Perkembangan Fisik dan Intelektual Anak Usia Sekolah Dasar
Info Terkini | 2026-01-04 18:35:33Disusun oleh : Azizah Bunga Indah Lestari, Nazwa Nabila ,Romlah Hasanah
Perkembangan Fisik dan Intelektual Anak Usia Sekolah Dasar
Pendahuluan
Anak usia Sekolah Dasar mengalami perkembangan yang pesat, baik dari segi fisik maupun kecerdasan. Pada usia ini, tubuh anak tumbuh secara bertahap, otot dan tulang semakin kuat, serta gerakan menjadi lebih terkoordinasi. Anak sudah mampu menulis dengan rapi, bermain aktif, dan mengikuti kegiatan olahraga.
Dari sisi kecerdasan, anak mulai mampu berpikir lebih logis dan memahami pelajaran di sekolah. Anak dapat mengelompokkan benda, memahami sebab-akibat, serta belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan lebih baik. Kemampuan berpikir anak berkembang melalui interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan sekitar.
Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, seperti pandai berbicara, berhitung, bergerak, atau bekerja sama dengan orang lain. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan dukungan dan bimbingan agar dapat berkembang secara optimal.
Perkembangan fisik yang sehat dan kecerdasan yang baik akan membantu anak menjadi lebih percaya diri dan siap menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya.
Perspektif Berbagai Teori
Usia Sekolah Dasar (6–12 tahun) merupakan fase perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan anak. Pada tahap ini, anak mengalami perubahan signifikan baik secara fisik maupun intelektual. Pemahaman terhadap perkembangan anak berdasarkan berbagai teori diperlukan sebagai landasan dalam perencanaan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Perkembangan Fisik Anak Usia Sekolah Dasar
· Menurut teori kematangan biologis Arnold Gesell, perkembangan fisik anak ditentukan oleh kesiapan biologis yang berlangsung secara alami. Pada usia sekolah dasar, pertumbuhan tinggi dan berat badan terjadi secara stabil, disertai peningkatan kekuatan otot dan koordinasi gerak
· Hurlock menjelaskan bahwa pada masa ini terjadi perkembangan pesat pada motorik kasar dan motorik halus. Anak semakin terampil dalam aktivitas fisik seperti menulis, menggambar, bermain, dan berolahraga. Perkembangan fisik yang optimal mendukung kesiapan anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran formal.
Perkembangan Intelektual Anak Usia Sekolah Dasar
· Jean Piaget menyatakan bahwa anak usia 7–11 tahun berada pada tahap operasional konkret, di mana anak mampu berpikir logis namun masih terbatas pada objek yang bersifat nyata. Anak mulai memahami konsep konservasi, klasifikasi, dan hubungan sebab-akibat.
· Lev Vygotsky menekankan bahwa perkembangan intelektual anak dipengaruhi oleh interaksi sosial. Melalui Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), anak dapat mencapai kemampuan berpikir yang lebih tinggi dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya.
· Bruner berpendapat bahwa anak usia sekolah dasar mulai menggunakan representasi simbolik, seperti bahasa dan angka, sehingga kemampuan berpikir akademik berkembang. Sementara itu, Gardner menegaskan bahwa perkembangan intelektual anak bersifat majemuk, meliputi kecerdasan linguistik, logis-matematis, kinestetik, dan sosial.
Pentingnya kecerdasan emosional dan cara meningkatnya.
Kecerdasan emosional (EQ/EI) adalah kemampuan memahami, mengelola, dan mengendalikan emosi diri sendiri serta orang lain agar dapat menjalin hubungan sosial yang baik dan membuat keputusan yang bijak. Selain kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional sangat penting karena keduanya saling melengkapi dalam mencapai kesuksesan, kesejahteraan, dan kesehatan mental maupun fisik.
EQ berperan besar dalam kemampuan bersosialisasi, mengelola stres, memimpin, memotivasi orang lain, serta menjaga kesehatan mental. Orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih sejahtera, tidak mudah mengalami stres berlebihan, kecemasan, atau depresi, dan memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit akibat stres berkepanjangan.
Menurut Daniel Goleman, terdapat 5 komponen utama kecerdasan emosional, yaitu:
- Kesadaran diri, kemampuan mengenali dan memahami emosi diri sendiri.
- Pengendalian diri, kemampuan mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat.
- Keterampilan sosial, kemampuan berkomunikasi dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.
- Empati, kemampuan memahami perasaan dan sudut pandang orang lain.
- Motivasi diri, dorongan dari dalam diri untuk berkembang, berprestasi, dan memperbaiki diri.
Kecerdasan emosional dapat dilatih dan ditingkatkan melalui refleksi diri, komunikasi yang baik, empati, pengelolaan emosi, serta penetapan tujuan hidup yang positif.
Kecerdasan Emosional dan Ciri-cirinya
Kecerdasan emosional (EQ) menurut Goleman (2017) adalah kemampuan seseorang dalam mengatur, menjaga, dan mengekspresikan emosi secara tepat melalui kesadaran diri, pengendalian diri, empati, motivasi diri, dan keterampilan sosial. Meskipun tidak sepopuler kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam mengenali emosi diri, menumbuhkan empati, peka terhadap lingkungan, serta menjaga kesehatan mental yang stabil. Individu dengan EQ yang baik cenderung lebih mampu mengatasi permasalahan sosial dan tekanan hidup.
Orang yang memiliki kecerdasan emosional menunjukkan beberapa ciri utama, antara lain:
- Kontrol diri, yaitu kemampuan mengendalikan emosi dan perilaku sesuai nilai moral, norma, dan aturan sosial. Kontrol diri mencakup disiplin, tidak impulsif, kebiasaan baik, etika kerja, serta konsistensi dalam mencapai tujuan.
- Self-awareness (kesadaran diri), yakni kemampuan mengenali emosi, kelebihan, dan keterbatasan diri, sehingga mampu mengambil keputusan secara tepat dan percaya diri meskipun berada dalam tekanan.
- Empati, yaitu kemampuan memahami dan merasakan perasaan orang lain, menjadi pendengar yang baik, peduli, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
- Mengenali batas kemampuan diri, yaitu menyadari kelebihan dan kekurangan diri, tidak merasa paling tahu, serta terbuka untuk belajar dan berkembang.
- Tidak menyimpan dendam, yakni mampu mengelola amarah, memaafkan, dan fokus pada solusi, sehingga terhindar dari dampak negatif stres seperti gangguan kesehatan fisik dan mental.
Secara keseluruhan, kecerdasan emosional membantu individu membangun hubungan sosial yang baik, menjaga kesehatan mental, serta menciptakan emosi yang lebih positif dalam kehidupan sehari-hari.
Top of Form
Bottom of Form
Kesimpulan
Perkembangan fisik dan intelektual anak usia sekolah dasar berlangsung secara saling berkaitan. Berbagai teori menunjukkan bahwa kematangan fisik, kemampuan berpikir logis, serta dukungan lingkungan sosial merupakan faktor utama dalam menunjang keberhasilan perkembangan anak.
Daftar Pustaka
Hurlock, E. B. (2013). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Piaget, J. (1972). The Psychology of the Child. New York: Basic Books.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Cambridge: Harvard University Press.
Bruner, J. S. (1986). Actual Minds, Possible Worlds. Cambridge: Harvard University Press.
Gardner, H. (2011). Frames of Mind. New York: Basic Books.
Anindya, I. 10 November 2020. 9 Ciri Orang yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Tautan: https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/9-ciri-kecerdasan-emosional/#gref (daring). (Diakses: 25 Januari 2021).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
