Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jhoanneva Aurellia

Ketika Anggota Baru Merasa Tidak Memiliki Ruang Bicara

Humaniora | 2026-01-12 23:52:29

Saat pertama kali mengikuti rapat di organisasi, tidak sedikit dari kita yang merasa bingung ingin mengatakan apa. Bukan karena kita tidak memiliki pendapat, tetapi karena ada semacam dinding tak kasat mata yang membuat kita memilih untuk diam. Rasanya seperti masuk ke ruangan yang sudah penuh dengan orang-orang yang sudah saling kenal, sudah punya bahasa mereka sendiri, dan kita hanya bisa menjadi penonton.

Di rapat pertama, anggota lama dengan percaya diri menyampaikan pendapat, ikut berdebat, bahkan bercanda. Sementara kita? Sibuk berpikir, “Apakah kita boleh berbicara? Kalau salah bagaimana? Mereka pasti lebih paham.” Akhirnya kita memilih untuk main aman dengan cara diam, fokus mendengarkan, dan hanya mengangguk-angguk.

Bukan semata-mata karena malu atau kurang percaya diri. Ini tentang kita yang belum paham “aturan main” di dalam sana. Kita belum tahu istilah-istilah yang mereka pakai, belum memahami sejarah keputusan-keputusan sebelumnya, belum tahu siapa yang biasa berbicara duluan atau siapa yang pendapatnya paling didengar. Jadi daripada salah langkah, lebih baik diam dulu.

Ada istilah dalam ilmu komunikasi yang disebut Co-Cultural Theory. Sederhananya, teori ini menjelaskan bagaimana kelompok yang kurang dominan berkomunikasi dengan kelompok yang dominan. Dalam konteks organisasi, anggota baru berada di posisi yang kurang dominan. Kita lebih sering mengalah, diam, menurut, dan tidak ingin membuat masalah.

Masalahnya, kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, anggota baru tidak akan pernah merasa memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat. Ide-ide baru yang seharusnya bisa jadi terobosan justru terpendam. Organisasi jadi kehilangan perspektif baru yang sebenarnya bisa membuat mereka berkembang.

Yang perlu diingat adalah diam bukan berarti setuju. Diam bukan berarti tidak peduli. Kadang diam itu hanya karena kita belum diberi ruang yang cukup nyaman untuk berbicara.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang aktif menciptakan ruang untuk semua anggotanya, termasuk anggota baru. Caranya bisa sederhana: tanya langsung pendapat mereka, apresiasi pertanyaan dan pendapat mereka sekecil apapun, atau buat sesi khusus di mana semua orang punya kesempatan yang sama untuk berbicara tanpa takut dihakimi. Oleh karena itu, tanggung jawab organisasi adalah memastikan tidak ada yang merasa terpinggirkan.

Karena pada akhirnya, organisasi tumbuh bukan hanya dari suara yang paling keras atau yang paling lama di sana, tetapi dari keberagaman suara yang dihargai, termasuk suara mereka yang baru saja datang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image