Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Otentik Art

Belajar dari Lomba Basyira: Ketika Santri TPQ Diberi Ruang untuk Tumbuh

Pendidikan | 2026-01-04 22:30:26

Di tengah rutinitas belajar mengaji yang sering kali berlangsung sederhana, kehadiran sebuah lomba bagi santri TPQ kerap dipersepsikan sekadar ajang mencari juara. Padahal, jika dilihat lebih dekat, kegiatan seperti Lomba Basyira 1 (Bakat dan Seni Islami Santri Aisyiyah) Wiradesa justru menyimpan nilai pendidikan yang jauh lebih penting dari sekadar piala.

Lomba yang diselenggarakan oleh LKP2 Wiradesa pada Ahad, 4 Januari 2026, di TPQ Aisyiyah Al-Muttaqien Delegtukang ini mempertemukan santri TPQ Aisyiyah se-Cabang Wiradesa dalam lima cabang lomba keislaman dan seni. Namun yang menarik, suasana yang tercipta bukanlah ketegangan kompetisi, melainkan ruang belajar bersama yang hangat dan penuh semangat.

Bagi santri TPQ, tampil di depan juri dan peserta lain bukan perkara mudah. Mereka belajar mengelola rasa gugup, menghafal dengan sungguh-sungguh, serta menampilkan kemampuan terbaik di hadapan publik. Di titik inilah lomba berfungsi sebagai latihan mental dan karakter, bukan sekadar pengukuran kemampuan akademik keagamaan.

Seorang pendamping santri menyampaikan bahwa kegiatan ini memberi pengalaman baru bagi anak-anak.

“Bukan soal menang atau kalah, tetapi anak-anak belajar berani tampil dan percaya diri. Itu bekal penting untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Lima cabang lomba yang dipertandingkan—mulai dari Murottal, Hafalan Juz Amma, Praktik Salat, Doa Harian, hingga Kaligrafi—merepresentasikan keseimbangan antara pemahaman ibadah, hafalan, adab, dan seni. Ini menunjukkan bahwa pendidikan TPQ tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga psikomotorik dan afektif.

Menariknya, lomba ini juga menjadi ruang evaluasi tidak langsung bagi para ustaz dan ustazah. Dari penampilan santri, terlihat sejauh mana metode pembelajaran berjalan efektif, mana yang perlu diperkuat, dan bagaimana pembinaan dapat ditingkatkan. Dengan kata lain, lomba menjadi cermin bagi proses pendidikan itu sendiri.

Kehadiran tokoh Aisyiyah dan Muhammadiyah Wiradesa dalam kegiatan ini memberi pesan penting bahwa pembinaan santri TPQ adalah tanggung jawab bersama. Dukungan moral dan kehadiran langsung para tokoh memberi motivasi tambahan bagi anak-anak sekaligus menguatkan ekosistem pendidikan keagamaan di tingkat akar rumput.

Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, kegiatan seperti Lomba Basyira menunjukkan bahwa pendidikan keislaman dapat dikemas secara menyenangkan, mendidik, dan relevan. Santri tidak hanya diajak menghafal dan memahami, tetapi juga mengalami proses belajar yang membangun kepercayaan diri dan semangat berprestasi secara sehat.

Pada akhirnya, Lomba Basyira 1 Wiradesa mengingatkan kita bahwa memberi ruang kepada anak-anak untuk tampil, belajar, dan dihargai adalah bagian penting dari pendidikan. Ketika santri TPQ diberi kesempatan untuk tumbuh melalui pengalaman nyata, maka nilai-nilai keislaman tidak hanya diajarkan, tetapi benar-benar dihidupkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image