Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sebi Daily

Scroll Terus, Capek Sendiri: Media Sosial dan Kesehatan Mental Generasi Z

Gaya Hidup | 2026-01-13 17:06:28
Ilustrasi Media Sosial. Foto: Tracy/Pexels.

Oleh: Fathiyatul Millah_Mahasiswa Institut SEBI.

Penggunaan media sosial yang intens sering kali membuat individu terpapar pada kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Unggahan tentang pencapaian, gaya hidup, dan kebahagiaan kerap menciptakan standar semu yang sulit dicapai. Akibatnya, banyak pengguna, terutama Generasi Z mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, merasa tertinggal, dan meragukan nilai dirinya sendiri.

Fenomena ini diperparah oleh budaya scrolling tanpa henti. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, sehingga batas antara hiburan dan kelelahan mental menjadi kabur. Tanpa disadari, waktu yang dihabiskan di media sosial semakin panjang, sementara ruang untuk beristirahat secara psikologis justru semakin sempit.

Menurut saya, masalah utama dari kondisi ini bukan semata-mata keberadaan media sosial, melainkan cara penggunaannya. Media sosial pada dasarnya bersifat netral. Ia bisa menjadi ruang belajar, berbagi inspirasi, dan membangun jejaring positif. Namun, tanpa kesadaran dan kontrol diri, media sosial dengan mudah berubah menjadi sumber tekanan psikologis.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara intensitas penggunaan media sosial dengan meningkatnya gejala kecemasan, stres, dan kelelahan emosional. Ketergantungan pada validasi digital—seperti jumlah likes, komentar, dan pengikut—perlahan membentuk persepsi bahwa nilai diri ditentukan oleh respons orang lain. Kondisi ini membuat kesehatan mental Generasi Z semakin rentan.

Dalam konteks ini, literasi digital menjadi sangat penting. Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dampak psikologis dari interaksi digital. Menurut saya, kesadaran untuk membatasi konsumsi media sosial, memilah konten, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat adalah bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.

Peran keluarga, sekolah, dan komunitas juga tidak bisa diabaikan. Edukasi mengenai penggunaan media sosial yang sehat perlu ditanamkan sejak dini. Generasi Z perlu didorong untuk melihat media sosial sebagai alat, bukan sebagai penentu kebahagiaan atau harga diri.

Kesimpulan

Media sosial bukanlah musuh, tetapi juga bukan ruang yang sepenuhnya aman tanpa risiko. Dengan kesadaran, literasi digital, dan sikap bijak dalam menggunakannya, Generasi Z dapat memanfaatkan media sosial secara positif tanpa harus mengorbankan kesehatan mental. Menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kesejahteraan psikologis menjadi kebutuhan penting di tengah arus informasi yang terus bergerak cepat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image