Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Luna Grace

Dari Sawah ke Pabrik: Menyatukan Petani, Industri, dan Masa Depan yang Lebih Baik

Update | 2026-01-11 19:37:49
Sumber : Ilustrasi Pribadi

Lumbung Pangan Nasional dan Tantangan Kesejahteraan Para Petani di Jawa Timur

Tidak asing untuk melihat dan mendengar Jawa Timur sebagai Lumbung Pangan Nasional, memiliki potensi yang besar terutama di bidang pertanian dan industri manufaktur, UMKM lokal. Di dalam keunggulan yang di milikinya, tentu tidak menutup kemungkinan adanya tantangan dan rintangan yang harus dihadapi dengan serius. Tampaknya kesenjangan terhadap kesejahteraan petani, masih terbatasnya akses modal dan teknologi, laham pertanian yang sempit dan kecil, dan pemberdayaan Masyarakat yang tidak merata dan optimal. Berbagai program diberlakukan, salah satunya dengan kehadirannya program Sinergi Timur dengan strategis agar dapat menyelesaikan permasalahan dan melahirkan rantai pasok bahan baku untuk masa yang akan datang secara berkelanjutan, menguntungkan, dan juga stabil.

Kesenjangan keterampilan dan Pengangguran Terbuka di Jawa Timur

Akar permasalahan yang sedang dihadapi Jawa Timur merupakan meningkatnya pengangguran terbuka, pemberdayaan Masyarakat yang tidak merata dan benar, serta adanya kesenjangan keterampilan. Laporan pada Badan Pusat Statistik tahun 2025, tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur mencapai 24,76 juta orang, di mana semakin bertambah dari Februari 2024 sebanyak 620,77 ribu orang. Hal yang memperburuk Adalah rantai pasok pertanian yang lebih Panjang dan tidak efektfif, keterbatasan akses pada pelatihan, permodalan, teknologi, dan minim inovasi produk. Persoalan itulah yang menjadi dorongan adanya program dengan memberikan wadah untuk peningkatan kapasitas petani, berinovasi dalam bidang agribisnis, dan penguatan rantai pasok.

Minimnya Inovasi, Terbatasnya Teknologi, dan Rantai Pasok Pangan

Hal ini terjadi karena berbagai macam faktor yang mendasar, produk pertanian yang berasal dari petani kecil tidak jarang harus melewati perantara untuk dapat sampai ke tangan konsumen. Seiringnya berjalan maka nilai tambah seringkali hilang di perjalanan yang mengakibatkan rantai pasok Panjang yang tidak efektif dan efisien. Melihat realita yang ada di lapangan, petani tidak jarang untuk memiliki sifat ketergantungan pada komoditas yang tradisional, sehingga terjadinya kurangnya inovasi dan diversifikasi produk, tidak adanya pengembangan produk. Selain itu, masalah yang masih seringkali di jumpai Adalah keterbatasan terhadap teknologi dan pelatihan, di mana para petani kesulitan untuk berkembang dan meningkatkan keterampilannya dan juga mendapatkan akses teknologi yang canggih seiring berjalannya zaman.

Kelompok Masyarakat Terdampak : UMKM Lokal, Pemuda, dan Petani Kecil

Tentunya, kelompok Masyarakat yang terdampak merupakan petani kecil dan para buruh tani yang masih sangat bergantung kepada laham sempit yang mereka miliki dan ketergantungan terhadap hasil panen yang masih musiman. Pemilik UMKM lokal yang memiliki berbagai macam pesaing dan terbatasnya akses ke pasar dan modal, di dunia yang semakin canggih ini membuat banyak sekali orang untuk membangun dan menghasilkan dari penjualannya, dengan ketidakpunyaan akses maka para UMKM lokal akan sangat jauh dan berlomba untuk dapat bersaing dengan yang lainnya. Serta, yang harus di khawatirkan adalah para pemuda penerus bangsa atau anak anak lulusan SMA/SMK. Dengan keterbatasan ilmu dan keterampilan mereka, harus menghadapi berbagai macam tantangan dan rintangan di lapangan. Lapangan pekerjaan tidak jarang untuk memberikan klasifikasi yang tidak masuk akal dan memberikan tembok Batasan para lulusan SMA/SMK untuk dapat merasakan dunia kerja. Adapun ego yang masih menjadi tugas bersama, Ketika pada pemuda tidak menginginkan atau melanjutkan menjadi petani. Tetntu dengan tanya adanya intervensi yang baik dan tepat, Masyarakat yang terdampak ini akan ada terus di dalam lingkarang yang tidak berkembang, dan mengharuskan mereka menjadi tulang punggung pencari nafkah untuk ekonomi lokal.

