Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Gladis Salsabila

Dari Menghafal ke Menalar dalam Konsep Ki Hajar Dewantara

Sejarah | 2026-01-07 12:54:33

Ki Hajar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan pembentukan manusia merdeka yang mampu berpikir kritis dan bertanggung jawab. Dalam kerangka ini, pergeseran dari sekadar menghafal menuju kemampuan menalar menjadi inti dari gagasan beliau.

Menghafal dianggap sebagai tahap awal dalam proses belajar, namun tidak boleh berhenti di sana. Pendidikan yang hanya menekankan hafalan akan melahirkan generasi yang pasif, sementara tujuan pendidikan menurut Ki Hajar adalah membentuk manusia yang aktif, kreatif, dan berdaya guna bagi masyarakat.Menghafal memang memiliki fungsi penting sebagai fondasi pengetahuan. Tanpa hafalan, seseorang tidak memiliki bahan dasar untuk berpikir lebih lanjut. Namun, Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa hafalan harus ditransformasikan menjadi pemahaman yang mendalam.

Menalar berarti mengolah informasi yang dihafal menjadi pengetahuan yang bermakna, sehingga peserta didik mampu menghubungkan konsep dengan realitas sosial. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada penguasaan teks, melainkan berkembang menjadi kemampuan analisis dan sintesis.Dalam konteks pendidikan modern, pergeseran dari menghafal ke menalar sejalan dengan paradigma pembelajaran berbasis kompetensi.

Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya filosofi *“ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”* sebagai prinsip pendidikan. Prinsip ini menuntut guru untuk tidak hanya memberikan materi yang harus dihafal, tetapi juga membimbing siswa agar mampu menalar dan mengembangkan pemikiran mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang menuntun, bukan sekadar pengajar yang mengisi memori siswa.Lebih jauh lagi, menalar dalam konsep Ki Hajar Dewantara juga terkait erat dengan pembentukan karakter.

Proses berpikir kritis dan reflektif akan melahirkan individu yang mampu mengambil keputusan secara bijak. Hal ini berbeda dengan sekadar menghafal yang hanya menghasilkan reproduksi informasi tanpa pemahaman mendalam. Dengan menalar, peserta didik belajar untuk mempertimbangkan nilai, norma, dan konteks sosial dalam setiap tindakannya.

Pendidikan yang menekankan penalaran akan lebih relevan dalam membentuk warga negara yang bertanggung jawab dan beretika.Sebagai contoh konkret, pergeseran ini dapat dilihat dalam pembelajaran sejarah. Jika siswa hanya diminta menghafal tanggal dan peristiwa, maka pengetahuan yang diperoleh bersifat statis. Namun, jika siswa diajak menalar, mereka akan menganalisis sebab-akibat peristiwa, relevansi sejarah dengan kondisi masa kini, serta implikasi bagi kehidupan sosial.

Dengan demikian, sejarah tidak lagi sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber refleksi untuk membangun masa depan.Dalam ranah sosial, kemampuan menalar sangat penting untuk menghadapi tantangan globalisasi dan arus informasi yang cepat. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi menyesatkan. Menghafal fakta tanpa penalaran membuat individu rentan terhadap manipulasi.

Sebaliknya, penalaran yang baik memungkinkan seseorang memilah informasi, menilai kebenaran, dan mengambil sikap yang tepat. Hal ini tentu berimplikasi pada metode pembelajaran; model pembelajaran aktif, kolaboratif, dan berbasis masalah menjadi lebih sesuai untuk mendorong siswa mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi nyata.Konsep Ki Hajar Dewantara tentang pergeseran dari menghafal ke menalar merupakan landasan vital bagi pendidikan Indonesia.

Meskipun hafalan tetap diperlukan sebagai dasar, ia harus ditransformasikan menjadi penalaran yang kritis dan reflektif. Pendidikan yang menekankan penalaran akan melahirkan generasi yang merdeka, kreatif, dan bertanggung jawab. Dalam konteks sosial masa kini, gagasan ini semakin relevan untuk membentuk manusia Indonesia yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan kecerdasan serta kebijaksanaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image