Perkembangan Emosi Sosial dan Moral di Rentang Sekolah Dasar
Info Terkini | 2025-12-30 12:47:08
PERKEMBANGAN EMOSI SOSIAL DAN MORAL
DI RENTANG SEKOLAH DASAR
Siti Nurhatati, Naya Kinanti
Universitas Pamulang
E-Mail : sitinurhatati403@gmail.com, nayakinanti6@gmail.com
Pendahuluan
Usia sekolah dasar merupakan fase perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak karena pada tahap inilah fondasi kepribadian, sikap, dan perilaku mulai terbentuk secara lebih sistematis. Anak tidak hanya mengalami perkembangan pada aspek fisik dan kognitif, tetapi juga pada aspek emosional, sosial, dan moral yang berperan besar dalam membentuk karakter serta kesiapan anak menghadapi kehidupan bermasyarakat. Perkembangan pada masa ini bersifat holistik, artinya setiap aspek saling memengaruhi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Perkembangan emosi pada anak sekolah dasar mencakup kemampuan anak dalam mengenali, memahami, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi secara tepat. Anak mulai belajar mengelola perasaan seperti marah, sedih, takut, dan senang sesuai dengan situasi yang dihadapi. Kemampuan regulasi emosi yang baik akan membantu anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, membangun hubungan yang positif dengan teman sebaya, serta meningkatkan rasa percaya diri. Sebaliknya, ketidakmampuan mengelola emosi dapat memunculkan perilaku agresif, menarik diri, atau kesulitan beradaptasi secara sosial.
Selain perkembangan emosi, perkembangan sosial juga menjadi aspek penting pada rentang usia sekolah dasar. Pada tahap ini, lingkungan sosial anak semakin luas, tidak hanya terbatas pada keluarga, tetapi juga melibatkan guru, teman sebaya, dan masyarakat sekolah. Anak mulai belajar berinteraksi secara intensif, bekerja sama dalam kelompok, mematuhi aturan, serta memahami peran dan tanggung jawab sosial. Interaksi dengan teman sebaya menjadi sarana utama bagi anak untuk belajar nilai-nilai sosial seperti toleransi, empati, kerja sama, dan saling menghargai perbedaan.
Perkembangan moral pada anak sekolah dasar tidak kalah penting dibandingkan aspek emosi dan sosial. Perkembangan moral berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami nilai, norma, dan aturan yang berlaku di lingkungan sekitarnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Pada tahap ini, anak mulai mampu membedakan perilaku yang dianggap baik dan buruk berdasarkan aturan sosial, harapan orang dewasa, dan konsekuensi yang diterima. Sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moral melalui pembelajaran, keteladanan guru, serta pembiasaan sikap positif dalam kehidupan sekolah.
Ketiga aspek perkembangan tersebut—emosi, sosial, dan moral—berkembang secara dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan keluarga, pola asuh orang tua, iklim sekolah, pergaulan teman sebaya, serta budaya masyarakat. Lingkungan yang positif dan suportif akan mendorong perkembangan anak secara optimal, sedangkan lingkungan yang kurang kondusif dapat menghambat proses perkembangan tersebut. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai karakteristik perkembangan emosi, sosial, dan moral anak sekolah dasar menjadi hal yang sangat penting, khususnya bagi calon pendidik.
Melalui kajian ini, diharapkan pembaca, terutama mahasiswa pendidikan dan calon guru sekolah dasar, dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai perkembangan emosi, sosial, dan moral pada rentang usia sekolah dasar. Pemahaman tersebut dapat menjadi landasan dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik secara utuh
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui pengumpulan berbagai sumber tertulis seperti buku teks perkembangan peserta didik, jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta artikel ilmiah yang relevan dengan topik perkembangan emosi, sosial, dan moral anak sekolah dasar. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif.
Hasil dan Pembahasan
Gambaran Umum Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar
Anak usia sekolah dasar berada pada rentang usia sekitar 6–12 tahun, yang ditandai dengan perkembangan pesat dalam berbagai aspek kehidupan, meliputi aspek fisik, kognitif, emosi, sosial, dan moral. Pada fase ini, anak mulai menunjukkan kemandirian yang lebih besar, kemampuan berpikir yang semakin logis, serta kebutuhan yang meningkat untuk diterima dalam lingkungan sosial yang lebih luas, terutama oleh teman sebaya. Periode ini sering disebut sebagai masa penting (critical period) dalam pembentukan karakter, karena berbagai kebiasaan, nilai, dan sikap mulai tertanam secara lebih permanen.
Hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa perkembangan emosi, sosial, dan moral tidak berlangsung secara terpisah, melainkan saling berkaitan dan saling memengaruhi. Kemampuan anak dalam mengelola emosi akan berdampak pada kualitas hubungan sosialnya, sementara perkembangan moral akan mengarahkan perilaku sosial agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Oleh karena itu, perkembangan yang tidak seimbang pada salah satu aspek dapat memengaruhi aspek lainnya.