Kawasan Agri-Komoditas dan Wilayah Pedesaan dilihat Sebagai Episentrum Masalah

Masalah ini masih di alami oleh berbagai macam pedesaan dan tentunya di Kawasan agri-komoditas yang ada di Jawa Timur, bahkan tidak menutup mata Ketika daerah pedesaan yang menjadi sumber pusat produksi pangan menggambarkan kesenjangan kesejahteraan yang sangat signifikan. Para petani pun di pedesaan masih sulit untuk mendapatkan akses teknologi, pasa, dan modal yang melahirkan infrastruktur yang belum merata sampai daerah terpencil. Faktor yang menonjol dan melahirkan bencana ini adalah sifat ketergantungan yang masih melekat pada tradisional tanpa adanya inovasi, memang baik untuk menjaga nilai tradisional, namun Ketika melihat lapangan yang tidak berkembang maka mengharuskan agar dapat bisa berinovasi tanpa menghilangkan nilai tradisional.

Musim Terjadinya Masalah dan Minim Program Pemberdayaan

Hal ini sudah dialami tahunan dan musiman, Ketika musim paceklik mengharuskan para petani menghadapi tantangan seperti sulitnya untuk memberikan dan memenuhi kebutuhan yang mendasar karena hasil panen yang dihasilkan masih sangat terbatas, menggambarkan kebutuhan pasar meningkat namun produsen tidak dapat memenuhinya. Bicara soal pengangguran, memang masalah ini sulit untuk diatasi dan sudah terjadi dari bertahun-tahun yang lalu. Sehingga permasalahan kesenjangan dan pengangguran yang terus menerus berulang melingkupi para Masyarakat terutama para lulusan muda yang seringkali tidak memenuhi syarat kerja. Minimnya program pemberdayaan yang diberikan oleh baik pohak pemerintah, Masyarakat, maupun swasta.

Pilar Strategis yang Efisien

Maka, baik dari pemerintah maupun swasta serta Masyarakat itu sendiri bisa menerapkan dan berfokus kepada pilar yang strategis. Melakukan peningkatan dan memberikan pelatihan petani dan pemuda dengan baik dan efektif, tidak hanya melibatkan nilai tradisional namun juga menggabungkan dengan inovasi yang tidak menghilangkan nilai penting tradisional, sehingga terjadinya peningkayan kapasitas dan keterampilan. Selain itu menguatkan rantai pasi dan ekonomi secara lokal, dapat dilalui dengan Pembangunan unit pengolahan hasil tania tau UPHT dan melalui pusat inovasi di bidang agribisnis dan kemitraan yang diperbaharui secara rutin mendorong inovasi dan akses terhadap pasar.

Dengan berfokus kepada pilar tersebut, maka Masyarakat dan lingkungan diharapkan untuk mendapatkan keuntungan seperti melahirkan lebih banyak lapangan pekerjaan yang layak, pendapatan para petani yang meningkat, dan mendapatkan akses teknologi dan pasar modal serta inovasi. Tidak lupa untuk lingkungan, dapat meminimalisir limbah, food miles, dan pertanian yang berkelanjutan.

Pentingnya untuk memperhatikan hal kecil namun krusial, Ketika mampu membangun kemitraan yang inklusif dapat memberikan keuntungan para lokal dan meratakan kesejahteraan Masyarakat, terutama untuk para petani kecil dan semakin meningkatnya UMKM lokal. Untuk melakukan dan melihat keberhasilan dari program ini, tentu tidak hanya melibatkan Masyarakat namun juga pemerintah bahkan swasta untuk jangka Panjang. Melihat dari lensa lain, transparansi dan akuntabilitas di dalam distribusi pelatihan dan bantuan yang diberikan kepada Masyarakat lokal. Peranan pemerintah yang menjadi tulang punggung terhadap Jawa Timur sebagai fasilitator.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image