Frekuensi yang tak Lagi Sama
Sastra | 2026-01-13 06:21:19
Cerpen ini mengisahkan dinamika psikologis dan perjalanan pendewasaan diri seorang pemuda asal Ponorogo bernama Daffa. Sebagai penggemar fanatik pembalap MotoGP, Enea Bastianini, Daffa terjebak dalam obsesi emosional terhadap Nesa, seorang gadis asal Bogor yang ia kenal melalui grup WhatsApp komunitas MotoGP pada masa pandemi 2020. Hubungan daring mereka awalnya tumbuh subur di atas landasan rivalitas sengit antara Jorge Martin (idola Nesa) dan Bastianini, yang kemudian berkembang menjadi rutinitas komunikasi yang intens, mulai dari debat balapan hingga berbagi cerita pribadi.
Namun, seiring berjalannya waktu, Daffa harus menghadapi kenyataan pahit ketika antusiasme Nesa mulai memudar. Konflik batin dalam cerita ini memuncak saat Daffa berhadapan dengan fenomena "centang dua" dan pengabaian pesan yang berulang, yang akhirnya menyadarkannya bahwa frekuensi komunikasi dan perasaan mereka tidak lagi selaras. Melalui refleksi yang mendalam, Daffa belajar untuk melepaskan ketergantungan emosionalnya dan berhenti memaksakan kesamaan pada hubungan yang telah kehilangan arah.
Cerpen ini mengeksplorasi tema mengenai obsesi sepihak, rapuhnya pertemanan di dunia digital, serta proses self-growth (pertumbuhan diri). Kisah ini ditutup dengan pesan bahwa kebahagiaan autentik tidak ditemukan melalui validasi orang lain atau fanatisme buta, melainkan melalui penerimaan diri dan keberanian untuk melangkah maju menuju masa depan yang lebih bermakna.
Aku mengenal Nesa untuk pertama kalinya melalui grup WhatsApp MotoGP pada September 2020. Kala itu, dunia masih berada dalam cengkeraman pandemi Covid-19 yang memaksa setiap orang terkurung di rumah. Aku, Daffa, seorang pemuda asal Ponorogo yang biasanya menghabiskan waktu di warung kopi sambil menyaksikan balapan, kini hanya bisa meringkuk di kamar indekos sembari memantau lini masa ponsel. Grup tersebut menjadi pelarian yang menyenangkan—sebuah ruang untuk bertukar informasi balapan, prediksi hasil, hingga euforia saat pembalap favorit melesat di sirkuit.
Kami berada pada frekuensi yang sangat selaras. Nesa, gadis asal Bogor yang mengaku hobi melakukan perjalanan jauh menggunakan sepeda motor besar, sering kali melontarkan analisis tajam. "Wah, Ponorogo! Kamu yakin Quartararo mampu menahan Bagnaia di Aragon? Strateginya terlihat lemah," tulisnya suatu malam di grup, lengkap dengan emotikon api. Aku membalasnya dengan cepat, "Nesa Bogor, kamu baru saja bergabung! Fabio sedang dalam performa terbaik. Kamu menjagokan siapa?" Interaksi kami berkembang dari sana, sekadar meramaikan obrolan grup. Nama-nama pembalap seperti Marquez, Rossi, atau Dovizioso terasa sangat mudah diingat jika dibahas bersama orang yang tepat.
Memasuki tahun 2021, intensitas percakapan kami di grup semakin meningkat. Debat mengenai strategi balap menjadi rutinitas. Namun, ada satu alasan irasional yang membuatku begitu fanatik terhadap Nesa. Ia adalah penggemar berat Jorge Martin, sementara aku sangat mengidolakan Enea Bastianini. Dalam dunia MotoGP, persaingan Martin dan Bastianini adalah rivalitas paling murni untuk memperebutkan takhta masa depan. Bagiku, Nesa bukan sekadar teman mengobrol, ia adalah sahabat daring sefrekuensi yang sangat berharga. Kefanatikan terhadap rivalitas idola ini membuatku merasa bahwa menghubunginya adalah sebuah keharusan, seolah-olah tanpa interaksi dengannya, persaingan di lintasan balap kehilangan maknanya. Aku ingin kami terus menjadi sahabat yang bisa saling berbagi gairah terhadap dunia balap ini.
Suatu sore pada Oktober 2021, saat hujan deras mengguyur Ponorogo, aku memberanikan diri mengirim pesan pribadi kepada Nesa. Persaingan Rookie of the Year antara Jorge Martin dan Enea Bastianini sedang berada di puncak ketegangan.
Daffa: "Nesa, kamu penggemar Jorge Martin, bukan? Aku menjagokan Enea Bastianini. Perebutan gelar Rookie of the Year musim ini tampaknya akan semakin sengit!"
Nesa: "Iya."
Balasannya sangat singkat, membuatku ragu sejenak. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk tetap dekat sebagai sahabat mendorongku untuk lanjut.
Daffa: "Kamu serius menjagokan Martin? Strateginya cukup baik, tetapi Bastianini lebih konsisten di tikungan cepat. Apakah kamu melihat balapan di Aragon kemarin?"
Secara mengejutkan, jawabannya membuat keningku berkerut.
Nesa: "Aku sudah tidak menonton MotoGP."
Daffa: "Mengapa? Grup sedang sangat ramai membahas hal itu."
Nesa: "Tidak apa-apa. Hanya sedang sibuk."
Aku tidak ingin memaksa karena khawatir terlihat terlalu berharap. Aku mengakhiri percakapan dengan emotikon senyum, "Baiklah, tetap semangat!" Percakapan itu terhenti di sana, namun pikiranku terus berputar. Apakah ia sedang jenuh dengan situasi pandemi, atau ada cerita lain di balik dinginnya kota Bogor yang membuat frekuensi kami tak lagi searah?
Waktu berlalu dengan cepat hingga tiba tanggal 17 Desember 2021, hari ulang tahun Nesa. Aku memantau unggahan ceritanya di Instagram yang menampilkan foto kue cokelat sederhana, lalu segera membalasnya melalui pesan langsung: "Selamat ulang tahun, Nesa Bogor! Semoga panjang umur dan lebih baik lagi." Ia merespons dengan cepat.
Nesa: "Iya, makasih Daffa!"
Hatiku merasa tenang. Tanpa kusadari, harapan kecil mulai tumbuh—mungkin pada 4 April 2022 nanti, saat hari ulang tahunku, ia akan mengingat dan membalas dengan sesuatu yang lebih hangat.
Setelah percakapan singkat di hari ulang tahunnya itu, hubungan kami kembali mendingin. Aku berusaha menahan diri untuk tidak terlalu sering mengirim pesan pribadi, mengingat pada Oktober sebelumnya ia sudah menegaskan tidak lagi menonton MotoGP. Di grup WhatsApp pun, Nesa semakin jarang muncul, membuat keriuhan diskusi strategi balap terasa ada yang kurang. Aku tetap bertahan di sana, namun jemariku sering kali berhenti di kolom profilnya, sekadar memastikan ia masih menggunakan foto profil yang sama. Aku hanya ingin menjaga hubungan ini sebagai sahabat online sefrekuensi, seseorang yang mengerti mengapa raungan mesin di sirkuit bisa terasa begitu puitis.
Bulan-bulan awal 2022 menjadi masa penantian yang cukup menyiksa. Setiap kali ada berita besar tentang Bastianini atau Martin, aku hampir saja menekan tombol kirim ke nomornya, namun selalu kubatalkan. Aku tidak ingin merusak kenyamanannya. Aku hanya bisa berharap bahwa ingatan Nesa tentang persahabatan singkat kami di masa pandemi belum sepenuhnya luntur, setidaknya sampai hari spesialku tiba.
Harapan itu menjadi kenyataan. Pada 4 April 2022—yang bertepatan dengan awal bulan Ramadan—Nesa membalas status WhatsApp-ku saat dini hari.
Nesa: "Selamat ulang tahun, Daffa, selamat bertambah umur, semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya."
Daffa: "Aamiin, makasih Nesa."
Rasanya sangat membahagiakan; dadaku bergetar layaknya mesin Ducati yang dipacu di lintasan lurus. Ini adalah bukti kecil bahwa hubungan kami layak dipertahankan, meski pesan pribadi masih jarang dilakukan. Bagiku, hubungan ini unik: ia adalah "Martin" dan aku adalah "Bastianini"—dua rival yang saling menaruh hormat di luar sirkuit.
