Representasi Penindas dan Musuh yang Tak Sama
Sastra | 2026-01-04 21:29:59
Sekilas, Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul dan Kau karya Nuke Hanasasmit sama-sama mengusung kritik terhadap ketidakadilan sosial. Namun, jika dibaca lebih jeli, kedua puisi ini tidak sedang melawan musuh yang sama, meskipun sama-sama menyebut “kami” dan “kau”. Perbedaan paling menarik justru terletak pada cara penindas direpresentasikan: satu dibuat abstrak dan simbolik, satu dibuat personal dan konkret. Pilihan ini berdampak langsung pada cara pembaca memahami ketidakadilan itu sendiri.
Penindas yang Tak Bernama vs Penindas yang Dituding
Dalam Bunga dan Tembok, penindas tidak pernah disebut sebagai individu. Ia hadir sebagai “engkau” yang menjelma tembok, dingin, besar, kaku, dan impersonal. Tembok bukan manusia, tapi struktur. Ia tidak punya rasa bersalah, tidak bisa diajak dialog, dan tidak tersentuh oleh tangisan. Dengan cara ini, Wiji Thukul seakan berkata bahwa ketidakadilan bukan semata kesalahan orang per orang, melainkan sistem yang sengaja dibangun untuk menghalangi kehidupan.
Sebaliknya, dalam puisi Kau, penindas terasa sangat manusiawi. Ia bisa “menari-nari di atas penderitaan kami”, bisa melihat keringat, bisa memilih untuk bersyukur atau tidak. Artinya, penindasan di sini dipahami sebagai hasil dari pilihan moral individu, bukan semata akibat sistem besar yang tak terlihat.
Perbedaan ini penting karena jarang dibahas: Bunga dan Tembok mengajak pembaca marah pada struktur, sementara Kau mengajak pembaca marah pada orang.
Dampak Psikologis ke Pembaca
Akibat dari strategi ini, reaksi emosional pembaca pun berbeda. Saat membaca Bunga dan Tembok, pembaca cenderung merasa kecil tapi juga kuat secara kolektif. Tidak ada sosok yang bisa langsung disalahkan, sehingga kemarahan berubah menjadi kesadaran politik. Puisi ini tidak menguras emosi, tetapi menyuntikkan keteguhan.
Sebaliknya, Kau justru menguras emosi secara langsung. Repetisi “lihat kami!” membuat pembaca merasa ditarik masuk ke posisi korban. Puisi ini bekerja lewat empati dan rasa bersalah. Namun, karena penindasnya begitu personal, kemarahan pembaca berisiko berhenti pada emosi sesaat, bukan refleksi jangka panjang.
Dengan kata lain, Bunga dan Tembok membuat pembaca berpikir, sementara Kau membuat pembaca merasa.
Bahasa sebagai Cermin Cara Memahami Ketidakadilan
Hal unik lain yang jarang disentuh adalah cara kedua puisi memahami penderitaan. Dalam Bunga dan Tembok, penderitaan tidak diceritakan secara detail. Tidak ada keringat, lapar, atau tangis. Ini bukan kelalaian, tapi pilihan sadar: penderitaan dianggap sudah cukup jelas, yang lebih penting adalah apa yang tumbuh setelahnya.
Sebaliknya, Kau menumpuk citra penderitaan: kelelahan, keringat, kekurangan, lapar. Penderitaan harus diperlihatkan berkali-kali agar “kau” mau melihat. Ini menunjukkan bahwa dalam puisi Kau, penderitaan masih membutuhkan pengakuan, sedangkan dalam Bunga dan Tembok, penderitaan sudah menjadi fakta yang tak perlu dibuktikan lagi.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa kedua puisi tidak sekadar berbeda gaya, tetapi berbeda cara pandang terhadap ketidakadilan itu sendiri. Bunga dan Tembok melihat penindasan sebagai tembok struktural yang harus diruntuhkan bersama, sedangkan Kau melihat penindasan sebagai kelalaian moral yang harus dipertanggungjawabkan secara etis.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
