Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Farid Daniswara

Bandung Saat Terlelap: Sunyi yang Bicara

Info Terkini | 2026-01-06 17:29:28
Jalan Asia Afrika terlihat sunyi di tengah malam Kota Bandung. (Sumber: Dokumen Pribadi)

Menjelang larut malam, Kota Bandung menunjukkan wajah yang berbeda. Arus kendaraan mulai menipis, kebisingan perlahan menghilang, digantikan oleh suasana hening dan cahaya lampu jalan yang memantul di permukaan aspal. Pada momen ini, kota seakan menyampaikan ceritanya tanpa suara.

Berdasarkan pengamatan di sekitar Gedung Sate, kawasan tersebut tampak lengang. Bangunan bersejarah itu berdiri dalam ketenangan malam, dengan kutipan “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” terlihat jelas di dinding, menjadi simbol identitas Bandung di tengah sunyinya kota.

Walau sebagian besar aktivitas warga telah berhenti, kehidupan malam Bandung tidak sepenuhnya hilang. Sesekali, pejalan kaki maupun kendaraan melintas, menandakan bahwa denyut kota masih tetap berjalan, meski dalam irama yang lebih pelan.

Salah seorang warga Bandung, Rizky (22), mengungkapkan bahwa suasana malam menghadirkan kesan tersendiri.

“Kalau malam, Bandung terasa lebih tenang dan apa adanya. Sepinya justru membuat kota ini terasa hidup dengan caranya sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketenangan malam memberi kesempatan untuk melihat sisi lain Bandung yang jarang disadari. Di saat kota terlelap, kesunyian menjadi bahasa yang menggambarkan perjalanan Bandung setelah seharian dipenuhi aktivitas

Di sisi lain, tidak semua orang menikmati malam sebagai waktu istirahat. Bagi mereka yang bekerja di malam hari, suasana sunyi justru menjadi bagian dari rutinitas. Andi (35), seorang petugas keamanan di kawasan perkantoran, mengatakan malam hari adalah waktu ia memastikan kota tetap aman.

“Kalau sudah tengah malam, suasana memang sepi. Tapi justru di jam seperti ini kami harus lebih waspada karena aktivitas berkurang,” ujarnya.

Andi menilai, meski tampak lengang, kota tetap membutuhkan kehadiran orang-orang yang berjaga. Ia menyebut malam sebagai fase penting agar aktivitas di pagi hari dapat berjalan normal.

Lapak pedagang tampak sepi pada malam hari. (Sumber: Dokumen Pribadi)

Memasuki larut malam, aktivitas di sejumlah ruas Kota Bandung mulai berhenti. Deretan pedagang kaki lima menutup lapaknya, sementara jalanan terlihat semakin lengang. Kondisi ini mencerminkan ritme kota ketika sebagian besar warga telah terlelap dan aktivitas harian berakhir.

Pantauan di kawasan pusat kota menunjukkan sebagian besar lapak makanan sudah tidak beroperasi. Penutupan lapak dilakukan sebagai bagian dari rutinitas pedagang yang menyesuaikan waktu operasional dengan jam malam, bukan karena kondisi tertentu. Suasana sunyi menjadi penanda berakhirnya aktivitas kota pada hari itu.

Salah seorang pedagang kaki lima, Siti (40), mengatakan bahwa menutup lapak di malam hari merupakan kebiasaan yang sudah dijalani.

“Kalau sudah larut malam memang waktunya tutup. Biasanya pedagang juga sudah mulai beres-beres karena besok masih harus buka lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, tidak semua aktivitas berhenti sepenuhnya. Beberapa pekerja malam tetap menjalankan tugasnya meski suasana kota kian sepi. Dedi (29), pengemudi ojek online, menyebutkan bahwa kondisi jalanan yang lengang menjadi ciri khas Bandung saat malam.

“Kalau sudah tengah malam, kota memang sepi. Jalanan lebih kosong dan suasananya jauh lebih tenang,” ujarnya.

Menurut Dedi, meski aktivitas berkurang, malam hari tetap menjadi bagian dari kehidupan kota. Ia menilai kesunyian justru menunjukkan bahwa Bandung sedang berada dalam fase istirahat sebelum kembali ramai keesokan harinya.

Ketika Bandung terlelap, aktivitas kota memang melambat, namun tidak sepenuhnya berhenti. Jalanan yang lengang dan suasana yang tenang menjadi bagian dari ritme malam, menandai waktu istirahat setelah seharian beraktivitas. Di balik sunyi tersebut, masih ada denyut kehidupan yang berjalan perlahan, mereka yang berjaga, bekerja, dan melintas tanpa hiruk-pikuk. Malam memberi jeda bagi kota untuk menenangkan diri, menyusun kembali ritmenya, sebelum Bandung kembali terbangun dan bergerak bersama warganya pada pagi hari, melanjutkan siklus kehidupan yang tak pernah benar-benar usai.

Kesunyian malam juga menghadirkan ruang refleksi bagi kota dan warganya. Tanpa keramaian, Bandung memperlihatkan wajah yang lebih tenang dan tertata, memperlihatkan bahwa jeda adalah bagian penting dari kehidupan perkotaan. Saat sebagian besar aktivitas berhenti, kota justru menemukan keseimbangannya, bersiap menyambut kembali dinamika yang akan hadir seiring datangnya pagi.

Penulis: Muhammad Farid Daniswara, Mahasiswa Semester 3 Program Studi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image