Bagi aku, ulang tahun bukan sekadar perayaan, melainkan penanda bahwa seseorang menyimpan potongan memori tentangku di kepalanya. Itulah sebabnya, pada 17 Desember 2022, aku kembali mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nesa dengan penuh kesungguhan. Musim MotoGP saat itu sedang sangat panas karena persaingan Martin versus Bastianini untuk memperebutkan kursi di tim pabrikan Ducati musim 2023. Karena kefanatikanku terhadap persaingan mereka, aku sesekali memberikan informasi terbaru mengenai MotoGP kepadanya, berharap dapat menyalakan kembali gairah balapan di hatinya yang sudah meredup sejak September 2021.
Suatu sore pada Juni 2022, saat Ponorogo tengah dilanda cuaca panas yang terik, aku berbaring sembari menyaksikan tayangan ulang balapan. Di tengah keriuhan suara mesin di layar, aku tergerak untuk mengirimkan pesan singkat kepadanya.
Daffa: "Nes, kamu masih mengikuti perkembangan MotoGP kah?"
Nesa: "Tidak lagi ????."
Daffa: "Sayang sekali. Padahal, persaingan memperebutkan kursi pabrikan Ducati 2023 antara Martin dan Bastianini semakin memanas."
Nesa: "Haha, kamu memang penggemar fanatik. Beri tahu aku saja jika nanti Martin berhasil menjadi juara dunia, ya."
Sejujurnya, ketertarikanku pada Nesa tumbuh bukan sekadar karena kepribadiannya, melainkan karena ia adalah penggemar Jorge Martin. Sebagai pendukung setia Enea Bastianini, aku merasa rivalitas pembalap favorit kami adalah benang merah yang menjaga komunikasi ini tetap hidup agar kami tetap menjadi sahabat online yang sefrekuensi. Aku menjadi terlalu fanatik terhadap sosok Nesa karena merasa ia adalah satu-satunya orang yang mampu mengimbangi obsesiku pada lintasan balap, meskipun kini minatnya telah benar-benar padam. Walaupun ia sudah tidak aktif mengikuti Grand Prix, aku tetap rutin mengirimkan informasi mengenai para pembalap itu—sebuah dalih agar percakapan kami tidak benar-benar terputus.
Memasuki penghujung tahun 2022, frekuensi komunikasi kami terasa sedikit lebih stabil meski tidak lagi membicarakan detail teknis balapan. Aku tetap memposisikan diriku sebagai sahabat online sefrekuensi yang selalu sedia berbagi kabar, meskipun aku tahu Nesa sudah tidak lagi mengikuti perkembangan MotoGP sejak September 2021. Bagiku, menjaga komunikasi ini adalah cara untuk merawat benang merah rivalitas Martin-Bastianini yang pernah menyatukan kami.
Pada 14 Desember 2022, tiga hari sebelum hari spesialnya, aku memulai langkah awal untuk memastikan ia tahu bahwa aku tidak pernah absen mengingatnya.
"Nes, tiga hari lagi kamu ulang tahun, kan?" tulisku memulai percakapan.
Nesa: "Bagaimana bisa kamu masih mengingatnya? ???? Apakah kamu memantau kalender balap atau semacamnya?"
Daffa: "Tentu saja! Tanggal ulang tahunmu sudah seperti jadwal balapan—mustahil untuk dilupakan."
Nesa: "Aduh, aku merasa semakin tua."
Tepat pada 17 Desember 2022, aku mengirimkan ucapan yang telah kupersiapkan. "Selamat ulang tahun, Nesa Bogor! Semoga senantiasa sehat, sukses, dan bahagia. Doa terbaik dariku di Ponorogo yang gersang ini. ????"
Nesa: "Iya, terima kasih atas doanya, Daffa ????."
Daffa: "Sama-sama! Aku menanti ucapan darimu pada 4 April mendatang, ya. Bertepatan dengan bulan Ramadan."
Nesa: "Haha, iya. Berkah Ramadan, jangan sampai lupa sahur!"
Bulan-bulan setelah itu, komunikasi kami tidak benar-benar mati. Di antara sela-sela kesibukanku dan keheningan kota Bogor tempat ia tinggal, sesekali kami bertukar cerita singkat. Mulai dari keluh kesah mengenai hujan di Bogor yang kontras dengan panasnya Ponorogo, hingga pengiriman meme acak yang kerap memicu tawa. Aku tetap menjadi informan setianya, mengirimkan update terbaru tentang persaingan Martin dan Bastianini, meski ia hanya menanggapi dengan reaksi singkat. Bagiku, itu sudah cukup untuk menjaga status kami sebagai sahabat.
Namun, sebuah kepercayaan sering kali diuji bukan oleh badai yang besar, melainkan oleh angin sepoi-sepoi yang tidak kunjung datang. Saya merasa sangat yakin bahwa pada hari ulang tahun saya, 4 April 2023—yang bertepatan dengan pertengahan Ramadan—Nesa akan mengucapkan selamat secara spontan seperti tahun sebelumnya.
Pagi itu, setelah bersantap sahur dengan bubur sumsum khas Ponorogo, saya mengunggah status WhatsApp: "Alhamdulillah, bertambah usia di bulan puasa. Syukur ya Rabb, semoga bermanfaat. ????????" Jantung saya berdegup kencang menantikan reaksinya, sementara aroma tanah basah sisa gerimis menyusup melalui jendela kamar indekos.
Pukul 05.00 WIB, seusai menunaikan salat Subuh di masjid Ribaathu Adnin, saya memeriksa ponsel. Nesa telah melihat status tersebut—tanda centang biru telah menyala. Jantung saya berpacu lebih cepat, layaknya motor Bastianini saat melaju di lintasan lurus Sirkuit Mugello. Saya berharap notifikasi pesan muncul dengan kalimat, "Selamat ulang tahun, Ponorogo!" Namun, hasilnya nihil. Hanya keterangan "telah dilihat" yang terpampang di bawah status tersebut.
Rasa kecewa mulai terkumpul, menyerupai debu di tanah gembili Ponorogo. Saya mencoba menepisnya dengan berpikir positif, mungkin ia sedang sibuk atau sinyal di Bogor sedang memburuk. Meski demikian, rasa sesak itu tetap mengganjal.
Pukul 07.00 WIB, sebelum berangkat menuju SMK untuk melakukan Ujian Akhir Semester, saya memberanikan diri mengirim pesan. Sebuah dorongan ego yang ingin memastikan apakah frekuensi kami masih benar-benar selaras.
Daffa: "Tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukku, Nes? ????"
Pesan terkirim. Saya segera bersiap-siap dengan pikiran yang berkecamuk. Saya sangat berharap ia hanya sekadar lupa, bukan sengaja mengabaikan persahabatan online yang saya rawat dengan penuh ketekunan ini.
Bel pulang sekolah berbunyi pukul 11.00 WIB. Setibanya di rumah, saya langsung memeriksa ponsel. Tidak ada satu pun notifikasi darinya. Hati saya mulai goyah; apakah pertemanan ini hanya bersifat sepihak? Mengapa hanya saya yang selalu mengingat hari lahirnya dan rajin memberikan informasi terbaru mengenai persaingan Martin-Bastianini, sementara ia tampak tidak acuh?
Akhirnya, pada pukul 12.00 WIB, sebuah notifikasi muncul. Ibu jari saya langsung mengusap layar untuk membukanya.
Nesa: "Oh iya, selamat ulang tahun ya, Daffa! Semoga panjang umur, sehat selalu, dan rezeki lancar di bulan Ramadan ini."
Ada rasa lega yang bercampur dengan getir. Pesan itu datang terlambat dan tidak lagi terasa spontan karena harus "ditagih" terlebih dahulu. Setidaknya ia masih merespons.
Daffa: "Terima kasih, Nes! ????"
Nesa hanya membalasnya dengan reaksi jempol.
Saya membalas pesan itu dengan senyum tipis, namun renungan kembali melanda. Mengapa ucapannya terasa begitu berarti bagi saya? Apakah kekaguman saya padanya sebagai sesama (mantan) penggemar MotoGP telah berubah menjadi perasaan yang lebih dalam? Ataukah ini hanyalah sebuah kebiasaan yang sulit dilepaskan, ibarat memacu motor di sirkuit tanpa rem, sementara garis finisnya tak pernah benar-benar ada?
Setelah ucapan selamat ulang tahun darinya pada Desember 2022, hari-hariku kembali ke rutinitas semula. Ada jeda panjang yang membentang antara Desember hingga April 2023. Dalam rentang waktu itu, aku berusaha tetap menjadi sahabat online yang hadir tanpa mengganggu. Sesekali aku mengirimkan kabar tentang update mesin Ducati atau bagaimana Enea Bastianini mulai beradaptasi dengan tim pabrikan. Namun, respons Nesa tetap konsisten: singkat, dingin, dan sering kali hanya berupa reaksi emotikon. Ia seolah benar-benar telah memutus sirkuit minatnya terhadap Grand Prix sejak September 2021.
