AI: Penolong Atau Perusak Otak Mahasiswa?
Teknologi | 2026-01-09 21:13:26
Penggunaan AI (artificial Intelligence) di jaman sekarang menjadi suatu yang lazim digunakan untuk membantu pembelajaran mahasiswa. survei global mengungkapkan sekitar 86% siswa menggunakan AI sebagai alat bantu mereka untuk mencari informasi, merancang kerangka tulisan sampai membantu pemecahan masalah yang kompleks.
Timbal balik yang instan dari AI membantu mahasiswa mengoreksi jawaban mereka secara mandiri, dan itu sangat membantu mahasiswa untuk proses pembelajaran. Hal ini menunjukan AI menjadi alat pembelajaran yang efektif.
Akan tetapi , hal yang mengkhawatirkan ketika para mahasiswa yang dikenal memiliki pemikiran kritis, sekarang menjadi menurun karena ketergantungan AI. Mereka mengandalkan AI untuk memecahkan suatu masalah karena ingin mendapatkan hasil yang instan tanpa melalui proses berpikir yang mendalam.
AI sangat mendukung pembelajaran mahasiswa yang kadang memiliki keterbatasan dalam bahasa menulis dan mengembangkan ide. Contohnya, ketika mahasiswa merasa bigung menentukan apa yang harus dilakukan dalam mengerjakan sebuah tugas, AI dapat digunakan sebagai alat brainstorming ( pengumpulan ide) untuk membantu menyusun ide sebagai kerangka tugas.
Disisi lain, penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat individu mempunyai sifat cognitive offloading, yaitu dimana kecenderungan menyerahkan proses berfikir, analisis kepada AI untuk mencari jawaban. Yang dimana hal ini menurunkan kemampuan berpikir kritis, dan bisa merusak otak karena menjadi terbiasa menerima jawaban instan.
Dalam penggunaan AI, bisa juga membuat kemampuan literasi kita menjadi menurun. Misalnya kita akan mengerjakan tugas dan kita meminta bantuan AI untuk mencari referensi agar mempermudah kita untuk mendapatkan sumber yang relevan.
Namun, meskipun AI memudahkan kita dalam memperoleh sumber yang relevan, tapi tidak jarang juga AI memberikan referensi yang kurang sesuai dengan kebutuhan kita. Dimana membaca jurnal secara menyeluruh merupakan salah satu cara untuk memastikan kesesuaian tersebut, tetapi pada kenyataannya banyak mahasiswa hanya melakukan copy-paste dari poin yang disajikan AI tanpa menganalisis isi jurnal secara utuh.
Hal ini membuat mahasiswa kurang memahami konteks referensi dan hal itu akan menimbulkan keraguan apakah AI benar-benar mengutip sumber secara akurat sesuai dengan yang dibutuhkan. Akibatnya, kemudahan ini justru menurunkan kualitas literasi karena proses membaca dan menganalisis secara mendalam semakin diabaikan.
AI bisa menjadi teman belajar untuk membantu kita dalam proses pembelajaran, dan kita sebagai mahasiswa bisa menempatkan secara bijak bahwa AI itu digunakan sebagai alat bantu berfikir bukan pengganti berfikir. Para mahasiswa wajib ikut terlibat dalam mengkaji suatu permasalahan dan mengasah kemampuan berpikir kritisnya, bukan malah menggunakan AI untuk meminta jawaban yang instan.
Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa AI sangat membantu dalam proses pembelajaran mahasiswa, namun penggunaannya harus disertai kesadaran agar tidak menyerahkan seluruh proses analisis kepada AI. Ketergantungan yang berlebihan kepada AI dapat menurunkan kualitas literasi dan pemikiran kritis. Oleh karena itu, AI perlu diposisikan sebagai pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran otak manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
