Ketika Sistem Digital Membuat Judi Online Terasa Biasa
Teknologi | 2026-01-08 13:21:15
Perbincangan mengenai judi online kerap berfokus pada aspek moral, hukum, dan perilaku individu. Pendekatan tersebut penting, tetapi belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan. Dari sudut pandang sistem informasi, maraknya judi online juga perlu dibaca sebagai konsekuensi dari cara sistem digital dirancang, dijalankan, dan diawasi di ruang publik.
Judi online tidak tumbuh di ruang hampa. Ia berkembang dalam ekosistem sistem informasi yang menawarkan kemudahan akses, kecepatan transaksi, dan rasa aman semu bagi penggunanya. Karena itu, sistem informasi tidak bisa diposisikan sekadar sebagai latar teknologi, melainkan perlu dijadikan alat analisis untuk memahami mengapa praktik ini terus muncul meskipun berbagai upaya penindakan telah dilakukan.
Ketika Sistem Mengarahkan Perilaku
Dalam kajian sistem informasi, sistem tidak hanya berfungsi memproses data, tetapi juga membentuk pola perilaku pengguna. Alur transaksi yang sederhana, antarmuka yang ramah, serta integrasi pembayaran digital membuat berbagai aktivitas di ruang digital terasa mudah dan wajar, termasuk aktivitas yang sejatinya berisiko seperti judi online.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada absennya batasan yang secara sadar dibangun di dalam sistem. Ketika efisiensi dan kemudahan menjadi orientasi utama tanpa diimbangi pengendalian, sistem informasi berpotensi mendorong perilaku yang merugikan pengguna itu sendiri.
Batas Sistem yang Tidak Terlihat
Banyak sistem digital dibangun dengan asumsi bahwa pengguna akan bertindak rasional dan bertanggung jawab. Namun dalam praktiknya, sistem justru sering dirancang untuk mendorong keterlibatan terus-menerus tanpa ruang refleksi. Dalam konteks judi online, transaksi yang cepat dan minim hambatan membuat risiko terasa jauh, sementara dampaknya bersifat jangka panjang.
Dari perspektif sistem informasi, kondisi ini menandakan hilangnya fungsi perlindungan dalam desain sistem. Sistem bekerja efektif secara teknis, tetapi tidak cukup berpihak pada kepentingan publik. Batasan etis dan mekanisme pengingat risiko belum menjadi bagian integral dari arsitektur sistem digital.
Inovasi yang Melampaui Tata Kelola
Fenomena judi online juga memperlihatkan adanya jarak antara laju inovasi teknologi dan kapasitas pengawasan. Pemblokiran situs sering kali dilakukan setelah sistem tersebut aktif dan menjangkau banyak pengguna. Pendekatan ini bersifat reaktif dan membuat pengendalian selalu tertinggal.
Selama pengawasan ditempatkan di luar sistem, praktik ilegal akan terus menemukan bentuk baru yang lebih adaptif. Dari sudut pandang sistem informasi, pencegahan seharusnya dimulai sejak tahap perancangan, dengan menempatkan prinsip pengendalian dan tata kelola sebagai bagian dari sistem, bukan sebagai tambahan di kemudian hari.
Pengguna dalam Sistem yang Kurang Edukatif
Judi online juga mencerminkan bagaimana pengguna sering diposisikan hanya sebagai target layanan, bukan sebagai bagian dari sistem yang perlu dilindungi. Rendahnya literasi digital membuat sebagian masyarakat tidak sepenuhnya memahami bagaimana sistem bekerja, bagaimana uang dan data mereka diproses, serta risiko yang menyertainya.
Sistem informasi yang baik seharusnya tidak hanya efisien, tetapi juga edukatif. Ia perlu membantu pengguna memahami konsekuensi dari setiap keputusan digital yang diambil, sehingga teknologi tidak hanya memudahkan, tetapi juga membentuk kesadaran yang lebih bertanggung jawab.
Persoalan ini tidak cukup diselesaikan melalui larangan dan penindakan semata, melainkan membutuhkan evaluasi terhadap cara kita merancang dan mengelola sistem informasi di ruang publik. Jika sistem informasi dibangun dengan kesadaran akan dampak sosialnya, dilengkapi pengendalian yang jelas, serta mendorong literasi pengguna, maka ruang digital Indonesia tidak hanya menjadi ruang yang canggih secara teknologi, tetapi juga adil dan bertanggung jawab secara sosial. Di sinilah pembenahan seharusnya dimulai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
