Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si.

Ketika Komitmen Konservasi dan Data Berbicara: Mengapa Penyu Hijau Tak Lagi Endangered

Update | 2026-01-12 14:26:05

Oleh: Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si., Dosen Reproduksi Veteriner, Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA), Universitas Airlangga, Banyuwangi

Kabar bahwa penyu hijau (Chelonia mydas) di beberapa wilayah dunia tidak lagi dikategorikan sebagai endangered memunculkan respons beragam. Sebagian menyambutnya sebagai kemenangan konservasi, sementara yang lain khawatir kabar ini akan melemahkan komitmen perlindungan. Dalam sains konservasi, kedua reaksi tersebut wajar. Namun, yang paling penting adalah memahami satu hal mendasar: perubahan status konservasi bukanlah hasil opini, melainkan konsekuensi dari akumulasi data ilmiah jangka panjang.

Selama beberapa dekade, penyu hijau menjadi simbol satwa laut terancam punah. Eksploitasi telur dan daging, degradasi habitat pantai, bycatch perikanan, serta pencemaran laut menekan populasi secara drastis sejak pertengahan abad ke-20. Oleh karena itu, status “endangered” melekat kuat dalam memori kolektif publik. Namun, sains konservasi tidak bekerja berdasarkan ingatan masa lalu semata, melainkan pada tren populasi yang terukur dan terverifikasi.

Lebih jauh, perubahan status penyu hijau mengajarkan satu prinsip penting dalam konservasi modern: tujuan akhir bukan mempertahankan label “terancam punah”, melainkan membangun populasi yang cukup tangguh untuk bertahan menghadapi perubahan lingkungan. Dalam konteks ini, penurunan status bukan tanda berakhirnya konservasi, melainkan fase baru yang menuntut pengelolaan adaptif dan kewaspadaan berkelanjutan.

Dengan demikian, kabar baik tentang penyu hijau seharusnya tidak dirayakan secara euforia, tetapi dimaknai secara dewasa. Ini adalah pengingat bahwa konservasi membutuhkan kesabaran lintas generasi, ketekunan ilmiah, dan komitmen sosial yang konsisten. Ketika data menunjukkan pemulihan, itu bukan alasan untuk berhenti, melainkan bukti bahwa upaya yang benar jika dijalankan cukup lama memang dapat menyelamatkan spesies dari ambang kepunahan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image