Memasuki awal 2023, frekuensi komunikasi kami semakin kehilangan ritmenya. Aku mulai merasa seperti seorang komentator balap yang berbicara di depan tribun kosong. Namun, status sebagai sahabat sefrekuensi—setidaknya dalam ingatanku—membuatku tetap bertahan. Aku percaya bahwa persahabatan ini layaknya sebuah balapan ketahanan (endurance race); tidak perlu melaju kencang di awal, yang penting konsisten hingga garis finis. Harapan itu aku simpan rapat-rapat hingga bulan kelahiranku tiba.
Daffa: "Tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukku, Nes? ????"
Pesan itu kukirimkan pada siang hari di tanggal 4 April 2023, setelah menunggu kepastian yang tak kunjung tiba sejak subuh. Meski ia membalas pada akhirnya, ada getir yang tersisa. Aku menyadari bahwa untuk mendapatkan perhatiannya, aku harus "menagihnya" terlebih dahulu. Hal itu membekas hingga setahun kemudian.
Memasuki tahun 2024, aku mencoba untuk bersikap lebih taktis. Aku ingin memberikan isyarat awal agar Nesa tidak lagi melupakan hari spesialku sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Desember 2023 di Ponorogo terasa sangat dingin menusuk tulang; angin yang berembus dari lereng Gunung Lawu membawa aroma tanah basah yang pekat. Aku memutuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu, berharap dapat menyalakan kembali tradisi ulang tahun yang mulai meredup di antara kami.
Sejujurnya, ketertarikanku pada Nesa melampaui logika biasa. Aku begitu fanatik menjaganya hanya karena ia adalah pendukung setia Jorge Martin. Sebagai penggemar berat Enea Bastianini, aku merasa hubungan kami adalah representasi persaingan di lintasan balap—menegangkan namun penuh daya tarik. Bagiku, mendapatkan perhatian dari seorang penggemar The Martinator adalah sebuah pencapaian yang setara dengan meraih podium pertama.
Daffa: "Nes, bulan ini kamu ulang tahun, kan? ????"
Nesa: "Iya, hehe"
Hatiku berdesir sejenak. Aku pun melanjutkan percakapan.
Daffa: "Tanggal 17?"
Namun, setelah pesan itu terkirim, hanya sepasang centang abu-abu yang menemani. Hingga keesokan siang, pesan tersebut belum juga dibaca. Rasa kesal mulai muncul, tetapi aku berusaha meredamnya. Aku mencoba menimpa pesan yang menggantung tersebut.
Daffa: "Nes, xixi"
Baru saat magrib tiba, ketika azan bergema dari masjid di dekat indekos, notifikasi muncul.
Nesa: "Iyaa"
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memberanikan diri bertanya langsung.
Daffa: "Kalau hari ulang tahunku, apakah kamu masih ingat?"
Lagi-lagi, hanya muncul dua centang abu-abu. Pesanku seolah ditelan bumi. Rasanya seperti sedang berjalan di atas tali tipis sirkuit—satu langkah yang salah akan membuat semuanya putus. Aku tidak berani mengejarnya lebih jauh karena takut terlihat terlalu berharap.
Tanggal 17 Desember 2023 akhirnya tiba. Meskipun pesan sebelumnya masih menggantung tanpa jawaban, aku tetap mengirimkan ucapan dengan tulus sebagai wujud menjaga persahabatan online kami. "Selamat ulang tahun, Nesa Bogor! Semoga tahun ini membawa banyak keajaiban dan kamu sehat selalu. ????????️"
Nesa: "Iya, terima kasih, Daffa ????"
Aku mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Daffa: "Ulang tahun yang keberapa ini? ????"
Nesa: "Ke-18."
Daffa: "Ooh"
Balasanku yang singkat itu langsung berubah menjadi centang biru—dibaca secara instan. Aku pun bertanya-tanya di dalam hati; mengapa untuk hal yang tidak terlalu penting ia merespons cepat, sementara pertanyaanku mengenai hari ulang tahunku justru ia abaikan? Pertanyaan itu terus berputar di kepala, membuat malam Desember terasa semakin panjang.
Aku mulai memikirkan strategi baru: bagaimana caranya agar Nesa tidak bersikap acuh tak acuh saat hari ulang tahunku pada 4 April 2024 nanti? Aku ingin ia mengirimkan pesan secara spontan saat melihat status WhatsApp milikku, tanpa perlu diingatkan berkali-kali. Aku ingin perhatiannya mengalir secara alami—seperti Bastianini yang selalu berhasil meraih podium tanpa perlu dipaksa; pasti, namun tetap tenang.
Tanggal 2 April 2024 tiba, menandai akhir Ramadan yang melelahkan di Ponorogo. Panas terik pada siang hari berganti menjadi dingin yang menusuk saat malam tarawih. Aku memutuskan untuk memberikan tanda jauh-jauh hari agar Nesa tidak melupakan momen pentingku lagi. Aku sadar, ketertarikanku padanya mungkin terlalu fanatik hanya karena alasan sederhana: Nesa adalah penggemar berat Jorge Martin, sedangkan aku adalah pendukung setia Enea Bastianini. Bagiku, perdebatan tentang siapa yang lebih unggul di lintasan balap adalah bumbu komunikasi yang selalu aku rindu, meski ia sudah lama tak menontonnya.
Daffa: "Tau ga Nes, bulan ini aku ultah"
Seperti dugaan, pesan tersebut hanya menunjukkan centang dua berwarna abu-abu. Keesokan harinya, pada 3 April, aku mengirimkan pesan pengingat kembali.
Daffa: "Masih ingat tidak, Nes?"
Hasilnya tetap sama. Pesan itu hanya terkirim tanpa dibalas, seperti pesan yang hilang ditelan sirkuit basah saat hujan mengguyur Bogor.
Tanggal 4 April, tepat pada hari ulang tahunku, aku mengunggah status WhatsApp: "Alhamdulillah, bertambah usia di akhir Ramadan. Syukur ya Rabb, semoga berkah. ????????". Aku menantikan notifikasi dari Nesa, namun hingga pukul 07.00, ia hanya melihat unggahan tersebut tanpa memberikan respons apa pun. Pesan pengingat dua hari sebelumnya pun masih belum mendapatkan jawaban.
Hari itu berlangsung rapat akbar persiapan pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) untuk esok hari. Frustrasi yang memuncak membuatku bercerita kepada Ibnu saat waktu istirahat.
Daffa: "Bro, percakapanku dengan Nesa hanya menunjukkan centang dua sejak 2 April. Ia melihat status ulang tahunku, tetapi tidak mengucapkan apa pun!"
Ibnu: "Wah, itu cukup parah, Daf. Bersabarlah, mungkin ia sedang sibuk dengan persiapan Lebaran keluarga di Bogor. Jangan berpikir terlalu jauh."
Ibnu: "Atau mungkin kamu saja yang terlalu banyak berharap? Haha."
Bahkan, status lanjutanku yang kuunggah saat magrib yang berisi ucapan, "Terima kasih atas ucapan dan doanya, semuanya!" pun hanya dilihat saja oleh Nesa.
Besoknya, tanggal 5 April, hari pelantikan Pengurus HMJ dimulai. Sebelum acara dimulai, aku mencoba mengirimkan pesan sekali lagi.
Daffa: "Nes, kamu belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku. ????
Sementara itu, acara serah terima jabatan sekaligus pelantikan pengurus HMJ terus berlangsung dengan khidmat. Namun, fokusku terbagi. Di sela-sela kesibukan organisasi, pikiranku tetap tertuju pada Nesa, sang pendukung Martin yang membuatku—si penggemar Bastianini ini—bertekuk lutut.
Acara selesai pukul 16.00, dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Dalam rangka mensyukuri hari ulang tahunku, aku membagikan cokelat Kalpa berkemasan warna biru kepada seluruh anggota HMJ. "Terima kasih, Daffa!" seru mereka ramai. Namun, hatiku tetap terasa hampa.
Malam harinya selepas tarawih, aku mengikuti kegiatan tadarus bersama pemuda Karang Taruna. Suara qari mengalunkan ayat-ayat suci, tetapi pikiranku melayang pada pesan yang menggantung sejak 2 April. Sudah tanggal 5 April—apakah ini akhir dari pertemanan kami? Tiba-tiba, saat tadarus usai dan aku berada di kamar rumah, ponselku bergetar.
Nesa: "Oh iya, selamat ulang tahun, ya, Daf. Aku sakit sejak kemarin. ????"
Perasaanku bercampur aduk antara kecewa dan lega. Aku segera membalasnya.
Daffa: "Iya, terima kasih, Nes. Semoga lekas sembuh."
Daffa: "Sebenarnya, dua hari sebelumnya aku sudah memberikan pengingat kepadamu."
