Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Poppi Nurma Ningsih Aritonang

Obsesi Nilai Tinggi dan Dampaknya pada Psikologi Anak

Guru Menulis | 2026-01-04 22:42:44
gambar hasil AI

Di zaman sekarang, nilai sering banget dijadiin patokan utama buat ngeukur keberhasilan anak. Banyak orang tua dan sekolah menekankan angka tinggi sebagai simbol prestasi. Tapi kalau terlalu fokus sama nilai, dampaknya bisa berat buat psikologis anak.

Anak yang selalu ditekan untuk meraih nilai sempurna bisa gampang stres dan takut salah. Ujian jadi terasa menakutkan, bukan kesempatan buat belajar. Padahal, harga diri anak seharusnya dibangun dari penerimaan dan apresiasi terhadap diri sendiri, bukan cuma dari angka di rapor. Kalau nilai jadi satu-satunya ukuran sukses, anak bisa merasa gagal dan nggak berharga kalau nilainya kurang memuaskan.

Kalau anak belajar cuma karena takut gagal atau mau memenuhi ekspektasi orang tua, biasanya mereka kehilangan rasa penasaran dan senang belajar itu sendiri. Lama-lama, belajar jadi cuma buat ngumpulin angka, bukan buat pengetahuan atau berkembang sebagai pribadi.

Kalau nilai terus dijadiin patokan utama, anak bisa punya pola pikir “sempurna atau gagal”. Padahal kegagalan itu normal dan justru bagian dari proses belajar. Anak yang terlalu ditekan biasanya lebih fokus buat menghindari kesalahan daripada mencoba hal baru. Akibatnya, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah mereka bisa terhambat—padahal kemampuan ini penting banget di kehidupan nyata.

Selain itu, tekanan buat selalu berprestasi juga bisa bikin anak kurang belajar mengatur emosi, menghadapi kegagalan, dan membangun empati. Padahal kemampuan ini sama pentingnya dengan akademik untuk membentuk mental tangguh dan hubungan sosial yang sehat.

Makanya, orang tua dan guru sebaiknya menyeimbangkan antara nilai dan kesehatan mental anak. Menghargai usaha, proses belajar, dan perkembangan pribadi jauh lebih berharga daripada cuma menuntut nilai tinggi. Anak yang belajar dengan cara sehat biasanya lebih percaya diri, lebih termotivasi, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image