Lingkungan sekolah dasar memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung perkembangan ini. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai ruang sosial yang memungkinkan anak belajar mengelola emosi, berinteraksi dengan orang lain, serta memahami nilai-nilai moral melalui pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan Emosi pada Anak Sekolah Dasar
Perkembangan emosi pada anak usia sekolah dasar ditandai dengan meningkatnya kemampuan mengenali, memahami, dan mengekspresikan emosi secara lebih tepat. Anak mulai mampu mengidentifikasi berbagai jenis emosi yang dirasakan, seperti senang, sedih, marah, kecewa, takut, dan bangga, serta memahami penyebab munculnya emosi tersebut. Kesadaran emosi ini menjadi dasar bagi anak dalam mengembangkan kontrol diri dan pengelolaan emosi yang lebih matang.
Salah satu capaian penting dalam perkembangan emosi pada usia ini adalah kemampuan regulasi emosi. Anak mulai belajar menunda kepuasan, mengendalikan amarah, serta menyesuaikan ekspresi emosi dengan tuntutan situasi sosial. Misalnya, anak memahami bahwa meluapkan kemarahan secara berlebihan atau menangis tanpa alasan yang jelas di lingkungan kelas bukanlah perilaku yang dapat diterima. Proses belajar ini berlangsung melalui pengalaman, bimbingan orang dewasa, serta penguatan positif dari lingkungan sekitar.
Faktor lingkungan sangat memengaruhi perkembangan emosi anak. Pola asuh orang tua yang hangat, responsif, dan konsisten akan membantu anak merasa aman secara emosional, sehingga mampu mengekspresikan perasaan dengan sehat. Di sekolah, keteladanan guru dalam mengelola emosi, cara guru merespons perilaku anak, serta iklim kelas yang aman dan suportif turut berperan penting dalam membentuk kestabilan emosi anak.
Selain itu, kemampuan empati pada anak sekolah dasar mengalami perkembangan yang signifikan. Anak mulai mampu memahami perasaan orang lain dan melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda. Perkembangan empati ini mendorong munculnya perilaku prososial, seperti membantu teman yang kesulitan, berbagi, menunjukkan kepedulian, dan bekerja sama. Empati yang berkembang dengan baik akan menjadi landasan penting bagi hubungan sosial yang sehat dan pembentukan karakter yang positif.
Perkembangan Sosial pada Anak Sekolah Dasar
Perkembangan sosial anak sekolah dasar ditandai dengan meluasnya jaringan sosial dan meningkatnya intensitas interaksi dengan teman sebaya. Pada tahap ini, hubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting karena anak mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar lingkungan keluarga. Anak membangun persahabatan berdasarkan kesamaan minat, rasa kebersamaan, kepercayaan, serta pengalaman bersama.
Anak sekolah dasar mulai belajar berbagai keterampilan sosial, seperti bekerja sama dalam kelompok, berbagi peran, mematuhi aturan bersama, serta menyelesaikan konflik secara lebih konstruktif. Melalui kegiatan pembelajaran kelompok, permainan, diskusi kelas, dan aktivitas ekstrakurikuler, anak belajar berkomunikasi secara efektif, mengungkapkan pendapat, mendengarkan orang lain, serta menghargai perbedaan. Pengalaman-pengalaman ini sangat penting dalam membentuk kemampuan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sekolah berperan sebagai lingkungan sosial yang terstruktur, di mana anak diperkenalkan pada norma, aturan, dan peran sosial yang lebih formal. Di lingkungan sekolah, anak belajar disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama dalam konteks yang lebih luas. Guru memiliki peran sentral sebagai fasilitator, pembimbing, sekaligus model dalam menunjukkan perilaku sosial yang positif. Sikap guru yang adil, empatik, dan menghargai perbedaan akan membantu menciptakan iklim sosial yang kondusif bagi perkembangan sosial anak.
Interaksi sosial yang positif di sekolah tidak hanya berdampak pada keterampilan sosial, tetapi juga berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan kesejahteraan emosional anak. Anak yang merasa diterima dan dihargai dalam lingkungan sosialnya cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi serta sikap yang lebih positif terhadap sekolah.
Perkembangan Moral pada Anak Sekolah Dasar
Perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar berkaitan dengan kemampuan memahami, menilai, dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini, anak mulai memahami konsep benar dan salah berdasarkan aturan sosial, harapan orang dewasa, serta konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Anak cenderung mematuhi aturan karena ingin memperoleh penghargaan atau menghindari hukuman, meskipun secara bertahap mulai memahami alasan di balik aturan tersebut.