Pesan terakhir itu? Kembali hanya menunjukkan centang dua hingga keesokan harinya. Pagi harinya, aku menceritakan hal itu kepada Ibnu.
Daffa: "Akhirnya ia membalas, Bro. Katanya ia sakit sejak kemarin."
Ibnu: "Alhamdulillah. Sabarlah, Daf. Perempuan terkadang memang seperti itu. Lain kali jangan terus mengirim pengingat, biarkan mengalir secara alami."
Sore harinya, Nesa baru membalas pesan terakhirku.
Nesa: "Iya, aku jarang membuka ponsel saat sedang sakit."
Daffa: "Oh, begitu. Semoga lekas pulih, Nes."
Aku merenung seorang diri. Ia mengaku jarang membuka ponsel, tetapi mengapa status ulang tahunku dilihat sejak pagi hari? Jika ia sakit, setidaknya apakah tidak ada inisiatif untuk mengucapkan secara langsung, apalagi aku sudah mengingatkannya berkali-kali? Aku menyadari bahwa frekuensi kami memang sudah tidak lagi sama. Aku masih memacu adrenalin di lintasan kenangan seperti Bastianini yang mengejar podium, sementara ia sudah memilih untuk parkir di pit stop Bogor dan menutup pintu rapat-rapat.
Setelah peristiwa ulang tahun pada April 2024 yang menyisakan getir karena harus terus diingatkan, hubungan kami justru mengalami anomali yang unik. Saat masa jabatanku sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di kampus Ponorogo memasuki masa akhir pada penghujung 2024, Nesa mulai sering berbagi cerita. Meski ia telah menegaskan tidak lagi mengikuti perkembangan MotoGP sejak September 2021, aku tetap memposisikan diri sebagai sahabat daring sefrekuensi. Bagiku, menjaga komunikasi ini adalah cara merawat benang merah rivalitas Martin-Bastianini yang pernah menyatukan kami di masa pandemi.
Puncaknya terjadi pada suatu sore di bulan September 2024, saat aku sedang sibuk mengurus program kerja Cermat Sastra untuk berbagi informasi terkait puisi dan cerpen. Nesa tiba-tiba mengirimkan pesan panjang yang tidak biasa.
Nesa: "Daf, aku ini kenapa ya? Aku sangat ceroboh..."
Ia bercerita bahwa akun Telegram miliknya diretas oleh oknum tidak bertanggung jawab karena ia lalai saat melakukan login di sebuah warnet di Bogor. Selain itu, dompetnya tertinggal di rumah saat ia menemani ibunya ke pasar, dan sempat ia sangka hilang dicuri. Aku membaca pesan itu sembari menggelengkan kepala, membayangkan kepanikan yang ia rasakan di tengah rintik hujan kota Bogor yang mungkin sedang syahdu.
Sejujurnya, kepedulianku yang berlebihan ini bukan sekadar solidaritas pertemanan biasa. Aku menyadari bahwa aku terlalu fanatik terhadap sosok Nesa hanya karena ia adalah penggemar berat Jorge Martin. Sebagai pendukung setia Enea Bastianini, debat kusir mengenai performa pembalap di lintasan justru menjadi pengikat yang membuatku terobsesi untuk tetap menjadikannya sahabat terdekat. Bagiku, Nesa adalah rival sekaligus pelabuhan cerita yang paling menarik, meski frekuensi minatnya pada balapan sudah lama padam.
Nesa: "Daf, aku sangat ceroboh, bukan? Dompetku hilang, dan akun Telegram-ku juga diretas. Aku sangat panik sekarang. ????"
Daffa: "Wah, apakah kamu serius, Nes? Apakah saat ini kamu dalam keadaan aman? Sudahkah kamu melapor kepada pihak berwajib?"
Nesa: "Aku sudah melapor, tetapi kecil kemungkinan dompet itu kembali. Untuk sementara, Telegram-ku nonaktif. Aku sangat bingung mengapa hal ini bisa terjadi."
Aku segera menghubunginya melalui telepon karena merasa tidak cukup hanya melalui pesan singkat. Suaranya terdengar cemas, napasnya memburu layaknya pembalap yang tengah bersiap di garis start.
Nesa (dengan suara pelan): "Daffa, aku sangat ceroboh, ya? Mengapa aku bersikap seperti anak kecil?"
Daffa (terkekeh pelan): "Tingkat kecerobohanmu memang cukup tinggi, Nes. Namun tenanglah, yang terpenting adalah keselamatanmu. Dompet bisa diganti dan akun bisa dipulihkan. Sudahkah kamu mengganti kata sandi untuk akun media sosial yang lain?"
Nesa: "Sudah. Itulah sebabnya aku bercerita kepadamu. Hanya kamu yang bisa aku andalkan saat ini. Teman-teman yang lain justru menertawakanku."
Hatiku terasa hangat. Dari sekadar pesan yang sering diabaikan, kini aku menjadi sosok yang paling diandalkan. Ini adalah pembuktian bahwa status sahabat sefrekuensi yang aku perjuangkan selama ini mulai membuahkan hasil.
Bulan-bulan berikutnya setelah insiden itu, frekuensi komunikasi kami stabil pada jalur yang lebih personal. Kami sering bertukar cerita tentang kesibukan masing-masing—aku dengan laporan pertanggungjawaban organisasi dan ia dengan kegiatannya di Bogor. Meski pembicaraan mengenai strategi ban atau power mesin Ducati sudah jarang disentuh karena ketidakpeduliannya lagi pada balapan, aku tetap merasa ia adalah "Martin" bagi "Bastianini"-ku.
Keakraban ini membuatku merasa bahwa tahun ini, tradisi ulang tahun kami tidak akan lagi terasa hambar atau dipaksakan. Aku ingin memastikan bahwa pada 17 Desember nanti, aku tetap menjadi orang pertama yang hadir untuknya, sekaligus menguji apakah ia sudah benar-benar menyimpan memoriku di kepalanya tanpa perlu aku tagih seperti tahun-tahun sebelumnya.
Memasuki 1 Desember 2024, sore hari di Ponorogo terasa begitu dingin menusuk tulang—angin yang bertiup dari arah Gunung Lawu membawa aroma tanah basah. Usai mengikuti rapat penutupan HMJ dan resmi menjadi demisioner, aku membuka aplikasi WhatsApp untuk memulai langkah awal menuju hari spesialnya.
Daffa: "Nes, bulan ini kamu berulang tahun, bukan? Tanggal 17 Desember?"
Nesa: "Iya, Daffa. ????"
Daffa: [Mengirim stiker motor MotoGP yang sedang melaju kencang] "Ingat, aku menunggu traktiran cokelat secara virtual!"
Nesa: "Haha, tentu aku ingat. Setiap tahun memang kamu yang paling rajin memberikan ucapan."
Daffa: "Tentu saja! Nah, jika ulang tahunku, apakah kamu ingat, Nes?"
Centang dua berwarna biru langsung muncul di layar. Kegelisahan mulai menyerangku sembari menanti kumandang azan Magrib. Aku bertanya-tanya, apakah ia benar-benar lupa atau sedang sibuk? Hingga pukul 22.00, ponselku tetap bergeming. Namun, kali ini aku tidak merasa sesak seperti April lalu. Aku merasa hubungan ini sudah berada pada tingkat pemahaman yang lebih baik.
Akhirnya, notifikasi berbunyi saat aku sedang berbaring mendengarkan siaran ulang balapan.
Nesa: "Bulan April, bukan? Aku mengingat bulannya, tetapi tanggalnya sedikit samar, haha."
Daffa: "Benar! Tanggal 4. Aku lahir pada 04-04-2004. Unik, bukan?"
Nesa: "Oh, tanggal yang cantik! Mirip nomor balapan. Akan aku catat dengan baik."
Daffa: "Yup."
Aku tersenyum menatap layar ponsel. Meskipun ia sudah tidak lagi menonton aksi para pembalap di sirkuit, setidaknya ia bersedia mencatat nomor "balapanku" di ingatannya. Aku berharap, pada April mendatang, frekuensi kami benar-benar selaras tanpa ada lagi keterlambatan di garis finish.
Tanggal 17 Desember 2024 akhirnya tiba. Di tengah dinginnya malam Ponorogo, saya mengirimkan ucapan dengan ketulusan yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. "Selamat ulang tahun, Nesa Bogor! Semoga segala hal terbaik selalu menyertaimu. Terima kasih telah menjadi sahabat yang sefrekuensi selama ini. ????????️"
Nesa: "Iya, terima kasih, Daffa. Kamu memang sahabat terbaik. ????"
Keesokan harinya, 18 Desember, saya mencoba mencairkan suasana dengan nada bercanda, menagih janji yang sempat ia ucapkan di awal bulan.
Daffa: "Aku tunggu ucapanmu pada 4 April mendatang, ya, Nes. Ingat, tanggal cantik!"
