Pernikahan Dini Jadi Konten Viral: Refleksi Generasi Z dan Pentingnya Edukasi
Edukasi | 2026-01-12 06:50:12- Media sosial hari ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga ruang pembentukan cara pandang. Apa yang kita lihat berulang kali di layar ponsel, perlahan membentuk apa yang kita anggap wajar, ideal, bahkan patut ditiru. Salah satu fenomena yang belakangan ramai di kalangan Gen Z adalah konten menikah muda yang viral di TikTok.
Video akad sederhana di KUA, pasangan muda yang tampil bahagia tanpa pesta besar, hingga narasi “yang penting sah dan nyaman” sering mendapat respons positif. Konten-konten ini terlihat hangat dan menyenangkan. Namun, di balik itu semua, ada satu hal penting yang perlu kita renungkan bersama: bagaimana media sosial membingkai pernikahan muda, dan bagaimana bingkai tersebut memengaruhi cara Gen Z memaknai keputusan besar dalam hidup?
Pernikahan dalam Bingkai Media Sosial
Dalam kajian komunikasi, Teori Framing yang dikemukakan oleh Robert Entman menjelaskan bahwa media tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memilih aspek tertentu untuk ditonjolkan dan aspek lain untuk diabaikan. Proses inilah yang membentuk cara audiens memahami realitas.
Konten pernikahan Gen Z di TikTok umumnya membingkai pernikahan sebagai sesuatu yang romantis, sederhana, dan minim beban. Kamera menyorot senyum pengantin, konsep unik, serta kesan bebas dari tekanan adat atau biaya besar. Sementara itu, aspek kesiapan mental, kondisi ekonomi, konflik rumah tangga, dan tanggung jawab jangka panjang jarang muncul dalam bingkai yang sama.
Framing seperti ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, ketika terus dikonsumsi tanpa konteks, ia berpotensi membentuk persepsi bahwa pernikahan adalah sesuatu yang mudah dijalani dan bisa diputuskan dengan cepat.
Menikah Dini: Pilihan atau Pengaruh Sosial?
Menikah muda tentu bisa menjadi pilihan personal yang sah. Setiap individu memiliki latar belakang dan pertimbangan masing-masing. Namun, penting untuk disadari bahwa keputusan tersebut sering kali tidak lahir di ruang hampa.
Paparan konten media sosial yang berulang dapat membentuk norma sosial baru. Ketika menikah muda terus ditampilkan sebagai hal yang indah dan ideal, audiens terutama remaja dapat merasa bahwa itulah standar kebahagiaan yang seharusnya dicapai. Di sinilah framing bekerja secara halus, memengaruhi cara berpikir tanpa disadari.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa media sosial sebenarnya bisa menjadi sarana edukasi tentang pernikahan dini jika diisi dengan konten yang informatif dan seimbang. Namun, studi lain juga menemukan bahwa paparan konten tanpa pendampingan dan literasi media justru dapat mendorong sikap permisif terhadap pernikahan dini tanpa persiapan matang.
Namun di sisi lain, beberapa studi juga menunjukkan bahwa paparan konten media sosial tanpa bimbingan bisa mempengaruhi sikap remaja terhadap menikah dini. Salah satu penelitian di Bogor bahkan menemukan bahwa semakin sering remaja mengakses TikTok, semakin terbentuk sikap yang mendukung menikah terlalu cepat tanpa persiapan matang.
Kenapa Edukasi Pernikahan Itu Penting?
Pernikahan bukan hanya soal pesta atau unggahan konten. Ini adalah keputusan yang membawa tanggung jawab terhadap hubungan, keluarga, dan masa depan anak-anak kelak. Jika keputusan dibuat tanpa pemahaman yang kuat tentang konsekuensi psikologis, sosial, dan ekonomi, dampaknya bisa berjangka panjang.
Menurut para ahli, pernikahan dini sering dikaitkan dengan risiko psikologis dan sosial bagi remaja, termasuk gangguan kesehatan mental karena perubahan besar dalam hidup yang tidak dipersiapkan sejak awal. Edukasi kesehatan reproduksi dan kesiapan hidup adalah salah satu strategi preventif yang direkomendasikan.
Selain itu, pernikahan dini juga sering terjadi karena rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Banyak remaja yang berhenti sekolah lebih awal setelah menikah, sehingga peluang mereka untuk berkembang secara pribadi dan ekonomi pun berkurang.
Peran Keluarga, Sekolah, dan Lingkungan Sosial
Edukasi tentang pernikahan tidak seharusnya hanya datang dari media sosial. Keluarga dan lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membangun framing alternatif yang lebih utuh dan realistis. Diskusi terbuka tentang hubungan sehat, komunikasi, tanggung jawab, serta perencanaan hidup perlu diperkenalkan sejak dini.
Dengan pendampingan yang tepat, remaja dapat memahami bahwa menikah bukan soal mengikuti tren, melainkan soal kesiapan. Media sosial boleh menjadi ruang inspirasi, tetapi keputusan hidup tetap membutuhkan pemikiran yang matang.
Fenomena menikah muda di kalangan Gen Z tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Media sosial telah membingkai pernikahan sebagai sesuatu yang indah dan sederhana, tetapi realitasnya jauh lebih kompleks. Melalui edukasi dan literasi media, generasi muda diharapkan mampu menjadi audiens yang kritis, bukan sekadar peniru tren.
Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang seberapa viral ia ditampilkan, melainkan seberapa siap ia dijalani.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
