Krisis Kesehatan Mental Perempuan Muda: Tekanan Media Sosial Vs Harapan Budaya
Gaya Hidup | 2025-12-29 11:19:40
Di era digital dimana kita hidup berdampingan dengan tekologi yang bisa memberikan kita kemudahan dalam segala aspek kehidupan baik sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Sebagai perempuan muda kita yang hidup dalam dunia yang sama kuatnya: kehidupan dunia maya yang dipenuhi dengan standar dan visualisasi sempurna dan kehidupan dunia nyata yang dipenuhi dengan segala ekspektasi budaya. Kedua hal ini yang berpadu bisa menjadi tekanan psikologis yang tidak ringan dan bisa menjadi penyebab munculnya berbagai kasus seperti kecemasan, depresi, gangguan citra tubuh dan kelelahan mental yang tak terlihat bahkan tak dianggap.
Fenomena ini bukan sesuatu yang bisa dianggap hal yang biasa, tetapi krisis kesehatan mental ini memerlukan perhatian serius.
Media Sosial: Ruang Inspirasi yang Menjadi Arena Perbandingan
Bagi banyak perempuan muda, media sosial awalnya digunakan untuk mencari sumber inspirasi, hiburan dan koneksi dengan dunia. Tapi sering kali tayangan yang disajiakan dan algoritma yang berulang sering menampilkan standar kesempunaan yang tinggi sehingga membuat kita ingin berkompetisi agar bisa menyetarakan diri dengan standar tersebut.
Konten yang menampilkan standar kecantikan yang tidak realistis, pencapaian akademik, peluang karier, cara mengatur emosi tubuh bahkan pola “gaya hidup” yang baik pun sering memenuhi beranda media sosial kita, sehingga sering memberikan stigma bahwa perempuan itu harus cantik, pintar, sukses dan baik secara emosional.
Sering muncul pertanyaan-pertanyaan di benak mereka:
“Apakah aku sudah cukup cantik?”
“Apakah aku sudah cukup dengan pekerjaan ku yang sekarang?”
Dan berbagai pertanyaan lainnya
Penggunaan media sosial dapat memengaruhi persepsi diri remaja dan mempengaruhi bagaimana mereka menilai dan membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain. Penggunaan media sosial juga dapat mempengaruhi kesehatan mental remaja melalui interaksi online yang terkadang bersifat negatif, seperti cyberbullying, perasaan kesepian akibat perbandingan sosial yang merugikan, dan kecemasan yang dipicu oleh penggunaan yang berlebihan dan gangguan tidur pada remaja. Terlebih lagi, remaja sering kali merasakan tekanan untuk mempertahankan citra yang sempurna di media sosial, yang dapat mengakibatkan kecemasan kinerja dan depresi. Paparan terus-menerus terhadap konten yang tidak sehat atau tekanan sosial di media sosial juga dapat memperburuk masalah kesehatan mental.
Harapan Budaya: Beban Berlapis yang Tidak Selalu Diakui
Di masyarakat indonesia perempuan hidup dengan norma dan ekspektasi yang kuat atas keluhuran sikap, seperti: harus sopan, harus kuat, harus berprestasi, harus berbakti, harus menjaga nama baik orang tua, dan juga seringkali lebih memfokuskan untuk memberi patokan masa depan pernikahan disaat kita masih memiliki fokus lain seperti bekerja dan mengejar pendidikan. Dimana dalam hal ini masih sering memiliki keterkaitan erat dengan tradisi yang turun-menurun yang beberapa kurang relevan untuk diterapkan lagi.
Tuntutan budaya ini bisa berdampak pada kesehatan mental perempuan karena terkadang pihak luar seringkali ikut campur dengan pencapaian orang lain, yang sering kali menganggap apabila tidak sesuai dengan yang kebanyakan terjadi di masyarakat itu adalah aib, sehingga tak jarang hal itu menekan perempuan untuk akhirnya mengikuti tuntutan ini.
Di satu sisi media sosial yang sering menayangkan visualisasi yang sempurna tentang kehidupan dan pencapaian dan menuntut kita bisa mengikutinya, serta budaya tradisional yang menuntut komitmen moral dan peran sosial yang bisa dibilang tidak ringan. Dua tekanan ini yang saling bertumpuk, sehingga membuat perempuan merasa “tidak pernah cukup” di mata siapa pun.
