Kajian Sastra Bandingan: Konsep Dasar, Mazhab, dan Tantangannya
Sejarah | 2025-12-27 02:54:39
Sastra Bandingan dalam Perspektif Ruang dan Waktu
Sastra bandingan merupakan salah satu dari sekian banyak pendekatan yang ada dalam ilmu sastra. Pendekatan sastra bandingan pertama kali muncul di Eropa awal abad ke-19. Ide tentang sastra bandingan dikemukan oleh San Beuve dalam sebuah artikelnya yang terbit tahun 1868 (Damono, 2005: 14). Dalam artikel tersebut dijelaskanya bahwa pada awal abad ke-19 telah muncul studi sastra bandingan di Prancis. Sedangkan pengukuhan terhadap pendekatan perbandingan terjadi ketika jurnal Revue Litterature Comparee diterbitkan pertama kali pada tahun 1921.
Sastra bandingan adalah kajian teks antarbudaya yang bersifat interdisipliner dan lebih memperhatikan konteks sastra dari segi ruang dan waktu. Dari segi waktu, sastra bandingan dapat membandingkan dua atau lebih zaman yang berbeda. Konteks tempat, di sisi lain, menghubungkan sastra komparatif dengan domain sastra geografis. Konsep ini mengungkapkan bahwa sastra bandingan sebenarnya sangat luas kajiannya, bahkan dalam perkembangannya konteks sastra bandingan menitikberatkan pada sastra bandingan dengan disiplin ilmu lain. Jenis perbandingan ini bertujuan untuk melacak keterkaitan antar aspek kehidupan (Widyaningrum & Sondari, 2022: 117-118).
Mazhab dalam Sastra Bandingan: Prancis dan Amerika
Dalam sastra bandingan dikenal dua mazhab, yaitu mazhab Amerika dan Prancis. Mazhab Amerika berpendapat bahwa sastra bandingan memberi peluang untuk membandingkan sastra dengan bidang-bidang lain di luar sastra, misalnya seni, filsafat, sejarah, agama, dan lain-lain (Akbar, 2022: 1). Sedangkan mazhab Prancis berpendapat bahwa sastra bandingan hanya memperbandingkan sastra dengan sastra. Namun demikian, kedua mazhab tersebut bersepakat bahwa sastra bandingan harus bersifat lintas negara, artinya berusaha membandingkan sastra satu negara dengan sastra negara lain. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, muncul kritikan terhadap pandangan yang dianut oleh kedua mazhab. Kedua mazhab sepertinya tidak memperhatikan kondisi sebagian besar negara Asia yang memiliki keragaman bahasa dan budaya. Indonesia, misalnya, satu suku dengan suku yang lain memiliki perbedaan dari segi bahasa dan budaya.
Wellek dan Warren yang mengungkapkan, bahwa sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya (dalam Endraswara, 2011: 192). Pendapat ini lebih menekankan bahwa penelitian sastra bandingan harus berasal dari negara yang berbeda sehingga mempunyai bahasa yang berbeda pula.
Problematika Lintas Bahasa dan Budaya dalam Kajian Sastra Bandingan
Wellek dan Warren (1995: 47-50) mengatakan bahwa istilah sastra bandingan dalam prakteknya menyangkut bidang studi dan masalah lain. Pertama, istilah ini dipakai untuk studi sastra lisan, terutama cerita-cerita rakyat dan migrasinya, serta bagaimana dan kapan cerita rakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik. Kedua, istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Ketiga, istilah sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh. Jadi, sama dengan sastra dunia, sastra umum, atau sastra universal. Sementara itu, Holman menjelaskan sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan, yaitu untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain (Endraswara, 2011: 109). Jadi, sastra bandingan merupakan studi analisis sastra yang mencakup sastra lisan dan dua kesusastraan atau lebih untuk mengetahui hubungan dan pengaruhnya antar karya satu dengan yang lain.
Simpulan
Sastra bandingan adalah pendekatan kajian sastra yang membandingkan karya dari berbagai tradisi, bahasa, dan budaya untuk mengungkap hubungan, pengaruh, dan perbedaan. Sejak awal abad ke-19 melalui gagasan San Beuve dan pengukuhannya lewat Revue Littérature Comparée (1921), sastra bandingan berkembang menjadi kajian interdisipliner yang mencakup perbandingan antarnegara dan disiplin ilmu lain. Dua mazhab utama, Prancis dan Amerika, berbeda dalam ruang lingkup, tetapi sama-sama menekankan sifat lintas budaya. Dalam perkembangannya, pendekatan ini menghadapi tantangan metodologis, terutama di negara dengan keragaman bahasa seperti Indonesia. Sastra bandingan tidak hanya studi komparatif, tetapi juga sarana memahami dinamika budaya dan ideologi yang membentuk karya sastra.
Daftar Pustaka
Akbar, A. (2022). Perbandingan antara cerita genderuwo (Indonesia) dengan cerita bigfoot (Amerika Utara): kajian sastra perbandingan. Universitas Negeri Surabaya.
Damono, Sapardi Djoko. (2005). Pegangan Penlitian Sastra Bandingan. Jakarta: Depdiknas.
Endraswara, Suwardi. (2011). Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianto. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Widyaningrum, W., & Sondari, E. (2022). Kajian Sastra Bandingan: Representasi Budaya Dalam Novel Bidadari-Bidadari Surga dan Novel Mencari Perempuan Yang Hilang. Jurnal Ilmiah Bina Bahasa, 15(2), 117-126.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