Nesa: "Iya, Daffa. Tenang saja."
Janji singkat itu membuat perasaan saya membuncah. Setelah melewati drama "penagihan" pada tahun-tahun sebelumnya, kini ada sebuah komitmen yang terasa lebih konkret. Saya merasa optimis bahwa tahun 2025 akan menjadi titik balik di mana frekuensi kami benar-benar selaras secara alami.
Bulan-bulan awal 2025 dilewati dengan komunikasi yang terasa lebih stabil. Kami sesekali masih bertukar cerita; saya menceritakan kesibukan pasca-organisasi di kampus, dan ia bercerita tentang rutinitasnya di Bogor. Meskipun setiap kali saya mengirimkan pembaruan mengenai rivalitas Martin dan Bastianini ia hanya menanggapi dengan reaksi emoji, saya tetap bertahan. Saya masih memegang teguh keinginan untuk menjaga hubungan ini sebagai sahabat online sefrekuensi. Bagi saya, Nesa adalah representasi dari "Martin" yang harus tetap ada agar "Bastianini" di dalam diri saya tetap memiliki alasan untuk terus memacu semangat.
Namun, mendekati bulan April, sebuah firasat aneh mulai muncul. Intensitas pesannya perlahan mulai menurun, persis seperti motor yang kehabisan bahan bakar di tengah lintasan. Saya berusaha menepis pikiran negatif, meyakinkan diri bahwa mungkin ia hanya sedang sibuk atau mempersiapkan kejutan kecil untuk tanggal 4 April nanti. Saya memilih untuk tidak mengirimkan pesan pengingat apa pun kali ini. Saya ingin membuktikan apakah catatan "nomor balap" yang ia janjikan dulu benar-benar tersimpan di ingatannya.
Tanggal 4 April 2025 akhirnya tiba. Tepat pukul 00.00 WIB, saya mengunggah status di WhatsApp: "Alhamdulillah, 21 tahun! Syukur ya Rabb atas nikmat usia, semoga kian bermanfaat bagi orang tua dan impian. Mohon doa terbaiknya. ????????". Cuaca panas terik di Ponorogo membuat aspal jalanan tampak mengkilap, namun hati saya justru terasa dingin saat menanti notifikasi yang tak kunjung muncul.
Dua puluh empat jam berlalu, dan kenyataan pahit menghantam saya: status tersebut bahkan tidak ia lihat sama sekali. Rasa kecewa mulai menumpuk layaknya debu di tangki motor yang lama terbengkalai. Saya menyadari bahwa selama ini saya mungkin terlalu fanatik, memuja sosoknya bukan hanya karena pribadinya, melainkan karena obsesi saya pada rivalitas idola kami di lintasan. Bagi saya, Nesa adalah sosok istimewa hanya karena ia pendukung setia Jorge Martin, sementara saya adalah penggemar berat Enea Bastianini. Namun, perbedaan pembalap idola yang awalnya menjadi bumbu manis ini, kini berubah menjadi rasa sesak yang hambar.
Pada 5 April, dengan sisa-sisa harapan yang hampir padam, saya mengirimkan tautan unggahan Instagram foto ulang tahun saya melalui pesan pribadi. "Nes, bolehkah bantu like? Hehe."
Nesa: "Selamat ulang tahun, Daffa! Semoga panjang umur, sehat selalu, dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin ????"
Saya menjawab dengan cepat, mencoba menutupi rasa getir: "Terima kasih, Nesa! Sebenarnya hari ulang tahunku kemarin, tetapi aku tetap merasa senang kamu ingat."
Nesa: "Iya, sama-sama ????"
Saya mencoba memancing percakapan lebih jauh dengan mengirimkan stiker motor yang sedang melaju kencang. Hasilnya? Hanya sepasang centang dua berwarna abu-abu yang membisu. Saya memeriksa Instagram, dan tetap tidak ada tanda suka darinya. Kecewa itu kian mendalam, rasanya persis seperti melihat Bastianini mengalami kecelakaan di tikungan terakhir saat podium sudah di depan mata.
Puncaknya pada 10 April, saya membagikan sebuah doa untuk diri sendiri di status WhatsApp demi mendapatkan ketenangan batin. "Semoga tahun ini menjadi pribadi yang lebih baik, dapat membahagiakan orang tua, dan meraih semua impian. Aamiin."
Nesa: "Aamiin yaa rabbal 'alamiin."
Stiker balasan yang saya kirimkan kali ini langsung berubah menjadi centang biru, menandakan ia sedang memegang ponselnya. Namun, suasana terasa sangat hampa. Tidak ada lagi komentar hangat atau candaan tentang traktiran cokelat. Frekuensi kami benar-benar sudah tidak selaras lagi. Sejak ia berhenti mengikuti perkembangan Grand Prix pada September 2021, perlahan-lahan jiwanya juga pergi dari sirkuit persahabatan ini.
Sesuatu di dalam dada saya hancur secara perlahan. Hal yang menyakitkan bukan sekadar ucapan yang terlambat, melainkan kesadaran bahwa sebuah ingatan tidak akan pernah lahir dari sebuah pengingat, melainkan dari kepedulian. Kepedulian tidak dapat dipaksa, sebagaimana seseorang tidak bisa memaksa mesin Ducati melaju kencang tanpa bahan bakar yang tepat. Dari grup WhatsApp yang dahulu penuh euforia hingga sesi curahan hati di Bogor, semuanya kini memudar menjadi sunyi. Inilah saatnya bagi saya untuk menarik rem dalam-dalam dan melepas tuas gas. Garis finis yang saya kejar ternyata tak pernah benar-benar ada.
Melewati April 2025 yang getir, aku berusaha melapangkan dada. Aku teringat kembali pada momen Desember lalu, saat Nesa berjanji akan mencatat "nomor balapku" di ingatannya. Nyatanya, janji itu menguap begitu saja. Ada jeda panjang yang tercipta antara hari ulang tahunku di bulan April menuju hari-hari setelahnya. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin kesibukan di Bogor telah menyita seluruh fokusnya, hingga ia lupa bahwa ada seorang sahabat di Ponorogo yang masih setia menjaga mesin persahabatan ini tetap hangat.
Memasuki bulan Mei dan Juni, komunikasi kami benar-benar berada di titik nadir. Aku tidak lagi menggebu-gebu mengirimkan hasil balapan atau klasemen terbaru, menyadari bahwa output yang kuterima hanyalah balasan singkat atau sekadar emoji yang terasa hambar. Aku mulai menyadari sebuah realitas pahit: meski aku tetap memposisikan diri sebagai sahabat daring sefrekuensi, Nesa sudah benar-benar keluar dari lintasan yang sama sejak September 2021. Obsesiku pada rivalitas Martin-Bastianini hanyalah bahan bakar yang kubakar sendirian, sementara sirkuitnya sudah lama ditutup.
Puncaknya terjadi pada pagi hari, 1 Juli 2025, sekitar pukul 05.30 WIB. Saat sedang membalas pesan di grup WhatsApp perihal perbaikan saluran air yang tersumbat, tiba-tiba muncul pemberitahuan yang mengejutkan: "Akun WhatsApp Anda telah diblokir sementara karena terdeteksi melakukan spam." Dalam kondisi panik karena banyak urusan pasca-organisasi yang harus diselesaikan, aku segera beralih ke Instagram. Aku mengirimkan tangkapan layar tersebut melalui Direct Message (DM) kepada Nesa. Di tengah kepanikan itu, dia adalah orang pertama yang terpikirkan olehku—sosok yang dahulu pernah kubantu saat akun Telegram-nya diretas. Aku berharap ia bisa memberikan saran atau setidaknya sedikit empati.
Daffa: "Nes, akun WhatsApp-ku terblokir seperti ini. Apakah kamu pernah mengalaminya? Aku sangat panik."
Beruntung, setelah melalui proses pemulihan yang melelahkan, akun WhatsApp-ku kembali normal pada waktu Magrib. Namun, pesanku kepada Nesa di Instagram masih membisu tanpa tanggapan. Hari berganti minggu, namun tidak ada satu pun balasan yang masuk. Rasa khawatir yang bercampur dengan kekesalan mulai muncul. "Mungkin ia sedang sibuk atau terkendala cuaca di Bogor," gumamku sembari menyalakan kipas angin di kamar indekos yang terasa pengap.
Pada tanggal 4 Agustus 2025, di tengah cuaca kemarau yang semakin menyengat, aku kembali mengirimkan pesan untuk mengabarkan bahwa kendala tersebut telah teratasi, sekaligus memancing percakapan agar hubungan ini tidak benar-benar mati. Tetap saja, pesan itu hanya berakhir sebagai tumpukan teks yang tidak tersentuh.
