Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marketing DT Peduli 2

Kisah Banjir Bandang Menerjang Alue Kuta, Bireuen

Kisah | 2026-01-07 08:12:10
Potret Para Penyintas Banjir Bandang di Bireueun yang saat ini tinggal di pengungsian (Sumber : DT Peduli)

DTPEDULI.ORG | BIREUEN - Hampir dua minggu setelah banjir bandang menerjang Bireuen sejak akhir November 2025, suasana di Posko Desa Alue Kuta dan Meunasah masih dipenuhi jejak kelelahan. Pada Jumat (5/12/2025), kawasan pengungsian itu tampak seperti ruang yang menyimpan banyak cerita penuh luka dan kehilangan. Warga masih bolak-balik dari posko ke rumah masing-masing, mencoba menakar apa yang masih tersisa dan apa yang sudah benar-benar hilang.

Subuh yang Mengubah Segalanya

Banjir bandang itu datang tanpa banyak aba-aba. Hujan deras semalaman membuat air sungai meluap, membawa lumpur dan kayu-kayu besar yang menyeret apa pun di hadapannya. Di Alue Kuta, air naik cepat hingga setinggi dada. Tak heran jika subuh hari itu berubah menjadi momen panik massal. Warga berlari ke meunasah, satu-satunya titik tinggi yang bisa dijangkau dalam hitungan menit.

Tiga hari pertama pascabencana menjadi masa paling genting. Ibu hamil, penyintas stroke, dan lansia berisiko tinggi harus bertahan di meunasah tanpa perawatan layak, sebelum akhirnya berhasil dievakuasi ke rumah sakit.

"Di sini KK-nya 235, jiwa 875," ujar Habibullah, Keuchik (Kepala Desa) Alue Kuta, saat kami menemuinya. Suaranya pelan, tapi berat, seperti memikul beban berat di atas bahunya sendiri.

"Korban jiwa: bayi, satu. Rumah, 40 unit hilang total. Hanyut hilang. Yang kena lumpur, hampir semua," tambahnya. Matanya menerawang. Terlihat jelas wajah lelahnya. Pakaiannya masih lengkap dengan sepatu boots tanda kesiapisagaan membantu warganya.

Potret Para Penyintas Banjir Bandang di Bireueun yang saat ini tinggal di pengungsian (Sumber : DT Peduli)

Di sudut meunasah yang menjadi pengungsian, Helmidah, seorang warga Alue Kuta, dengan wajah lelah namun tetap berusaha teguh, mengulang kembali detik-detik yang nyaris merenggut segalanya.

"Pagi itu air datang cepat. Awalnya cuma lihat-lihat, pikirnya enggak bakal separah itu. Tapi air makin besar. Barang-barang enggak bisa diangkat lagi. Dalam sejam, jembatan pun sudah putus," kenangnya getir.

Ia menarik napas panjang.

"Lari semua. Ada yang enggak pakai baju karena panik. Yang nangis ya nangis. Macam-macam. Enggak ada yang bisa diselamatkan. Rumah penuh sampah, kayu-kayu besar, batang kelapa. Mau dikerjakan (dibereskan) pun sakit kepala rasanya," tambahnya.

Setelah banjir surut, masjid yang sempat dijadikan tempat berlindung justru berubah menjadi ruang penuh lumpur tebal. Banyak warga akhirnya kembali tidur di meunasah dengan pakaian seadanya, yang belum kering dari hujan sebelumnya.

"Nanti basah lagi, nanti datang air lagi. Begitu terus. Yang penting waktu itu cuma satu: selamatkan diri sendiri," ucap Helmidah lirih.

Lina, warga lainnya, hanya menggeleng ketika ditanya apa yang masih tersisa dari rumahnya.

"Rumah saya hilang. Saya ke sini pakai boat. Semuanya hilang," ucapnya lirih.

Fatimah juga bercerita hal serupa. Ia menembus arus deras dengan perahu kecil untuk mencapai tempat aman.

Semangat Bangkit dan Pulih Kembali

Hari-hari warga Alue Kuta kini dipenuhi rutinitas membersihkan rumah yang hampir tak bisa dibersihkan. Banyak yang kembali ke posko dengan langkah berat setelah melihat tumpukan kayu, lumpur, dan reruntuhan yang terlalu sulit ditangani sendirian.

Di balik semua kehilangan itu, satu hal tetap menyala, yakni keberanian dan keteguhan untuk bangkit. Bencana mungkin telah menghapus sebagian besar dari apa yang mereka punya, tetapi tidak keberanian mereka untuk melanjutkan hidup, meski tanah tempat mereka berpijak belum pulih seutuhnya.

Doa tak henti-hantinya mereka panjatkan. Di tengah kondisi yang penuh luka dan kehilangan mereka masih teguh untuk shalat berjamaah di masjid yang sudah mereka bersihkan. Mereka saling tolong menolong setiap harinya. Berbagi tugas dan peran untuk bangkit bersama, termasuk mengelola bantuan yang datang.

DT Peduli Langsung Berikan Bantuan untuk Penyintas Banjir di Wilayah Bireuen (Sumber : DT Peduli)

Salah satu bantuan datang dari pada donatur DT Peduli, memberi harapa kepada warga Alue Kuta, bahwa masih banyak saudara yang peduli.

"Mudah-mudahan segera pulih kembali ya. Pulih kembali. Ya mudah-mudahan bermanfaat Ibu-ibu semuanya, anak-anak, sehat dan bisa beraktivitas kembali gitu ya. Kegiatan usaha, apa segala macam ya, Insyaallah," ucap Iwan Firmasnyah, Deputi Direktur Program DT Peduli ketika mengantarkan bantuan ke Posko Alue Kuta.

Habibullah menyambut bantuan itu dengan tangan terbuka. Ia berharap, bantuan yang datang bisa semakin menguatkan warganya untuk terus bersemangat bangkit bersama. (Agus ID)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image