Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Septiana Dewi

Banjir yang Berulang dan Pola yang Terabaikan: Membaca Fenomena Alam melalui Keteraturan Matematis

Edukasi | 2026-01-07 11:04:37
Banjir yang meluas di kawasan permukiman menunjukkan adanya pola kejadian yang terus berulang dari waktu ke waktu.

Banjir kembali menjadi topik yang ramai diperbincangkan di berbagai daerah di Indonesia. Setiap musim hujan tiba, peristiwa ini seolah hadir sebagai kejadian yang berulang, namun selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Padahal, jika diperhatikan dengan lebih jeli, banjir tidak muncul secara acak, melainkan mengikuti pola tertentu yang kerap luput dari perhatian.

Dalam matematika murni, suatu kejadian yang terus berulang bukan dianggap sebagai kebetulan, melainkan sebagai indikasi adanya keteraturan. Konsep pola dan relasi menjadi dasar untuk memahami bagaimana suatu peristiwa terjadi dari waktu ke waktu. Banjir yang muncul di lokasi yang sama, pada kondisi hujan yang serupa, serta dengan dampak yang hampir sama, menunjukkan adanya struktur yang konsisten di balik fenomena tersebut.

Sayangnya, keteraturan ini jarang dibaca sebagai bagian dari sistem yang dapat dipahami. Banjir lebih sering dipandang sebagai bencana alam semata, bukan sebagai rangkaian peristiwa yang memiliki keterkaitan antar faktor. Akibatnya, penanganan yang dilakukan cenderung bersifat reaktif dan berulang, tanpa menyentuh pola dasar yang menyebabkannya.

Jika dilihat lebih jauh, banjir melibatkan banyak variabel yang saling berhubungan, seperti curah hujan, kapasitas sungai, sistem drainase, serta perubahan penggunaan lahan. Dalam sudut pandang matematis, hubungan antarvariabel ini membentuk suatu relasi. Ketika relasi tersebut berada pada kondisi tertentu, hasilnya hampir selalu sama, yaitu banjir. Artinya, peristiwa ini bukan sekadar kejadian alam yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem yang bekerja secara konsisten.

Sebagai mahasiswa, konsep ini sebenarnya tidak asing. Dalam matematika murni, kita diajarkan bahwa keteraturan dan konsistensi adalah kunci untuk memahami suatu fenomena. Ketika sebuah pola terus muncul, maka pola tersebut layak dianalisis, bukan diabaikan. Prinsip ini seharusnya juga diterapkan dalam memahami banjir yang terus berulang di berbagai wilayah.

Banjir yang datang hampir setiap tahun di tempat yang sama menunjukkan bahwa ada batas kapasitas lingkungan yang telah terlampaui. Jika hujan dengan intensitas tertentu selalu berujung pada genangan, maka sistem yang ada tidak lagi mampu menampung perubahan tersebut. Dalam matematika, kondisi semacam ini mencerminkan ketidakseimbangan dalam suatu sistem, di mana input yang masuk tidak sebanding dengan kemampuan sistem untuk merespons.

Masalahnya, ketidakseimbangan ini sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Ketika banjir sudah menjadi kejadian rutin, perhatian terhadap polanya justru semakin berkurang. Padahal, dalam logika matematika, mengabaikan pola yang berulang berarti mengabaikan informasi penting yang seharusnya bisa digunakan untuk perbaikan.

Pendekatan matematis membantu kita melihat banjir bukan sebagai kejadian yang terisolasi, tetapi sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang saling terkait. Dengan memahami keteraturan yang ada, kita dapat membedakan antara kejadian yang benar-benar ekstrem dan kejadian yang sebenarnya sudah dapat diperkirakan. Tanpa pemahaman ini, banjir akan terus dianggap sebagai kejutan, meskipun tanda-tandanya sudah muncul berulang kali.

Dalam konteks pelayanan publik dan pengelolaan lingkungan di Indonesia, cara pandang ini menjadi sangat relevan. Banyak kebijakan masih berfokus pada penanganan setelah banjir terjadi, bukan pada pembacaan pola sebelum bencana datang. Padahal, keteraturan yang sama terus muncul setiap tahun, seolah memberi sinyal bahwa masalah ini tidak sepenuhnya tidak terduga.

Melihat banjir melalui kacamata matematika murni mengajarkan bahwa alam memiliki struktur dan keteraturan, meskipun tidak selalu sederhana. Tantangannya bukan terletak pada ketidakmampuan untuk membaca pola, melainkan pada kurangnya kemauan untuk menjadikan pola tersebut sebagai dasar dalam perencanaan jangka panjang.

Pada akhirnya, banjir yang terus berulang seharusnya tidak lagi dipahami hanya sebagai musibah musiman. Ia adalah fenomena yang memiliki keteraturan dan konsistensi. Dengan membaca pola-pola tersebut, penanganan banjir dapat bergeser dari sekadar respons darurat menjadi upaya yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Sebagai generasi yang hidup di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mahasiswa memiliki peran penting dalam mengkritisi cara pandang lama terhadap bencana. Dengan pendekatan yang lebih rasional dan berbasis pola, termasuk melalui perspektif matematika murni, banjir tidak hanya dipahami sebagai masalah alam, tetapi juga sebagai persoalan sistem yang bisa dipelajari dan diperbaiki.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image