Kecurigaan kian menguat saat aku melihat status WhatsApp-nya aktif dan unggahan ceritanya di Instagram terus diperbarui. Ia bahkan melihat unggahan ceritaku, namun DM dariku sama sekali tidak dibalas. Aku mulai bertanya-tanya, apakah akunku sengaja dibatasi atau justru ia sudah tidak lagi menganggapku ada dalam radarnya?
Pada titik itulah, batas kesabaranku mencapai puncaknya. Aku merasa lelah menghadapi sikap Nesa yang kini terasa begitu abai. Aku menyadari bahwa selama ini aku terlalu fanatik dan menaruh harapan berlebihan. Aku terlalu memuja kesamaan hobi menonton MotoGP masa lalu, padahal ia sudah melaju ke arah yang berbeda. Selama tiga tahun berturut-turut, ia tidak pernah benar-benar tulus berinisiatif mengingat ulang tahunku tanpa perlu dipancing, meski ia pernah berjanji untuk mencatatnya.
Diskusi mengenai balapan yang dahulu penuh euforia kini benar-benar memudar menjadi ilusi. Aku merasa hanya dipermainkan, layaknya pembalap cadangan yang hanya dicari saat tim membutuhkan bantuan atau sekadar pelampiasan cerita saat ia sedang ceroboh. Kini, aku memutuskan untuk berhenti mengejar frekuensi yang tidak lagi sama. Aku menarik rem sedalam-dalamnya, mematikan mesin, dan memilih untuk fokus pada lintasan hidupku sendiri tanpa perlu menoleh lagi ke spion masa lalu.
Memasuki pertengahan Desember 2025, aroma tanah basah setelah hujan di Ponorogo membawa ingatan saya kembali pada siklus tahunan yang melelahkan. Tanggal 17 Desember sudah di depan mata. Biasanya, pada saat seperti ini, saya sudah sibuk menyiapkan ucapan paling tulus atau stiker motor paling estetik untuk Nesa. Namun, bayang-bayang kegagalan frekuensi pada April lalu—saat ia bahkan tidak melihat status ulang tahun saya—menjadi pengingat pahit. Janjinya untuk mencatat "nomor balap" saya ternyata hanyalah lip service tanpa makna.
Saya merenung di kamar, menatap layar ponsel yang masih menampilkan tumpukan pesan tak berbalas di DM Instagram sejak bulan Juli. Hubungan ini terasa semakin tidak sehat. Di satu sisi, saya begitu terobsesi merawat benang merah sebagai sahabat daring sefrekuensi. Di sisi lain, Nesa justru semakin menunjukkan sikap yang sulit dikompromi dan tidak amanah terhadap janjinya sendiri. Setiap kali topik pembicaraan menjurus ke arah pengingat ulang tahun atau komitmen pertemanan, ia seolah bermanuver menghindar, persis pembalap yang sengaja keluar jalur demi menghindari kontak fisik.
Hingga pada suatu malam di penghujung November, sebuah notifikasi muncul dari Gibran, rekan lama di grup komunitas MotoGP yang dahulu juga diam-diam menaruh hati pada Nesa.
Gibran: "Daf, aku baru dapat kabar. Nesa sudah memiliki pacar di Bogor. Aku menanyakannya langsung dan dia mengonfirmasinya."
Mendengar kabar itu, anehnya, tidak ada ledakan emosi yang hebat. Saya justru merasa ada beban yang terangkat dari pundak. Kabar itu menjadi jawaban logis mengapa selama ini pesan saya dianggap angin lalu. Ternyata, selama saya berjuang sendirian menjaga mesin persahabatan ini tetap hangat, Nesa sudah membangun sirkuit baru dengan orang lain.
Batin saya bergejolak, melakukan evaluasi besar-besaran: Untuk apa saya menggantungkan nasib dan perasaan pada sosok yang bahkan sudah tidak mengikuti perkembangan MotoGP sejak September 2021? Nesa bukan lagi "Martin" bagi "Bastianini"-ku. Ia adalah orang asing yang kebetulan memiliki memori masa lalu yang sama. Kesabaran saya sudah mencapai batas limit. Saya menyadari bahwa kepedulian tidak bisa dipaksakan, dan sebuah hubungan yang tidak setara hanya akan membuat saya terus tertinggal di garis belakang.
Akhirnya, saya mengambil keputusan sunyi untuk melakukan unfollow pada akun Instagram miliknya. Melepas tuas gas di lintasan lurus terakhir ini terasa berat, namun sangat melegakan demi keadilan bagi diri sendiri. Saya memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari obsesi pertemanan daring ini. Saya mulai mengalihkan fokus pada dunia nyata: mengutamakan ibadah wajib dan sunnah agar lebih khusyuk, mengejar kualitas akademik sebagai mahasiswa tingkat akhir, serta meluangkan lebih banyak waktu berkualitas bersama orang tua.
Produktivitas saya meningkat pesat setelah berhenti mengecek layar ponsel hanya untuk menanti centang biru darinya. Saya belajar bahwa tidak semua frekuensi harus dipertahankan hingga akhir hayat. Ada kalanya, kita harus berani menarik rem dalam-dalam dan memarkirkan motor di area pit stop selamanya.
Desember 2025 ini menjadi saksi bahwa saya tidak lagi mengirimkan ucapan ulang tahun untuknya. Ini bukan bentuk dendam atau amarah, melainkan bentuk harga diri. Saya memilih untuk menutup buku tentang Nesa Bogor dan mulai membuka lembaran baru, bersiap menjemput jodoh yang benar-benar satu frekuensi—tanpa paksaan, tanpa drama, dan dengan kesiapan penuh di lintasan hidup yang lebih nyata.
Kegagalan frekuensi pada April 2025 menjadi tamparan keras yang menyadarkan saya. Janji Nesa untuk mencatat "nomor balap" saya—tanggal lahir 4 April—hanya menjadi isapan jempol. Saya menyadari bahwa sejak September 2021, Nesa memang sudah benar-benar keluar dari lintasan MotoGP, dan bersamanya, ia juga meninggalkan kepedulian terhadap ritual persahabatan kami. Upaya saya menjalin hubungan sebagai sahabat daring sefrekuensi selalu terbentur pada sikapnya yang sulit dikompromi dan tidak amanah terhadap janji. Setiap kali saya mencoba membawa percakapan ke arah komitmen pertemanan atau sekadar menyinggung hari ulang tahun, ia bermanuver menghindar, membiarkan pesan saya membisu dalam sunyi.
Agustus 2025 akhirnya tiba. Cuaca panas kemarau di Ponorogo terasa menyengat hingga seolah membuat aspal meretak, namun suasana hati saya justru terasa tenang saat memasuki semester lima. Seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti program Magang 1 mulai tanggal 4 Agustus hingga 5 September 2025 di berbagai sekolah lokal. Saya mendapatkan penempatan di SMA Negeri 2 Ponorogo. Fokus utama Magang 1 ini adalah melakukan observasi lingkungan sekolah, bukan praktik mengajar. Kesibukan tersebut membuat saya jarang membuka media sosial; ponsel kini lebih sering digunakan untuk mengabadikan momen di kantin sekolah atau mencatat ide tugas. Fokus saya sepenuhnya tercurah pada adaptasi dan peningkatan keterampilan baru setiap hari.
Setelah program Magang 1 berakhir pada 5 September 2025, saya kembali ke kampus pada 8 September 2025 dengan semangat yang berbeda. Kampus menyambut dengan embusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma kopi dari kantin dan riuh tawa mahasiswa baru. Langkah saya terasa sangat ringan. Untuk pertama kalinya, saya mampu menjadi diri sendiri tanpa bayang-bayang Nesa, tanpa harus menanti centang biru di aplikasi pesan, atau terjebak dalam drama hari ulang tahun yang melelahkan. Saya tidak perlu lagi menagih janji atau membuktikan loyalitas; saya hanya ingin menikmati momen perkuliahan, berinteraksi dengan teman-teman, dan menjalani hidup dengan semestinya.
Di dalam kelas, kepribadian saya berubah total. Dahulu, saya adalah sosok yang sering menyendiri di sudut ruangan sembari terus memantau WhatsApp demi menunggu balasan dari Bogor. Kini, saya menjadi jauh lebih aktif dalam diskusi kelompok dan sering bercanda bersama Ibnu serta teman-teman lainnya. Ternyata, lingkungan pertemanan di kampus sangat menyenangkan; mulai dari belajar bersama di perpustakaan hingga larut malam, hingga berdiskusi mengenai perkembangan terbaru MotoGP di warung kopi tanpa beban sedikit pun. Pertemanan di dunia nyata terasa lebih masif, hangat, dan bermakna dibandingkan sekadar interaksi virtual.
