Representasi Religiusitas dalam Musyawarah Burung dan Robohnya Surau Kami
Sastra | 2026-01-03 11:19:35Sastra kerap menjadi ruang refleksi yang jujur bahkan berani dalam mempersoalkan cara manusia memahami Tuhan dan menjalani kehidupan beragama. Dua karya yang lahir dari latar, zaman, dan gaya berbeda, Musyawarah Burung dan Robohnya Surau Kami, sama-sama menghadirkan gugatan terhadap religiusitas yang mapan. Meski disampaikan melalui strategi estetik yang berlainan, keduanya bertemu pada satu persoalan penting “apa makna keimanan yang sesungguhnya bagi manusia?”.
Musyawarah Burung menampilkan religiusitas dalam bentuk yang simbolik dan alegoris. Burung-burung yang melakukan perjalanan spiritual menuju Simurgh tidak sekadar hadir sebagai tokoh, melainkan sebagai representasi manusia dengan berbagai karakter: ragu, ambisius, takut, egois, dan pasrah. Perjalanan mereka adalah metafora pencarian Tuhan dan makna hidup. Religiusitas dalam karya ini tidak disampaikan melalui ritual formal atau dogma, melainkan melalui perjalanan batin. Pembaca diajak merenung bahwa mendekat kepada Tuhan menuntut keberanian melnepaskan ego, kepentingan duniawi, dan kepastian semu.
Dengan demikian, religiusitas dipahami sebagai proses panjang yang penuh kesadaran, bukan tujuan instan yang mudah dicapai. Gaya alegoris ini membuat kritik terasa halus namun mendalam. Musyawarah Burung tidak menyalahkan secara langsung, tetapi mengajak pembaca bercermin: sejauh mana manusia benar-benar mencari Tuhan, dan sejauh mana ia justru mencari pembenaran bagi dirinya sendiri.Berbeda dengan Musyawarah Burung, Robohnya Surau Kami menyajikan religiusitas secara realistis dan satiris. Cerpen ini secara tajam mempertanyakan praktik keberagamaan yang hanya berorientasi pada ibadah personal, tetapi mengabaikan tanggung jawab sosial. Tokoh Garin digambarkan sebagai sosok yang taat beribadah, namun kehidupannya justru tidak memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui kisah yang disampaikan Ajo Sidi, cerpen ini mengguncang keyakinan pembaca: apakah ibadah yang tekun otomatis menjamin nilai kebaikan di mata Tuhan? Religiusitas di sini dipertanyakan secara terbuka dan bahkan terasa mengusik, karena menyentuh kebiasaan yang selama ini dianggap benar. Kritik yang disampaikan bersifat langsung dan lugas. Tidak ada simbol berlapis seperti dalam Musyawarah Burung.
Namun justru karena itu, Robohnya Surau Kami terasa dekat dengan realitas sosial dan mampu memancing kegelisahan pembaca.Musyawarah Burung dan Robohnya Surau Kami menunjukkan bahwa sastra memiliki keberanian untuk menggugat cara manusia memahami Tuhan. Dengan pendekatan simbolik dan satiris, kedua karya ini mengingatkan bahwa religiusitas bukan sekadar soal seberapa rajin seseorang beribadah, melainkan seberapa jauh kesadaran spiritual itu berdampak pada kemanusiaan.
Melalui dua karya ini, pembaca diajak untuk tidak berhenti pada ritual dan simbol, tetapi melangkah lebih jauh: menjadikan iman sebagai kesadaran, tanggung jawab, dan tindakan yang bermakna.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
