Horor Sebagai Ingatan Sejarah dalam Novel Ivanna van Dijk
Sastra | 2025-12-26 13:09:09
Horor sering kali dipahami sebatas cerita untuk menakut-nakuti pembaca. Namun, novel Ivanna van Dijk karya Risa Saraswati menunjukkan bahwa horor juga dapat menjadi media untuk mengingat kembali sejarah yang kelam.Melalui kisah Ivanna, seorang gadis Belanda yang mengalami kekerasan pada masa pergolakan pascakolonial, novel ini menghadirkan horor sebagai pantulan trauma sejarah Indonesia.
Sosok Ivanna tidak hanya hadir sebagai hantu, namun sebagai simbol luka kolektif yang belum pulih sepenuhnya. Kisah hidup dan kematian mencerminkan kekerasan, ketidakadilan, serta kekacauan sosial yang terjadi pada masa transisi kekuasaan setelah kolonialisme. Dengan cara ini, horor tidak berdiri sendiri sebagai unsur supranatural, melainkan terkait erat dengan realitas sejarah.
Risa Saraswati memadukan fiksi, latar kolonial, dan mitos keluarga Belanda-Jawa secara halus. Sejarah tidak disampaikan secara kronologis, melainkan melalui pengalaman emosional tokoh-tokohnya. Pendekatan ini membuat pembaca tidak hanya mengetahui peristiwa sejarah, tetapi juga merasakan suasana ketakutan, kehilangan, dan kebersamaan yang menyertainya.
Novel ini juga menampilkan kompleksitas kehidupan orang Indo dan keturunan Belanda yang terjebak dalam situasi sosial-politik yang tidak menentu. Mereka berada di antara dua identitas dan dua kekuasaan, tanpa perlindungan hukum yang jelas. Pengalaman tersebut jarang muncul dalam buku pelajaran sejarah, tetapi dihadirkan secara kuat melalui cerita pribadi Ivanna.
Pada akhirnya, Ivanna van Dijk menampilkan bahwa fiksi horor dapat berperan sebagai ruang refleksi sejarah. Kisah Ivanna menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus hidup dalam kenangan, trauma, dan cerita. Melalui horor, pembaca diajak melihat sejarah secara lebih manusiawi dan emosional.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
