Transformasi Digital dan Bias Gender: Ketika Teknologi tak Lagi Netral
Teknologi | 2026-01-02 14:03:31
Transformasi digital telah menjadi agenda strategis dalam Pembangunan nasional, terutama melalui pemanfaatan sistem informasi dalam pengambilan keutusan dan layanan public. Digitalisasi sering dipromosikan sebagai solusi menuju Masyarakat yang lebih efisien dan inklusif. Namun, dibalik narasi tersebut, terdapat persoalan mendasar yang sering luput dari perhatian pembuat kebijakan: teknologi tidak pernah sepenuhnya netral, khususnya dalam konteks kesetaraan gender.
Bias Gender yang Tersemat dalam Data
Sistem Informasi bekarja berdasarkan data historis dan algoritma yang dirancang oleh manusia. Ketika data tersebut lahir dari struktur sosial yang timpang, bias gender ikut terbawa dan dilembagakan dalam sistem digital. Alih-alih mengoreksi ketimpangan, teknologi justru mereproduksi pola lama secara otomatis dan massif. Hal ini terlihat dalam berbagai sistem rekrutmen berbasis algoritma yang cenderung merekomendasikan profil dominan laki-laki untuk posis strategis.
Safiya Umoja Noble, akademisi yang meneliti etika algoritma, menegaskan bahwa algoritma tidak pernah sepenuhnya objektif karena membawa nilai dan kepentingan sosial pembuatnya. Tanpa audit etis, sistem informasi berisiko mengunci ketimpangan gender dalam keputusan otomatis yang sulit dipertanyakan.
Ketika Digital Tak Ramah Perempuan
Persoalan serupa muncul dalam digitalisasi layanan publik. Pendaftaran bantuan sosial, layanan kesehatan, hingga pelaporan kekerasan kini banyak dilakukan secara daring. Sepanjang 2024–2025, Komnas Perempuan mencatat ribuan kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO), dengan mayoritas korban adalah perempuan. Ironisnya, sistem pelaporan digital masih terfragmentasi dan belum terintegrasi lintas lembaga, sehingga kerap menyulitkan korban.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan masih adanya kesenjangan literasi digital antara laki-laki dan perempuan, terutama di wilayah pedesaan. Ketika sistem informasi dirancang dengan asumsi akses dan kemampuan digital yang setara, perempuan menjadi kelompok yang paling berisiko tertinggal dari layanan dasar.
Memberi Arah Nilai pada Transformasi Digital
Padahal, sistem informasi memiliki potensi besar untuk mendorong kesetaraan gender. Data terpilah berbasis gender dapat menjadi dasar kebijakan publik yang lebih presisi. Platform kerja digital dan sistem kerja jarak jauh juga membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan, jika disertai perlindungan data dan regulasi yang adil.
Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia, pernah menyatakan bahwa teknologi hanya mempercepat arah yang telah ditentukan manusia. Pernyataan ini menegaskan bahwa tantangan utama transformasi digital bukan pada kecepatan inovasi, melainkan pada nilai yang menjadi fondasinya.
Tanpa perspektif keadilan gender, sistem informasi beresiko menjadi wajah baru dari ketimpangan lama yang deilembagakan secara digital. Sebaliknya, dengan keberpihakkan kebijakan, desain inklusif, serta pengawasan etis yang kuat, teknologi dapat diarahkan menjadi instrument strategis negara untuk mewujudkan keadilan sosial yang lebih substantif.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
