Kenapa Semua Makanan Enak Disebut Nagih?
Kuliner | 2026-01-05 11:00:15Oleh Wuri Syaputri
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Sumber Gambar : https://yellowchilis.com/nasi-goreng-recipe-indonesian-fried-rice/?utm_source
Di warung makan, di kolom ulasan, hingga di percakapan santai, ada satu kata yang nyaris selalu muncul saat makanan terasa enak: nagih. “Enak banget, nagih.” “Sederhana tapi nagih.” “Makan sekali pasti nagih.” Kata ini terdengar akrab, mudah dipahami, dan yang terpenting adalah meyakinkan. Namun, jika ditelisik lebih jauh, nagih bukanlah kata rasa yang presisi. Ia tidak menjelaskan asin, manis, pedas, atau gurih. Ia menjelaskan keinginan untuk kembali.
Mengapa kata yang merujuk pada dorongan berulang ini begitu populer dalam bahasa kuliner?
Dalam linguistik, ini dapat dipahami melalui cara bahasa bekerja ketika harus menjelaskan pengalaman yang sulit diukur secara objektif. Rasa adalah pengalaman sensorik yang kompleks dan subjektif. Dua orang bisa mencicipi hidangan yang sama dan memberikan penilaian berbeda. Karena itu, bahasa kuliner jarang berhenti pada deskripsi teknis. Ia bergerak ke wilayah evaluative dengan menilai dampak, bukan sekadar sifat.
Kata nagih adalah contoh paling jelas dari pergeseran itu. Ia tidak mendeskripsikan rasa, melainkan efek rasa terhadap penikmatnya. Ketika seseorang mengatakan makanan itu nagih, ia sedang berkata: makanan ini membuat saya ingin kembali. Dalam praktik tutur sehari-hari, pernyataan semacam ini sering terasa lebih jujur daripada daftar sifat rasa.
Dan Jurafsky, dalam The Language of Food (2014), menunjukkan bahwa bahasa makanan kerap mengandalkan kata-kata evaluatif yang menyiratkan pengalaman dan identitas, bukan komposisi. Kata seperti homestyle, comfort, atau addictive (padanan nagih) lebih sering dipakai karena mampu membangun ekspektasi emosional dengan cepat. Bahasa semacam ini bekerja efektif di ruang public yaitu pada menu, ulasan, media social yang menuntut ringkas dan kuat.
Secara linguistik, nagih juga menarik karena ia merupakan metafora perilaku. Kata ini berasal dari ranah kebiasaan berulang yaitu sesuatu yang ingin diulang lagi dan lagi. Ketika dipindahkan ke ranah kuliner, maknanya melunak dan menjadi positif. Tidak ada stigma; yang ada justru pujian. Ini menunjukkan bagaimana bahasa bisa “memutihkan” makna ketika konteksnya berubah.
Perubahan makna seperti ini lazim dalam bahasa. George Lakoff dan Mark Johnson (1980) menjelaskan bahwa manusia sering memahami pengalaman abstrak melalui pemetaan konseptual. Keinginan kembali makan dipahami melalui konsep ketagihan bukan sebagai masalah, melainkan sebagai tanda kenikmatan. Metafora ini terasa kuat karena semua orang paham pengalaman ingin mengulang sesuatu yang menyenangkan.
Di Indonesia, penggunaan nagih juga terasa sangat cair. Ia bisa berdiri sendiri tanpa penjelasan tambahan. Ketika seseorang berkata “nagih”, pendengar jarang bertanya: nagih karena apa? Bahasa mengandalkan kesepahaman implisit. Inilah kekuatan kata yang sudah menjadi konvensi sosial.
Menariknya, nagih sering muncul ketika deskripsi rasa terasa “buntu”. Banyak ulasan makanan berhenti pada kalimat pendek: “enak, nagih.” Seolah-olah, setelah nagih, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Dalam analisis wacana, ini menunjukkan fungsi nagih sebagai penutup argument atau klaim akhir yang mengunci penilaian.
Roland Barthes (1961) pernah menyebut makanan sebagai sistem tanda. Makanan bukan hanya dikonsumsi, tetapi juga diceritakan. Dalam cerita itu, kata-kata tertentu menjadi penanda kualitas. Nagih adalah salah satunya. Ia menandai bahwa makanan tersebut layak diingat, layak diulang, dan layak direkomendasikan.
Namun, ada sisi lain yang menarik: karena begitu sering dipakai, nagih berisiko kehilangan daya. Ketika hampir semua makanan enak disebut nagih, kata itu menjadi standar, bukan lagi penanda keistimewaan. Bahasa lalu mendorong lahirnya penguat baru: nagih parah, nagih banget, atau digabungkan dengan metafora lain seperti nendang dan nampol. Ini adalah siklus bahasa evaluative ketika satu kata melemah, bahasa mencari intensifier baru.
Fenomena ini semakin terasa di media sosial. Ulasan makanan harus singkat, menarik, dan mudah dibagikan. Kata nagih memenuhi semua kriteria itu. Ia ringkas, emosional, dan langsung memberi sinyal nilai. David Crystal (2011) menyebut gaya bahasa internet sebagai tulisan yang terasa lisan. Nagih sangat cocok dengan gaya ini: informal, ekspresif, dan terasa dekat.
Selain itu, kata nagih juga memindahkan fokus dari dapur ke penikmat. Yang penting bukan lagi bagaimana makanan dibuat, tetapi bagaimana ia dirasakan dan diinginkan. Bahasa kuliner bergerak dari proses ke pengalaman. Ini sejalan dengan kebiasaan makan modern yang menempatkan cerita dan ulasan sebagai bagian dari konsumsi.
Namun, penting disadari bahwa nagih tidak selalu berarti kualitas rasa yang tinggi. Ia bisa muncul karena kebiasaan, nostalgia, atau kesederhanaan yang akrab. Justru di sinilah kekuatannya. Nagih mengakui bahwa kenikmatan tidak selalu datang dari kompleksitas, tetapi dari keinginan untuk kembali.
Pada akhirnya, popularitas kata nagih menunjukkan satu hal: ketika bahasa kesulitan menjelaskan rasa secara teknis, ia memilih jalan pengalaman. Kita mungkin tidak tahu persis mengapa sebuah makanan enak, tetapi kita tahu satu hal yaitu yang sebenarnya kita ingin memakannya lagi. Dan untuk itu, satu kata terasa cukup. \Karena dalam bahasa kuliner sehari-hari, nagih bukan sekadar kata. Ia adalah janji halus bahwa sepiring makanan telah berhasil melakukan tugasnya: membuat kita ingin kembali.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
