Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alya Nursyabani

Short Drama dan Generasi Kampus: Hiburan, Distraksi, atau Inspirasi?

Drama | 2025-12-30 13:11:30
canva: gambar pribadi.

Di sela padatnya jadwal kuliah, tugas yang menumpuk, dan tekanan pencapaian akademik, mahasiswa kerap hidup berdampingan dengan ponsel yang dimana kebiasaan ini nyaris tak terpisahkan dari ritme kehidupan akademik masa kini. Dalam hitungan menit bahkan detik, short drama hadir di berbagai media sosial sebagai hiburan singkat dan mudah diakses. Dalam durasi satu hingga dua menit, cerita-cerita itu menawarkan emosi instan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari hal ini secara perlahan menjadi bagian dari rutinitas kampus. Namun, ada pertanyaan yang muncul: apakah short drama ini sekedar hiburan, justru sekedar distraksi, atau malah mampu memberi inspirasi bagi mahasiswa?

Media Sosial dan Perubahan Gaya Belajar

Fenomena maraknya short drama di kalangan generasi kampus tidak dapat dipisahkan dari bagaimana perubahan cara mahasiswa mengonsumsi informasi di era digital. Media sosial dengan algoritmanya, mendorong konten yang cepat, ringkas, dan emosional untuk terus bermunculan di layar. Bagi mahasiswa, hal ini menjadi jeda di tengah kesibukan akademik sebagai pengalih perhatian yang tampak sepele, tetapi berulang.

Tidak sedikit mahasiswa yang awalnya berniat menonton hanya satu episode, tetapi berakhir dengan menghabiskan waktu berjam-jam tanpa sadar. Konsumsi berlebihan dapat mengurangi semangat belajar, menunda tanggung jawab, bahkan dapat membentuk kebiasaan yang merugikan. Pada posisi ini, short drama berpotensi menjadi distraksi jika tidak disikapi dengan kesadaran.

Sebagai mahasiswa, saya merasakan langsung bagaimana konsumsi konten memengaruhi fokus dan cara belajar. Membaca bahan materi kuliah yang panjang, atau menyimak penjelasan dosen dalam durasi lama terkadang terasa lebih melelahkan dibandingkan mengikuti alur cerita yang singkat di media sosial. Perubahan ini bukan berarti mahasiswa kehilangan minat belajar, tetapi mahasiswa menghadapi tantangan baru dalam menjaga atensi dan konsistensi berpikir.

Distraksi Dalam Pendidikan

Pendidikan tinggi pada dasarnya menuntut proses berpikir mendalam. Diskusi, membaca, menulis membutuhkan waktu serta kesabaran. Ketika perhatian terbiasa terpotong-potong, proses tersebut akan lebih sulit dijalani. Di ruang kelas, distraksi kerap hadir dalam bentuk notifikasi. Ini bukan sekedar persoalan kedisiplinan individu, melainkan refleksi dari budaya digital yang membentuk keseharian mahasiswa.

Namun, memandang short drama sebelah mata sebagai ancaman bagi dunia pendidikan, tentu saja kurang adil. Karena, tidak sedikit konten singkat yang justru mengangkat isu sosial, relasi manusia, hingga problem mental yang relevan dengan pengalaman mahasiswa. Dalam batas tertentu, cerita-cerita semacam ini dapat memberi rasa ditemani, sebagai sumber inspirasi, kreativitas, media refleksi, bahkan diskusi kritis. Tetapi persoalannya itu terletak pada keseimbangan antara konsumsi hiburan dan kedalaman belajar.

Seharusnya Menjadi Bahan Evaluasi

Bagi dunia pendidikan, fenomena ini seharusnya menjadi bahan evaluasi. Kampus perlu menyadari bahwa cara belajar mahasiswa telah berubah seiring perkembangan teknologi. Metode pembelajaran yang komunikatif, kontekstual, dan relevan dengan realitas mahasiswa menjadi semakin penting. Namun, adaptasi pendidikan tinggi sebagai ruang pembentukan nalar kritis.

Di sisi lain, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk bersikap lebih sadar terhadap kebiasaan digitalnya. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mengelola waktu, memilih konten, dan memahami dampak algoritma terhadap perhatian. Tanpa kesadaran ini, mahasiswa berisiko terjebak dalam pola konsumsi instan yang menghambat proses belajar jangka panjang.

Apakah Memiliki Jawaban Tunggal?

Pada akhirnya, short drama telah menjadi bagian kehidupan generasi kampus hari ini. Ia tidak bisa sepenuhnya dihindari, tetapi dapat disikapi secara lebih bijak. Bagi mahasiswa, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab akademik. Sementara bagi dunia pendidikan, tantangannya adalah beradaptasi tanpa kehilangan kedalaman.

Pertanyaan mengenai apakah short drama menjadi hiburan, distraksi, atau inspirasi tidak memiliki jawaban yang tunggal. Tetapi, short drama bisa menjadi hiburan, distraksi, ataupun insipirasi, hal itu adalah bagimana cara kita menyikapinya. Refleksi kritis atas fenomena ini penting agar pendidikan tinggi tetap mampu menjalankan perannya, yaitu membentuk mahasiswa yang tidak hanya cepat menyerap informasi, tetapi juga mampu berpikir jernih dan mendalam di tengah arus digital yang kian sangat deras.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image