Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ruslan Sudrajat

Venezuela dalam Cengkeraman Hegemon: Membaca Serangan Amerika Serikat Lewat Teori Sistem Dunia Wallerstein

Rubrik | 2026-01-04 20:59:45
Ilustrasi Serangan Amerika Ke Venezuela. Foto: Shutterstock

Ditulis Oleh: Ruslan Sudrajat Mahasiswa Magister Sosiologi FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kenapa Intervensi Amerika Serikat Bukan Sekadar Serangan Militer, tapi Manifestasi Konflik Struktural Sistem Dunia?

Serangan Amerika Serikat ke Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Nicolás Maduro, bukan sekadar insiden militer sporadis—tetapi puncak konflik geostrategis dan geoekonomi yang telah berakar dalam struktur kapitalistik dunia modern. Fenomena ini menjadi laboratorium hidup untuk memahami teori Sistem Dunia Immanuel Wallerstein, yang melihat relasi kuasa global bukan sebagai peristiwa ad-hoc, tetapi struktur konflik yang dibentuk oleh hierarki pusat-semi-perifer-perifer dalam sistem kapitalis dunia.

Wallerstein dan Hierarki Sistem Dunia: Membaca Konflik Venezuela

Menurut Wallerstein, dunia kapitalis tidak homogen; ia dibagi menjadi tiga zona utama:

Negara-negara pusat—hegemon ekonomi dan militer (mis. Amerika Serikat).

Negara-negara semi-perifer—negara kunci namun rentan dominasi.

Negara-negara perifer—pemasok sumber daya, tenaga murah, dan pasar.

Dalam kerangka ini, Venezuela secara historis berada di posisi semi-perifer–perifer, kaya sumber daya (terutama minyak), tapi bergantung pada sistem perdagangan global. Sementara AS sebagai kekuatan pusat, mempertahankan dominasi sistem melalui akses ekonomi, politik, dan—dalam krisis terakhir—kekuatan militer.

Dari Ekonomi ke Militer: Ketergantungan dan Dominasi

Posisi Venezuela sebagai eksportir minyak besar dan aktor dalam rantai energi global menjadikan negara ini target utama kebijakan luar negeri AS. Ketika negara seperti Venezuela menolak dominasi korporasi minyak Barat dan menuntut kedaulatan atas sumber daya—ini berarti menantang logika akumulasi modal negara pusat. Menurut perspektif Wallerstein, konflik semacam ini bukan anomali, melainkan bagian dari permanen konflik sistemik antara aktor pusat yang ingin menjaga surplus dan aktor periferal yang mencoba memaksimalkan kedaulatan.

Petualangan militer terbaru ini menunjukkan transformasi cara dominasi: dari intervensi ekonomi solo (seperti sanksi dan blokade) menjadi dominasi militer langsung, sesuai dorongan negara pusat untuk mempertahankan dominasi sistemik. Langkah ini mencerminkan upaya keras untuk menjaga kontrol atas sumber modal penting dalam sistem kapitalis global.

Penangkapan Presiden Maduro: Antara Hukum dan Hegemon

AS mengklaim legalitas atas penangkapan Maduro berdasarkan dakwaan yang telah lama berjalan sejak 2020, termasuk tuduhan narkotrafik dan terorisme. Namun, banyak pengamat menilai operasi ini sebagai tindakan hegemon superpower—dominasi legal dan militer secara bersamaan—yang menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.

Presiden Brasil dan negara lain menyerukan respons PBB, menegaskan serangan tersebut melampaui batas yang dapat diterima secara hukum internasional. Dari perspektif sistem dunia, ini menunjukkan bagaimana kekuatan pusat dapat mengeksploitasi sistem hukum global senyawanya untuk mempertahankan dominasi struktural atas periferi.

Logika Kapital Global dan Minyak Venezuela

Permintaan akses terhadap minyak Venezuela—salah satu cadangan terbesar di dunia—merupakan motif yang tak terpisahkan dari intervensi ini. Di bawah tekanan geopolitik ini, negara pusat menerapkan serangkaian strategi mulai dari embargo ekonomi, sanksi, hingga intervensi militer terbuka. Dalam kerangka Wallerstein, dominasi atas sumber daya global bukan hanya soal ekonomi semata, tetapi tentang posisi strategis dalam rantai nilai kapitalis dunia.

Kebijakan ini juga menciptakan tekanan bagi negara-negara perifer lain yang bergantung pada investasi dan pasar besar AS, membentuk jaringan ketergantungan yang meminggirkan kapasitas negara-negara tersebut untuk mencapai kebijakan independen.

Genesis Kepentingan AS: Bukan Isolasi, Tapi Strategi Sistemik

Menelusuri aksi ini secara historis, dominasi AS di hemisfer Barat telah melibatkan intervensi politik dan ekonomi berulang di Amerika Latin sejak era Monroe Doctrine. Wallersteinian membaca ini bukan sebagai lonjakan kebijakan, tetapi strategi sistemik yang terinternalisasi dalam struktur kapitalis dunia untuk menjaga keseimbangan surplus dan dominasi pusat.

Tindakan seperti menjatuhkan rezim yang dituduh korup atau anti-Barat, dalam analisis sistem dunia, bukan sekadar perubahan rezim tapi upaya mengubah permainan kekuasaan ekonomi global. Intervensi tersebut mempengaruhi aliran modal, investasi asing, dan stabilitas pasar minyak dunia—semuanya elemen tematik dalam sistem kapitalis global.

Implikasi Sosial di Dalam Negeri Venezuela

Dari perspektif sosiologi, peristiwa ini memperparah ketimpangan struktural di Venezuela: krisis ekonomi, migrasi massal, dan fragmentasi sosial—yang sebelumnya telah didorong oleh sanksi dan krisis internal—kini diperuncing oleh intervensi militer asing. Ini mencerminkan dinamika konflik internal yang terkait erat dengan tekanan eksternal: kelas politik lokal, rezim militer, kapitalisme petrodollar global—semuanya berinteraksi dalam struktur konflik sistemik.

Konflik Sistem Dunia sebagai Konflik Yang Tidak Terelakkan

Strategi dan langkah militer AS di Venezuela bukan hanya operasi militer isolatif, tetapi manifestasi dari struktur konflik dalam sistem kapitalis dunia yang berakar pada asumsi dominasi pusat atas periferi. Intervensi tersebut menunjukkan bagaimana kekuatan hegemon mempertahankan pengaruh ekonomi dan politik melalui kombinasi tekanan hukum, diplomasi, dan militer.

Bagi generasi milenial dan Gen Z yang peduli terhadap keadilan global, masalah ini harus dipahami bukan hanya sebagai berita sensasional semata, melainkan sebagai konsekuensi logis dari sistem dunia kapitalis yang terus mengatur aliran kekuasaan, sumber daya, dan resistensi.

Penting untuk menimbangkan bahwa konflik ini tidak akan selesai hanya dengan perubahan rezim. Tanpa transformasi terhadap struktur sistem dunia yang timpang—yang memperbolehkan hegemon untuk mengintervensi periferi secara militer dan ekonomi—ketidakadilan global semacam ini akan terus berulang. Pertanyaan mendasar yang harus kita hadapi: apakah kita akan terus menerima dominasi struktural ini sebagai ‘normal’ atau mencari alternatif sistemik yang lebih adil?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image