Mengapa Influencer Lebih Dipercaya daripada Media Massa di Era Media Sosial?
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-12 20:29:39
Source : instagram/ferryirwandi
Di era media sosial, arus informasi mengalir sangat deras dan terbuka. Platform-platform digital memungkinkan siapa saja memperoleh informasi dengan cepat sekaligus menjadi ruang bebas untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat. Namun, bagaimana sikap publik dalam menyaring dan menerima informasi tersebut? Respons setiap individu berbeda-beda. Ada yang memiliki literasi digital tinggi sehingga mampu menggunakan media sosial secara kritis dan bijaksana, tetapi ada pula yang kurang selektif.
Sumber informasi publik kini tidak lagi didominasi media massa konvensional. Influencer dengan niche keahlian masing-masing turut menjadi penyampai informasi yang berpengaruh. Contohnya, Dr. Tirta yang membangun branding sebagai dokter kesehatan masyarakat. Apa yang disampaikan Dr. Tirta sering memengaruhi keputusan dan perilaku kesehatan pengikutnya. Influencer seperti inilah yang berperan sebagai opinion leader digital sosok yang memiliki kemampuan memengaruhi opini, sikap, dan keputusan orang lain.
Influencer berfungsi layaknya jembatan antara media massa dan publik. Informasi dari media massa diolah kembali oleh influencer dengan interpretasi dan sudut pandang pribadi, kemudian disampaikan dalam bahasa yang lebih mudah dicerna. Tak jarang, publik merasa memiliki “penerjemah isu” yang membuat topik kompleks menjadi lebih dekat dan relevan.
Fenomena influencer sebagai opinion leader dapat dijelaskan melalui teori Two-Step Flow of Communication yang dikemukakan oleh Lazarsfeld dan Katz. Teori ini pertama kali diperkenalkan melalui penelitian Lazarsfeld tentang perilaku memilih dalam buku The People’s Choice (1944), kemudian dipertegas oleh Katz dan Lazarsfeld dalam Personal Influence (1955). Teori tersebut menyatakan bahwa pesan media massa tidak langsung memengaruhi khalayak secara massal, melainkan terlebih dahulu diterima, ditafsirkan, dan disaring oleh opinion leader, baru kemudian disebarkan kepada audiens yang lebih luas. Di era media sosial, influencer mengambil peran opinion leader tersebut: mereka menyaring, memaknai, dan menyederhanakan informasi sebelum sampai ke pengikutnya.
Influencer membantu publik memahami isu-isu beragam diantaranya politik, ekonomi, kesehatan, sejarah, hingga gaya hidup, dengan perspektif yang lebih personal. Namun, seberapa besar kepercayaan publik terhadap informasi yang mereka sampaikan? Kepercayaan ini dipengaruhi oleh beberapa indikator utama:
- Kredibilitas
Sejauh mana influencer kompeten di bidangnya dan menyampaikan informasi yang akurat serta terverifikasi.
- Integritas
Kejujuran dan konsistensi dalam menyampaikan fakta tanpa manipulasi.
- Posisi ideologis
Apakah influencer cenderung netral, mendukung, atau mengkritik pihak tertentu, sehingga publik dapat memahami bias yang mungkin ada?
Ketika kredibilitas rendah misalnya, influencer sering menyebarkan hoaks atau informasi tanpa sumber jelas menimbulkan kepercayaan publik akan menurun. Sebaliknya, publik masa kini semakin kritis dan cenderung memverifikasi informasi.
Namun, ada risiko dari kepercayaan yang terlalu tinggi terhadap influencer yaitu ketergantungan pada tafsir tunggal. Informasi yang sampai ke publik sudah tidak lagi objektif murni karena telah dicampur subjektivitas influencer. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis publik bisa tumpul. Idealnya, sudut pandang influencer menjadi pelengkap, bukan pengganti, pemahaman mandiri kita terhadap suatu isu.
Contoh nyata dapat dilihat pada Ferry Irwandi, influencer yang fokus pada analisis politik dan ekonomi. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan rumit, Ferry menyajikan penjelasan dengan bahasa sederhana, logis, dan mudah dipahami. Publik sering kali menerima informasi tersebut tanpa langsung merujuk ke sumber resmi. Contoh lain adalah Nessie Judge, konten kreator yang menjadi opinion leader di bidang sejarah melalui storytelling di YouTube. Dengan riset mendalam dan penyajian naratif yang menarik, ia berhasil membuat sejarah terasa hidup dan relevan bagi generasi muda.
Kedua contoh ini menunjukkan pola yang sama: informasi mengalir dari media massa → influencer (opinion leader) → publik. Pola ini efektif karena influencer tidak hanya menyederhanakan isu, tetapi juga menciptakan kedekatan emosional yang sulit diberikan oleh media massa formal. Gaya komunikasi yang personal, empatik, dan sering dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari membuat publik merasa “diwakili”. Kombinasi logika dan empati ini menciptakan kepuasan emosional sekaligus memperkuat kepercayaan.
Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap sudut pandang tertentu dari influencer dapat membentuk pola pikir publik tanpa disadari. Khalayak tidak hanya menerima isi pesan, tetapi juga menyerap cara penalaran influencer tersebut. Inilah kekuatan sekaligus bahaya opinion leader digital dalam membentuk opini publik.
Pada akhirnya, influencer memang memainkan peran penting sebagai opinion leader di era media sosial. Kemampuan mereka menyederhanakan isu kompleks, menghadirkan perspektif segar, dan menciptakan rasa kedekatan merupakan nilai tambah yang signifikan. Namun, peran tersebut tidak boleh menggantikan tanggung jawab publik untuk berpikir kritis dan mandiri. Publik perlu tetap membandingkan informasi dari berbagai sumber kredibel melalui media massa, jurnal akademik, dokumen resmi, dan referensi primer lainnya. Hanya dengan sikap kritis yang sehat, opini publik akan terbentuk secara matang, tidak sekadar mengikuti arus tafsir seorang influencer. Dengan demikian, influencer menjadi mitra diskusi yang berharga, bukan satu-satunya penentu arah pemikiran kita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
