Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ANNISA AUFA

Ketika Slow Response Menjadi Sumber Overthinking dalam Hubungan Digital

Humaniora | 2026-01-13 01:03:10

Di era komunikasi digital, kehadiran seseorang sering kali diukur bukan dari jarak fisik, melainkan dari seberapa cepat ia membalas pesan. Satu centang abu-abu yang tak kunjung berubah, notifikasi yang tak muncul berjam-jam, atau pesan yang hanya dibaca tanpa respons kerap menjadi sumber kecemasan baru dalam sebuah hubungan. Slow response ini kerap dipandang sebagai hal sepele bagi sebagian orang, padahal situasi ini dapat memunculkan overthinking, yang perlahan dapat memengaruhi kedekatan emosional dalam sebuah hubungan.

Ilustrasi orang yang sedang overthinking

Dalam konteks merespon fenomena ini, beberapa orang juga menganggap overthinking sebagai sikap berlebihan . Padahal, jika ditelaah lebih dalam, kecemasan yang muncul akibat lambatnya respons komunikasi dapat dipahami sebagai reaksi yang wajar dalam proses membangun kedekatan. Di sinilah Social Penetration Theory menjadi relevan untuk menjelaskan kondisi tersebut.

Social Penetration Theory, yang dikemukakan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor, menjelaskan bahwa hubungan interpersonal berkembang melalui proses keterbukaan diri (self-disclosure) yang bertahap dan konsisten. Hubungan ini diibaratkan seperti bawang dengan lapisan-lapisan:berawal dari percakapan yang dangkal menuju pembicaraan yang semakin personal dan intim. Kedekatan semacam ini tumbuh perlahan, melalui interaksi yang konsisten dan rasa aman secara emosional.

Dalam hubungan digital, baik yang baru dimulai maupun yang sudah berjalan, komunikasi melalui pesan teks sering menjadi sarana utama untuk saling mengenal dan membangun kedekatan. Dari percakapan ringan yang sekadar menanyakan kabar, berbagi cerita tentang aktivitas sehari-hari, hingga membahas hal-hal yang lebih personal, semua menjadi bentuk keterbukaan diri yang perlahan mempererat hubungan. Melalui proses ini, seseorang merasa didengar, diperhatikan, dan diterima secara emosional. Namun, ketika ritme komunikasi yang sebelumnya terasa intens dan konsisten tiba-tiba melambat, proses kedekatan tersebut dapat terasa terhambat. Situasi ini kerap menimbulkan kebingungan, karena keterbukaan yang telah terbangun seolah tidak lagi direspons dengan cara yang sama.

Slow respon dalam tahap hubungan yang sedang bertumbuh dapat menciptakan ketidakseimbangan. Seseorang yang telah membuka lapisan dirinya dengan menceritakan hari yang berat, kegelisahan, atau harapan tertentu, yang pastinya membutuhkan respons dari lawan bicara sebagai bentuk penerimaan dan perhatian. Ketika respons tersebut tidak datang atau tertunda tanpa penjelasan, muncul perasaan ragu dan memicu kecemasan.

Ketika respons itu tidak datang sesuai ekspektasi, muncullah pertanyaan-pertanyaan dalam benak: “Apakah dia masih tertarik?” “Apakah aku terlalu terbuka?” “Apa aku salah bicara?” Maka terjadilah rasa overthinking . Overthinking muncul bukan hanya karena pesan tak dibalas semata, melainkan karena adanya ketakutan bahwa keterbukaan yang telah diberikan tidak direspons secara setara.

Social Penetration Theory menekankan bahwa kedekatan dibangun melalui pertukaran yang relatif seimbang. Jika satu pihak merasa sudah masuk ke lapisan yang lebih dalam, sementara pihak lain justru menarik diri—yang dalam komunikasi digital bisa terlihat dari slow respon—maka muncul rasa tidak aman. Keintiman emosional yang semula bertumbuh perlahan berubah menjadi kecemasan akan penolakan.

Menariknya, slow respon sering kali tidak disertai penjelasan. Dalam komunikasi tatap muka, perubahan sikap bisa terbaca dari ekspresi atau bahasa tubuh. Namun sebaliknya, dalam komunikasi digital, tidak adanya balasan sering kali menimbulkan berbagai penafsiran. Kekosongan ini diisi oleh asumsi-asumsi personal yang belum tentu benar . Akibatnya, overthinking menjadi langkah untuk “menafsirkan” diamnya orang lain, meski sering kali tafsir tersebut berujung pada pikiran negatif.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa dalam hubungan yang berbasis digital, konsistensi dalam berkomunikasi berperan penting sebagai penanda kedekatan . Bukan berarti setiap pesan harus dibalas seketika, tetapi perubahan pola tanpa komunikasi yang jelas dapat mengganggu rasa aman emosional. Dalam kerangka Social Penetration Theory, ketidakkonsistenan ini bisa memperlambat bahkan menghentikan proses pendalaman hubungan.

Meski demikian, slow respon tidak selalu mencerminkan jarak emosional dalam sebuah hubungan. Aktivitas yang padat, perbedaan cara berkomunikasi, maupun kebutuhan akan ruang pribadi dapat memengaruhi kecepatan membalas pesan. Persoalan ini mulai muncul ketika kedua pihak memiliki pemahaman yang berbeda mengenai ritme dan harapan dalam berkomunikasi. Tanpa adanya komunikasi yang jelas, keterbukaan yang semula bertujuan membangun kedekatan justru dapat memicu rasa cemas dan ketidaknyamanan.

Pada akhirnya, fenomena slow respon dan overthinking menunjukkan bahwa kehadiran teknologi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan dasar manusia akan kepastian dan timbal balik emosional. Di balik kemudahan berkomunikasi melalui layar, individu tetap membutuhkan respons sebagai tanda perhatian, penerimaan, dan keberlanjutan hubungan.

Social Penetration Theory menegaskan bahwa keintiman tidak semata-mata bergantung pada kedalaman pengungkapan diri seseorang, melainkan juga pada cara keterbukaan itu dipertahankan dan ditanggapi . Jika tidak ada respons timbal balik yang setara, upaya menciptakan kedekatan dapat tersendat dan menimbulkan keraguan emosional.

Oleh karena itu, kejelasan dalam berkomunikasi,menjadi kunci penting agar hubungan dapat terus bertumbuh tanpa dibayangi kecemasan yang berlebihan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image