Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ummu Firly

Menimbang Makna Hijrah di Tengah Budaya Perayaan

Agama | 2025-12-31 07:21:03

Setiap akhir tahun, ruang publik kita kembali dipenuhi hiruk-pikuk perayaan. Kembang api meledak di langit malam, pesta musik digelar hingga dini hari, dan media sosial dibanjiri euforia pergantian tahun. Ironisnya, di negeri dengan mayoritas penduduk Muslim, momen ini kerap dirayakan tanpa refleksi makna, bahkan tak jarang bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup, tetapi menunjukkan persoalan yang lebih dalam: krisis cara pandang umat terhadap makna hijrah dan perubahan.

Antara Tradisi Global dan Krisis Identitas Umat

Setiap tahun, aparat keamanan mencatat peningkatan pelanggaran moral saat malam tahun baru: konsumsi miras, pergaulan bebas, pesta tanpa batas, hingga kecelakaan lalu lintas. Data Korlantas Polri menunjukkan, malam pergantian tahun kerap menjadi salah satu momen dengan tingkat kecelakaan tertinggi akibat kelalaian dan euforia berlebihan.

Ironisnya, semua ini berlangsung di tengah masyarakat Muslim terbesar di dunia. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan umat hari ini bukan semata kurangnya ritual ibadah, melainkan hilangnya standar hidup Islami dalam mengelola waktu, perayaan, dan arah kehidupan.

Banyak yang mengaku berhijrah, namun makna hijrah direduksi sebatas perubahan penampilan atau simbol personal. Padahal, hijrah sejatinya adalah perubahan menyeluruh: dari sistem hidup jahiliyah menuju sistem yang diatur oleh nilai-nilai Islam.

Hijrah Bukan Sekadar Simbol, tapi Perubahan Sistemik

Dalam sejarah Islam, hijrah Rasulullah S.A.W dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis. Hijrah adalah langkah strategis membangun tatanan masyarakat baru, berbasis tauhid, hukum Allah, dan keadilan sosial. Dari situlah lahir peradaban yang mengatur akhlak, ekonomi, politik, hingga hubungan antarumat manusia.

Sayangnya, makna besar ini hari ini direduksi menjadi sekadar tren: hijrah fesyen, hijrah konten, atau hijrah gaya hidup individual. Sementara sistem yang melahirkan kerusakan moral justru dibiarkan tetap berdiri.

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berkompromi dengan sistem jahiliyah. Rasulullah S.A.W tidak memperbaiki jahiliyah sedikit demi sedikit, tetapi menggantinya dengan sistem Islam secara menyeluruh.

Saatnya Hijrah Sistemik, Bukan Seremonial

Jika pergantian tahun hanya diisi dengan pesta, tanpa muhasabah arah hidup dan arah umat, maka sejatinya kita sedang berjalan di tempat. Islam mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari kesadaran ideologis: memahami mana yang benar dan mana yang batil, mana yang harus ditinggalkan dan mana yang harus diperjuangkan.

Hijrah hakiki bukan tentang meniup terompet atau menghitung detik pergantian tahun, melainkan keberanian meninggalkan sistem kehidupan yang bertentangan dengan nilai Ilahi menuju tatanan yang diridhai Allah.

Di tengah krisis moral global hari ini, umat Islam dituntut bukan hanya menjadi penonton, tetapi pelaku perubahan. Perubahan yang tidak sekadar simbolik, melainkan menyentuh akar persoalan: sistem pendidikan, ekonomi, budaya, hingga arah peradaban.

Penutup

Tahun baru seharusnya menjadi momentum muhasabah kolektif, bukan sekadar euforia sesaat. Sudah saatnya umat Islam kembali menimbang hidupnya dengan standar wahyu, bukan sekadar tren dunia. Sebab hijrah sejati bukan tentang merayakan waktu, tetapi tentang keberanian meninggalkan sistem yang salah dan melangkah menuju tatanan yang diridhai Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image