Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adinda Nur Azizah

Ibu di Era Digital: Literasi Emosional dan Tantangan Dakwah Keluarga Muslim

Agama | 2025-12-28 11:14:23

Ibu dalam Keluarga Muslim: Posisi Sentral yang Tak Terelakkan

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang menjadi fondasi pembentukan karakter generasi selanjutnya. Dalam tradisi Islam, ibu memiliki peran strategis dalam pendidikan moral dan spiritual anak. Ibu tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga menjadi contoh bagaimana nilai-nilai Islam hidup dalam keseharian keluarga.

Perubahan zaman dan revolusi digital membuat peran ini semakin menantang, terutama ketika anak dan suami berinteraksi intens dengan teknologi yang berdampak pada emosi, perilaku, dan pola komunikasi keluarga.

Literasi Emosional: Kunci Pengasuhan di Era Digital

Istilah literasi emosional berarti kemampuan seseorang untuk memahami, mengenali, dan mengelola emosi dirinya dan orang lain. Bagi seorang ibu, literasi emosional sangat penting dalam konteks keluarga digital karena:

Anak dan anggota keluarga semakin sering terpapar media sosial, konten instan, dan tekanan peer group digital.

Ketidakmampuan mengelola emosi dapat memicu konflik keluarga, Gangguan Konsentrasi, dan kurangnya kedekatan emosional.

Ibu yang memahami literasi emosional dapat menjadi role model dalam menenangkan, berdialog, dan menyelesaikan konflik secara sehat.

Literasi emosional ini berperan dalam komunikasi harmonis yang menjaga keharmonisan keluarga sekaligus membantu anak memilah pengaruh digital yang masuk ke lingkungan rumah.

Era digital membawa peluang sekaligus tantangan bagi implementasi dakwah di keluarga:

Tantangan Dakwah Keluarga di Era Digital

Era digital membawa peluang sekaligus tantangan bagi implementasi dakwah di keluarga:1. Arus Informasi yang MasifInformasi dapat datang tanpa filter; baik konten positif maupun negatif mudah diakses. Tanpa literasi digital yang kuat, keluarga rentan mendapatkan konten yang membingungkan pandangan nilai agama. 2. Rendahnya Literasi Digital dalam Keluarga Beberapa anggota keluarga mungkin belum memahami bagaimana memfilter konten, memanfaatkan teknologi secara produktif, atau berkomunikasi sehat di dunia digital. 3. Menjaga Keseimbangan Tradisi dan Teknologi Ibu perlu menjadi penjembatan antara tradisi pengajaran Islam yang kuat di rumah dan tuntutan zaman. Teknologi bisa mendukung dakwah, tetapi jika salah digunakan justru dapat mengikis waktu berkualitas keluarga sekaligus nilai moral. 4. Perubahan Pola Sosial Anak dan RemajaGenerasi muda sering lebih cepat terpapar tren digital dibanding orang tua. Hal ini memerlukan strategi dakwah yang adaptif agar pesan agama tetap relevan dan efektif. Strategi Ibu dalam Dakwah Keluarga di Era Digital Agar dakwah keluarga tetap kuat dan bernilai, berikut beberapa pendekatan praktis yang bisa dilakukan ibu: ???? 1. Peningkatan Literasi Digital Keluarga Membekali keluarga dengan kemampuan:Membedakan konten yang bermanfaat dan berbahaya.Memahami etika digital, termasuk cara bijak berkomunikasi online.Menjadi pengguna teknologi yang produktif.???? 2. Menjadi Teladan Literasi EmosionalIbu dapat menunjukkan bagaimana:Mengelola emosi ketika menghadapi konflik.Berempati terhadap perasaan anak.Mengajarkan kesabaran dan komunikasi efektif di rumah.Literasi emosional membantu ibu membentuk keluarga yang tahan terhadap tekanan zaman digital.???? 3. Dakwah Lewat KeteladananNilai Islam dapat ditanamkan bukan hanya lewat ceramah, tetapi lewat:Rutinitas salat berjamaah,Diskusi keluarga tentang nilai moral,Membaca Al-Qur’an bersama,Memberi contoh bersyukur dan sabar di kehidupan sehari-hari.
KesimpulanPeran ibu dalam keluarga Muslim di era digital sangat menentukan. Ibu tidak hanya menjadi pengasuh, tetapi juga pendidik nilai, manajer emosi, dan pengarah moral keluarga. Dengan literasi emosional yang kuat dan pemahaman teknologi yang bijak, ibu dapat menyikapi tantangan dakwah keluarga secara efektif menjadikan rumah sebagai pusat pendidikan akhlak dan spiritual yang tangguh di tengah arus informasi zaman modern.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image