Kebencian yang Merusak Diri
Sastra | 2026-01-09 12:40:55
Sadar atau tidak kehidupan itu semakin terhubung melalui teknologi digital, kebencian kini bukan lagi sesuatu yang asing. Ia menjelma menjadi fenomena yang terus tumbuh, menyusup ke ruang-ruang komunikasi publik, terutama di media sosial. Kami buka orang yang sempurna yang jadi mulai hari ini.
Menurut saya Kondisi ini diperparah oleh minimalnya kesadaran pengguna terhadap etika berkomunikasi di dunia maya. Banyak yang merasa bebas mengatakan apa saja karena tersembunyi di balik identitas digital. Akibatnya, komentar-komentar bernada rasis, diskriminatif, bahkan provokatif, kerap bermunculan tanpa kendali.
Dampaknya tidak main-main—bisa memecah belah masyarakat, memicu konflik, dan menciptakan iklim sosial yang penuh kerusakan.
Oleh karena itu, perlu diingat bahwa kebebasan berekspresi bukan berarti bebas merugikan orang lain dengan kata-kata. Kebebasan yang sehat adalah yang dilandasi rasa hormat terhadap perbedaan.
Sayangnya, konsep ini sering kali diabaikan, bahkan diputarbalikkan untuk membenarkan tindakan yang justru membingungkan atau meyakinkan pihak lain. Oleh karena itu, seringkali terjadi perundungan yang disebabkan oleh ujaran yang negatif terhadap orang lain.
Upaya menekan penyebaran kebencian sebetulnya sudah ada, baik dari sisi regulasi maupun teknologi. Namun, aturan hukum tidak akan cukup jika tidak dibarengi dengan kesadaran bersama. Literasi digital menjadi kunci penting agar masyarakat mampu membedakan mana yang merupakan kritik konstruktif dan mana yang merupakan serangan bernuansa kebencian.
Sebagai bagian dari masyarakat digital, kita semua memiliki tanggung jawab moral. Bijak dalam berbicara, berpikir sebelum mengetik, serta menghargai keberagaman harus menjadi bagian dari kebiasaan. Dunia maya akan jauh lebih sehat dan produktif jika diisi dengan energi positif, bukan kebencian yang membakar.
Ujaran kebencian mungkin tidak bisa dihapus sepenuhnya, tetapi bisa dikurangi jika kita semua sadar lebih dewasa dan peduli. Sudah saatnya ruang digital menjadi tempat yang aman untuk bertukar ide, bukan medan perang kata-kata.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