Saya pun menyadari betapa konyolnya masa lalu, saat saya begitu fanatik mengejar Nesa hanya karena ia adalah penggemar Jorge Martin. Sebagai penggemar Enea Bastianini, dahulu saya merasa perbedaan itu adalah tantangan yang harus disatukan, namun kini saya sadar bahwa kefanatikan itu telah membutakan logika. Saya telah memperbarui manajemen diri saya, menyadari bahwa output dari sebuah hubungan haruslah seimbang.
Hidup kini terasa lapang, ibarat motor Ducati yang melaju kencang di lintasan kosong tanpa rival yang menghalangi. Nesa kini hanyalah sebuah bab lama dalam cerita penggemar MotoGP tahun 2020. Sekarang adalah bab baru: tentang pertemanan yang nyata dan pertumbuhan pribadi. Saya siap menjemput jodoh yang benar-benar berada dalam satu frekuensi di titik pemberhentian yang tepat, tanpa perlu lagi memaksakan mesin yang sudah lama mati.
Malam itu, Ponorogo kembali diguyur hujan deras. Aroma tanah basah yang menyeruak ke dalam kamar indekos membawa suasana reflektif, namun kali ini tanpa rasa sesak. Aku menatap layar ponsel, melihat daftar kontak komunitas daring penggemar MotoGP yang sempat aku abaikan karena terlalu sibuk mengejar bayang-bayang Nesa. Aku menyadari betapa kelirunya aku selama ini; mengisolasi diri demi seseorang yang sejak September 2021 bahkan sudah tidak peduli pada deru mesin di lintasan.
Nesa memang sudah benar-benar keluar dari sirkuit yang sama. Keinginanku untuk menjadikannya sahabat daring sefrekuensi hanyalah upaya sepihak yang melelahkan. Ia terlalu sulit diajak kompromi dan tidak amanah terhadap janjinya sendiri. Setiap kali aku mencoba masuk ke frekuensi yang lebih personal, seperti menyinggung komitmen pertemanan atau sekadar menagih janji ucapan ulang tahun, ia selalu bermanuver menghindar, seolah takut terjepit di tikungan tajam.
Dengan kemantapan hati setelah melakukan unfollow dan berhenti berharap, aku membuka kembali grup komunitas yang lama senyap. Aku mengetikkan pesan: "Halo semuanya, apakah para penggemar Ducati masih aktif di sini? Maaf aku sempat menghilang."
Seketika, ruang obrolan itu menjadi riuh. Ternyata mereka masih ada—para penggemar sejati yang kini menjadi keluarga baru bagiku: Rafli, Imam Mukti, Nur, Alfiyah, Albani Topan, Wildan Dzaky, Anggun, Icha, Iqbal, Ihsan, Ibra, Satya, Akbar, Gibran, Faiz, Putra Pratama, Annas, dan masih banyak lagi.
Rafli: "Wah, sang legenda 'Bastianini Ponorogo' akhirnya turun gunung! Dari mana saja kamu, Daf? Sepertinya habis tersesat di sirkuit lain?"
Gibran: "Dia baru saja menyelesaikan balapan panjang yang melelahkan, Raf. Selamat datang kembali di frekuensi yang benar, Daf!"
Wildan Dzaky: "Bastianini selamanya! Omong-omong, kamu ketinggalan banyak info eksklusif gara-gara off-track terlalu lama."
Melihat sambutan hangat itu, hatiku terasa ringan. Inilah frekuensi yang sebenarnya; tanpa paksaan dan tanpa drama pengingat yang diabaikan. Aku pun menerima beberapa pesan pribadi (private chat) dari mereka yang penasaran.
Imam Mukti: "Daf, aku serius, kamu harus aktif lagi. Rumor soal Toprak Razgatlıoğlu yang bakal naik ke kelas MotoGP tahun 2026 makin kencang. Jangan sampai kamu kuper lagi."
Daffa: "Siap, Mam! Aku sedang memperbarui manajemen diriku. Tidak akan ada lagi waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak seimbang. Siapa jagoanmu musim depan?"
Imam Mukti: "Tetap setia pada squad Ducati, tapi aku penasaran bagaimana Martinator musim depan. Apakah kamu masih memantau perkembangannya?"
Aku tersenyum kecut membaca nama Martin. Dahulu, aku begitu fanatik pada Nesa hanya karena dia pendukung Jorge Martin. Kefanatikan itu membutakan logika saya hingga menganggap perbedaan idola adalah bumbu persahabatan, padahal kenyatannya, Nesa bahkan tidak pernah benar-benar menoleh padaku sebagai sahabat yang setara.
Daffa: "Aku tetap dukung 'The Beast' Enea Bastianini, Mam. Untuk 'Martin', biarlah dia balapan di lintasannya sendiri. Aku sudah menarik rem dalam-dalam untuk urusan itu. Sekarang fokusku adalah menikmati balapan dan dunia nyata."
Kini, aku menyadari betapa luasnya sirkuit pertemanan ini jika aku tidak terpaku pada satu orang yang abai. Aku tidak lagi merasa perlu membuktikan loyalitas pada seseorang yang tidak amanah. Di tengah riuhnya diskusi tentang strategi ban dan output mesin Ducati di grup, aku merasa telah kembali ke garis start yang tepat. Bab tentang Nesa sudah benar-benar tertutup; kini saatnya memacu semangat di lintasan hidup yang lebih masif dan nyata.
Keputusan untuk menarik rem dalam-dalam dari kehidupan Nesa ternyata memberikan ruang napas yang jauh lebih lega. Kesadaran ini menuntun saya untuk menoleh kembali pada jalur-jalur pertemanan yang selama ini terbengkalai. Saya teringat kepada sahabat masa SMP saya di Ponorogo, Rofiq. Dahulu, kami memiliki frekuensi yang sangat selaras; mulai dari membedah narasi film-film karya Christopher Nolan, bertukar daftar putar musik indie, hingga berdiskusi mengenai buku-buku Haruki Murakami. Tanpa ragu, saya segera mengirimkan pesan melalui WhatsApp kepadanya.
Daffa: "Ro, apa kabar? Masih ingat dengan Daffa yang dulu sering mengajakmu bolos les demi menonton film?"
Rofiq: "Daffa?! Subhanallah, ke mana saja kamu selama setahun terakhir ini? Kita benar-benar lost contact total! Aku kira kamu sudah pindah planet bersama pembalap favoritmu itu."
Daffa: "Haha, maaf, Ro. Saya terjebak dalam balapan yang salah. Terlalu sibuk mengejar bayang-bayang di sirkuit imajiner sampai melupakan sirkuit yang nyata. Bagaimana kabarmu?"
Rofiq: "Sibuk kerja sambil kuliah, cukup melelahkan tapi menyenangkan. Kapan kita bisa ngopi? Ayo berbincang di warung kopi dekat sekolah dasar kita dahulu! Aku ingin dengar cerita kenapa 'Bastianini Ponorogo' ini menghilang."
Daffa: "Setuju! Minggu depan saya ada waktu luang setelah urusan kampus selesai. Siapkan semua ceritamu."
Sembari meletakkan ponsel, saya merenung. Ternyata, selama ini kefanatikan saya terhadap Nesa telah mengaburkan logika. Hanya karena ia adalah penggemar berat Jorge Martin, saya—sebagai pendukung setia Enea Bastianini—berusaha terlalu keras untuk masuk ke dalam dunianya. Saya memaksakan diri menjadi sahabat daring sefrekuensi bagi seseorang yang sejak September 2021 bahkan sudah tidak peduli pada starting grid.
Saya menyadari betapa sia-sianya upaya saya menghadapi Nesa yang begitu sulit diajak kompromi. Ia tidak pernah amanah terhadap janjinya untuk mencatat "nomor balap" saya. Setiap kali percakapan di WhatsApp mulai menyentuh topik pengingat ulang tahun atau komitmen persahabatan, ia bermanuver menghindar secara lihai, meninggalkan saya dalam ketidakpastian yang getir. Obsesi saya pada rivalitas Martin-Bastianini telah membuat saya abai terhadap keluarga baru di kampus, melupakan sahabat setia seperti Rofiq, bahkan melewatkan waktu berkualitas bersama orang tua.
Sekarang, manajemen diri saya telah pulih. Hidup terasa lebih seimbang tanpa perlu menagih perhatian dari seseorang yang sudah lama keluar dari lintasan yang sama. Meskipun euforia di grup WhatsApp komunitas MotoGP tetap berjalan, pertemanan di dunia nyata kini menjadi prioritas utama. Saya tidak lagi menjadi pembalap yang mengejar lap time pada frekuensi yang sudah mati; saya adalah Daffa yang sedang menikmati setiap tikungan hidup di lintasan yang sebenarnya.
