Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fathiya Nurul Khaira Khaira

Bunga yang Menembus Tembok hingga Kehidupan: Perjuangan Rakyat dalam Dua Puisi

Kabar | 2026-01-05 11:25:07

Pernahkah kita berhenti sejenak memikirkan perjuangan orang-orang di sekitar kita? Kadang kita hanya melihat mereka dari luar bekerja keras, berjuang untuk hidup, tapi tak banyak yang terlihat. Dua puisi karya Wiji Thukul dan Nuke Hanasasmit, “Bunga dan Tembok” dan “Kau”, mengajak kita merasakan perjuangan itu dengan cara yang berbeda, tapi sama-sama menyentuh.

Photo by cottonbro studio: https://www.pexels.com/photo/hands-sticking-out-from-plastic-wrap-3738213/

Perjuangan rakyat dalam kedua puisi sama-sama menampilkan semangat menghadapi ketidakadilan dan penderitaan, meskipun diwujudkan melalui bentuk dan konteks yang berbeda. Dalam puisi “Bunga dan Tembok”, perjuangan rakyat digambarkan secara simbolik melalui metafora bunga yang melawan tembok. Rakyat berjuang melawan kekuasaan yang menindas, mempertahankan hak-hak mereka, keberadaan, dan harga diri di tengah tekanan yang terus-menerus, terlihat pada baris “seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh” dan “seumpama bunga kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri”. Perjuangan ini bersifat kolektif dan optimis, dengan keyakinan bahwa perlawanan mereka akan membuahkan perubahan, seperti pada baris penutup “suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!”.

Sementara itu, dalam puisi “Kau”, perjuangan rakyat digambarkan secara nyata dan langsung melalui kehidupan sehari-hari yang keras. Rakyat terus bekerja keras meski menghadapi kemiskinan, keletihan, dan ketidakadilan, sementara pihak yang berkuasa tetap menikmati kenyamanan. Hal ini terlihat pada baris “Kami mencoba kuat di atas kekurangan, Tak lelah banting tulang” dan “Kau curi hak kami, Kau biarkan kami menderita”. Perjuangan ini menekankan keteguhan, kesabaran, dan pantang menyerah untuk mempertahankan hidup dan martabat, walaupun mereka tidak bisa membalas ketidakadilan secara langsung. Keyakinan akan keadilan Tuhan menjadi dorongan moral bagi rakyat untuk tetap bertahan, seperti pada baris “Kami memang tak mampu balas dirimu Karena Tuhan yang akan balas dirimu”.

Persamaan kedua puisi terletak pada penekanan nilai-nilai perjuangan menurut Joyomartono, yaitu rela berkorban, sabar, pantang menyerah, persatuan, kerja sama, dan penghargaan terhadap perjuangan. Keduanya menampilkan rakyat yang bersedia menghadapi penderitaan demi tujuan yang lebih besar, tetap bertahan di tengah kesulitan, dan menghargai usaha sendiri maupun usaha bersama, seperti terlihat pada baris “kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri” dalam Bunga dan Tembok dan “Kami mencoba kuat di atas kekurangan, Tak lelah banting tulang” dalam Kau.

Perbedaannya terletak pada cara perjuangan diwujudkan dan konteksnya. Puisi “Bunga dan Tembok” menampilkan perjuangan secara simbolik, kolektif, dan bersifat politis, dengan fokus pada perlawanan terhadap kekuasaan represif dan optimisme perubahan sosial, seperti pada baris “suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!”. Sedangkan puisi “Kau” menampilkan perjuangan yang lebih nyata dan humanis, berfokus pada kehidupan sehari-hari rakyat kecil, kesabaran, dan keteguhan moral di tengah ketidakadilan, dengan dorongan keadilan ilahi sebagai motivasi, seperti pada baris “Kami memang tak mampu balas dirimu Karena Tuhan yang akan balas dirimu”.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari dua puisi ini? Bahwa perjuangan tidak selalu harus heroik atau besar. Bisa berupa bunga yang menembus tembok kekuasaan, atau kesabaran dan ketekunan menghadapi hidup sehari-hari. Yang penting, semangat juang itu lahir dari keteguhan hati, solidaritas, dan keyakinan bahwa hari esok bisa lebih baik. Bukankah ini pelajaran penting bagi kita semua, terutama di tengah kerasnya kehidupan modern?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image