedang menanamkan warisan yang dimulai di tepi sungai ribuan tahun yang lalu. Kita adalah pewaris dari eksperimen besar bernama "Negara".

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image