Setelah melepaskan segala hal yang berkaitan dengan Nesa, saya kembali fokus pada akar kehidupan saya—keluarga. Malam-malam di Ponorogo yang dingin pada penghujung tahun 2025 kini saya habiskan bersama Ibu, Bapak, dan adik di ruang tamu sederhana kami. Aroma sambal terasi buatan Ibu menguar dari dapur, memberikan rasa hangat yang nyata. Makan malam bersama telah menjadi ritual tetap: menikmati nasi goreng kampung, menceritakan pencapaian akademik saya di semester lima, hingga mendengarkan adik yang memamerkan nilai matematikanya, sembari kami menonton siaran ulang balapan lawas di televisi.
Dahulu, saya menyadari betapa konyolnya diri ini yang terlalu fanatik mengejar Nesa. Hanya karena ia penggemar berat Jorge Martin, saya—yang merupakan pendukung setia Enea Bastianini—berusaha keras menyamakan frekuensi agar terlihat serasi sebagai sahabat daring. Saya sempat terjebak dalam delusi bahwa perbedaan idola adalah bumbu persahabatan, padahal kenyataannya, sejak September 2021 ia bahkan sudah tidak peduli lagi pada perkembangan MotoGP. Upaya saya untuk menjadi sahabat sefrekuensi selalu terbentur pada sikapnya yang sulit diajak kompromi dan tidak amanah. Setiap kali topik obrolan di WhatsApp mengarah pada pengingat ulang tahun atau komitmen pertemanan, ia selalu bermanuver menghindar, meninggalkan saya dalam ketidakpastian yang melelahkan.
Suatu malam, saat kami sedang bersantai, Ibu memberikan komentar sembari tersenyum lebar.
Ibu: "Daffa, Ibu senang sekali melihatmu sekarang lebih sering berada di rumah. Dahulu, kamu seperti sedang melakukan touring tanpa tujuan; selalu sibuk dengan ponsel dan menunggu kabar dari teman di Bogor itu."
Daffa: "Iya, Bu. Saya sudah melakukan evaluasi besar-besaran. Ternyata selama ini saya hanya mengejar bayang-bayang. Nesa tidak pernah amanah dengan janjinya, bahkan sering menghindar kalau saya ingatkan soal komitmen pertemanan kami."
Bapak: "Baguslah kalau kamu sadar, Daf. Output dari sebuah hubungan itu harus seimbang. Kalau cuma kamu yang berjuang menjaga mesin tetap panas sementara dia sudah keluar dari lintasan, ya kamu hanya akan membuang bahan bakar percuma."
Adik: "Benar, Kak! Sekarang Kakak tidak lagi galau menanti centang biru setiap malam. Ayo, lebih baik kita main kartu saja!"
Bapak (tertawa): "Fokuslah pada kualitas akademikmu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Nanti, jemputlah jodohmu di dunia nyata saja, yang benar-benar satu frekuensi dan tidak penuh drama."
Tawa riuh memenuhi ruang tamu. Saya belajar bahwa hidup terlalu singkat untuk dihabiskan demi mengejar satu frekuensi yang dipaksakan. Meski satu bab tentang Nesa telah tertutup—persaingan imajiner antara Martin dan Bastianini dalam hidup saya kini telah usai—tumbuh seribu hal baru: pertemanan yang tulus di kampus, relasi yang nyata dengan sahabat lama, dan ruang bagi cinta baru yang benar-benar siap berada di garis start yang sama dengan saya. Saya telah memarkirkan motor di pit stop selamanya untuk urusan Nesa, dan kini siap memacu gas menuju masa depan yang lebih bermakna.
Tanggal 17 Desember 2025 akhirnya tiba. Pagi di Ponorogo terasa dingin menusuk tulang; angin dari Gunung Lawu bertiup kencang membawa aroma khas sate keliling yang menggugah selera. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2019—bahkan sebelum era grup percakapan MotoGP terbentuk—saya sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nesa. Keputusan ini bukan didasari oleh rasa dendam, melainkan sebuah bentuk konsistensi terhadap prinsip harga diri dan hasil evaluasi besar-besaran yang telah saya lakukan.
Di meja makan, Ibu menyajikan kopi hangat dan jadah goreng. Bapak yang sedang membaca koran digital menoleh ke arah saya yang tampak tenang, tidak lagi gelisah mengecek ponsel seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bapak: "Daf, ini tanggal 17, kan? Biasanya kamu sudah seperti pembalap yang sedang warming up, sibuk menyiapkan ucapan untuk temanmu yang di Bogor itu."
Daffa: "Sudah tidak lagi, Pak. Mesinnya sudah saya matikan total. Saya sadar, buat apa saya berjuang menjaga frekuensi sendirian sementara dia sudah keluar dari lintasan sejak September 2021?"
Ibu (sambil meletakkan piring): "Baguslah, Le. Ibu lebih suka melihatmu sarapan dengan tenang begini daripada melihatmu melamun menunggu balasan pesan yang tidak kunjung datang."
Daffa: "Iya, Bu. Nesa itu orangnya memang susah diajak kompromi dan tidak amanah. Janji mau mencatat nomor balap saya saja hanya jadi lip service. Kalau saya singgung soal komitmen pertemanan atau ulang tahun, dia selalu bermanuver menghindar. Sekarang, saya lebih pilih memberikan perhatian pada orang-orang yang menghargai saya."
Alih-alih mengirim pesan ke Bogor, saya memilih untuk menghubungi Imam Mukti, rekan di komunitas yang kebetulan merayakan ulang tahun pada tanggal yang sama.
Daffa: "Mam! Selamat ulang tahun, kawan! Semoga Rueda terus meraih podium di Moto3 musim depan. Traktir kopi secara virtual, ya! ????️????"
Imam Mukti: "Terima kasih banyak, Daf! Amin, Rueda memang sedang dalam performa terbaik. Kamu tetap setia dukung 'The Beast' Enea Bastianini, kan? Mantap!"
Daffa: "Tentu saja! Frekuensi MotoGP selamanya. Selamat memasuki usia ke-26!"
Percakapan seru tersebut saya jadikan status WhatsApp dengan takarir: "Selamat ulang tahun sahabat sefrekuensi MotoGP! ????✨". Tak lama kemudian, saya melihat nama Nesa muncul di daftar penonton status saya. Namun, seperti yang sudah saya prediksi, ia tetap bergeming. Tidak ada reaksi, tidak ada pesan masuk, benar-benar sunyi.
Dahulu, saya begitu fanatik mengejar Nesa hanya karena ia penggemar Jorge Martin. Sebagai pendukung Enea Bastianini, saya sempat terjebak delusi bahwa perbedaan idola ini adalah bumbu persahabatan yang estetis. Namun, kenyataannya jauh berbeda. Fanatisme itu sempat membutakan logika saya hingga saya mengabaikan betapa tidak seimbangnya hubungan kami. Nesa bahkan sudah tidak tahu siapa yang memenangkan sprint race terakhir, sementara saya masih berusaha menganggapnya sebagai sahabat daring sefrekuensi.
Kini, memasuki masa akhir semester lima setelah melewati pengalaman Magang 1 yang berkesan di SMA Negeri 2 Ponorogo, saya merasa jauh lebih lapang. Manajemen diri saya telah pulih. Fokus saya kini adalah menyelesaikan tugas akhir, menjaga kualitas ibadah, dan menikmati setiap momen nyata bersama keluarga. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari validasi satu orang yang abai, melainkan dari mereka yang benar-benar hadir.
Saya kini lebih menghargai dukungan dari teman-teman komunitas MotoGP yang sejati. Di dalam grup, frekuensi saya terasa jauh lebih hidup saat berinteraksi dengan Rafli, Nur, Alfiyah, Albani Topan, Wildan Dzaky, Anggun, Icha, Iqbal, Ihsan, Ibra, Satya, Akbar, Gibran, Faiz, Putra Pratama, Annas, dan masih banyak lagi. Bersama mereka, diskusi mengenai strategi ban atau perpindahan pembalap terasa begitu masif dan hangat tanpa ada drama pengingat yang diabaikan.
Saya tidak lagi menjadi pembalap yang memaksakan output mesin pada lintasan yang sudah tertutup. Nesa adalah bab lama yang telah saya parkirkan di pit stop kenangan secara permanen. Saya siap membuka lembaran baru, memacu gas di lintasan hidup yang lebih nyata, dan menjemput jodoh yang benar-benar satu frekuensi tanpa perlu lagi ada drama atau janji-janji yang tidak amanah.
Kedewasaan dimulai saat kita berhenti memaksakan kesamaan pada hal-hal yang memang ditakdirkan berbeda. Sebab, frekuensi yang dipaksakan hanya akan menghasilkan kebisingan, sedangkan penerimaan diri akan melahirkan harmoni.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