Tekanan ganda inilah yang membuat banyak perempuan muda merasa lelah, kewalahan dan kehilangan arah dan mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Generasi yang Paling Rentan
Perempuan muda saat ini berada di posisi kritis secara psikologis- mereka sedang mencari jati diri, membangun relasi, mengejar pendidikan, dan berjuang juga memenuhi standar sosial keluarga dan tren digital.
Sehingga berpotensi dari mereka mengalami:
- Body dysmorphia akibat standar kecantikan digital
- Burnout akademik yang disebabkan tuntutan berprestasi
- Social anxiety akibat tekanan tampil sempurna
- Fear of missing out (FOMO) yang memicu stres kronis
- Rendahnya self-esteem karena perbandingan terus-menerus
Yang membuat situasi menjadi lebih rumit adalah sebagian perempuan merasa tidak berhak mengeluh- karena budaya kita masih menganggap masalah kesehatan mental sebagai sesuatu yang tabu, atau bahkan kelemahan.
Perlu Ruang Aman bagi Perempuan
Krisis ini tidak bisa terus dijadikan beban individual-perlu diciptakan ruang aman untuk perempuan di berbagai lingkungan, contohnya dari yang paling dekat di keluarga, kemudian sekolah sebagai tempat menuntut ilmu dan juga media yang perlu diperkuat.
Kita bisa memberikan solusi seperti:
1. Normalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental
Menormalisasikan untuk menyuarakan dan mengekspresikan kondisi hati dan pikiran sehingga bisa meringankan beban yang sedang dirasakan dan mewajarkan semua emosi yang dirasakan. Memberikan perhatian khusus terkait pengenalan tentang kesehatan mental sehingga bisa meminimalisir penyakit gangguan mental, dan apabila sudah ditahap mengalami penyakit gangguan mental maka dibutuhkan penanganan yang baik sehingga bisa kembali seperti sedia kala
2. Edukasi literasi digital
Memberikan pemahaman untuk menyesuaikan gaya hidup sesuai dengan standar yang kita butuhkan dan mampu mencapainya tanpa berkompetisi dengan curated life di media sosial.
Mengafirmasi diri untuk mencapai sesuatu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan selalu meyakinkan diri bahwa apa yang kita dapatkan ini adalah hasil kerja keras kita dan kita harus bangga dengan itu.
3. Mengubah narasi budaya
Masyarakat harus mulai untuk berhenti memaksakan standar sempurna bagi perempuan. Apabila yang dicapai itu lebih lambat dari biasanya, atau lebih rendah dibanding orang kebanyakan itu sudah cukup karena semuanya itu hasil dari kerja keras yang mereka usahakan.
Kesehatan mental ini bukan isu privat, tetapi isu sosial yang bisa berdampak pada masa depan bangsa, kualitas generasi berikutnya. Karena dari perempuan berdaya akan menghasilkan peradaban yang baik nantinya.
Perempuan Tidak Harus Sempuna untuk Layak Bahagia
Kesehatan mental perempuan saat ini berada di posisi yang genting karena mereka hidup di tengah standar yang sering tidak manusiawi-baik di media sosial dan juga budaya. Dimana standar itu bisa berakibat serius apabila kita tidak memberikan perhatian pada hal ini.
Sebagaimana firman allah dalam QS. At-Tin:) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ) yang berarti “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Dari ayat ini kita bisa mengambil makna kita semua adalah ciptaan allah yang udah didesain dalam bentuk sebaik-baiknya dan allah menciptakan setiap manusia itu dengan kelebihan dan kekurangan nya dan tidak akan pernah sama antara individu satu dengan individu yang lain bahkan item terkecil seperti sidik jari orang kembar saja berbeda. Sehingga sudah sepatutunya bahwa kita tidak bisa membandingkan dan memaksakan harus sama pencapaian satu orang dengan yang lain nya.
Sebagai penutup, sudah waktunya bagi kita untuk menurunkan ekspetasi yang tidak manusiawi, mengangkat suara mereka, dan memastikan bahwa perempuan tidak lagi dinilai dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian mereka untuk terus belajar, bertahan, berkembang, dan bangga menjadi diri sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