Seiring bertambahnya usia, perkembangan moral anak mulai menunjukkan peningkatan dari sekadar kepatuhan terhadap aturan menuju pemahaman nilai yang lebih mendalam. Anak mulai belajar tentang kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain. Proses ini terjadi melalui pengalaman langsung, diskusi, serta contoh perilaku moral yang ditunjukkan oleh orang dewasa di sekitarnya.
Lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral. Melalui penerapan tata tertib sekolah, kegiatan pembiasaan, serta integrasi pendidikan karakter dalam proses pembelajaran, anak belajar menerapkan nilai moral secara nyata. Guru berperan sebagai teladan dalam menunjukkan perilaku moral, seperti bersikap jujur, adil, disiplin, dan menghargai sesama. Keteladanan yang konsisten akan lebih efektif dibandingkan dengan nasihat verbal semata.
Perkembangan moral juga berkaitan erat dengan perkembangan emosi dan sosial. Anak yang mampu mengelola emosi dengan baik dan memiliki empati yang tinggi cenderung menunjukkan perilaku moral yang lebih positif. Dengan demikian, pengembangan moral pada anak sekolah dasar perlu dilakukan secara holistik, dengan memperhatikan keterkaitan antara aspek emosi, sosial, dan lingkungan belajar.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosi, sosial, dan moral pada anak usia sekolah dasar merupakan proses yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Periode usia 6–12 tahun merupakan fase penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak, yang akan memengaruhi kesiapan mereka dalam menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya serta kehidupan sosial di masa depan.
Perkembangan emosi pada anak sekolah dasar ditandai dengan meningkatnya kemampuan mengenali, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi, serta berkembangnya empati terhadap orang lain. Kemampuan ini menjadi dasar bagi terciptanya hubungan sosial yang sehat dan perilaku prososial. Perkembangan sosial ditunjukkan melalui meningkatnya kemampuan anak dalam berinteraksi dengan teman sebaya, bekerja sama, mematuhi aturan, serta menyelesaikan konflik secara konstruktif. Sementara itu, perkembangan moral ditandai dengan kemampuan memahami nilai benar dan salah, mematuhi aturan, serta menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung ketiga aspek perkembangan tersebut. Pola asuh yang positif, keteladanan orang dewasa, serta iklim sekolah yang aman dan suportif akan membantu anak berkembang secara optimal. Oleh karena itu, upaya pengembangan emosi, sosial, dan moral pada anak sekolah dasar perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan agar terbentuk individu yang berkarakter, berkepribadian sehat, dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Acoci, A. (2023). Development emotional social in parental involvement of students in elementary schools. Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton, 9(4),
Anisah, A. S., Sapriya, K. A. H., & Syaodih, E. (2021). Perkembangan sosial, emosi, moral anak dan implikasinya terhadap pembentukan sikap sosial siswa sekolah dasar. Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia.
Brackett, M. A., Rivers, S. E., Reyes, M. R., & Salovey, P. (2012). Enhancing academic performance and social and emotional competence with the RULER feeling words curriculum. Learning and Individual Differences, 22(2), 218–224.
Denham, S. A., & Brown, C. (2010). “Plays nice with others”: Social–emotional learning and academic success. Early Education and Development, 21(5), 652–680.
Durlak, J. A., Weissberg, R. P., Dymnicki, A. B., Taylor, R. D., & Schellinger, K. B. (2011). The impact of enhancing students’ social and emotional learning: A meta-analysis of school-based universal interventions. Child Development, 82(1), 405–432. (Meta-analysis penting dasar SEL di sekolah dasar)
Hanifah Azzahra et al. (2023). Analisis perkembangan sosial dan moral siswa kelas 1 SD PAB 23 Patumbak. Jurnal Merah Putih Sekolah Dasar, 1(2).
Maharani, N. A., & Wati, F. R. (2024). Cognitive, social and moral development of primary school age children in the learning process. International Journal of Students Education, 1(2).
Payton, J., Weissberg, R. P., Durlak, J. A., Dymnicki, A. B., Taylor, R. D., Schellinger, K. B., & Pachan, M. (2008). The positive impact of social and emotional learning for kindergarten to eighth-grade students: Findings from three scientific reviews. Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL).
Setiana, S., & Eliasa, E. I. (2024). Karakteristik perkembangan fisik, kognitif, emosi sosial, dan moral pada anak usia sekolah dasar (7–12 tahun). Journal of Human And Education (JAHE), 4(6),
Tazkia, H. A., & Darmiyanti, A. (2024). Perkembangan sosial emosional anak usia dasar di lingkungan sekolah. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(3), 8.
Turmudli, T., Rakhmawati, D., & Handayani, A. (2024). Analisis perkembangan sosial-emosi pada anak usia sekolah dasar. Cendikia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 2(8),
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
