Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nelly Agustin

Merdeka Belajar: Bebas Atau Ilusi? Pengantar Filosofi Pendidikan dalam Konteks Pendidikan Indonesia

Sekolah | 2025-12-26 13:05:37

Pendidikan adalah dasar penting dalam membentuk manusia dan peradaban. Di Indonesia, pembahasan tentang pendidikan terus berkembang mengikuti tuntutan zaman. Salah satu gagasan yang sering dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir adalah konsep Merdeka Belajar. Konsep ini diusulkan sebagai upaya membebaskan siswa dan guru dari sistem pendidikan yang kaku, monoton, dan hanya fokus pada nilai. Namun, muncul pertanyaan besar: apakah Merdeka Belajar benar-benar memberikan kebebasan dalam pendidikan, atau justru hanya terkesan bebas namun pada kenyataannya masih terikat? Pertanyaan ini bisa dilihat lebih dalam melalui perspektif filsafat pendidikan.

Secara konsep, Merdeka Belajar berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi unik yang perlu dikembangkan sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi masing-masing. Pikiran ini sejalan dengan filsafat pendidikan progresif yang dipelopori oleh John Dewey. Dewey menekankan bahwa pendidikan harus berpusat pada siswa, bersifat demokratis, dan berbasis pada pengalaman nyata. Dengan demikian, Merdeka Belajar bisa dianggap sebagai langkah menuju pendidikan yang lebih manusiawi, karena memberi ruang bagi kreativitas, berpikir kritis, dan kemandirian belajar.

Selain itu, gagasan Merdeka Belajar juga berkaitan erat dengan filsafat humanisme. Aliran ini menganggap manusia sebagai subjek yang bebas dan memiliki kemampuan menentukan arah hidupnya. Pendidikan, menurut humanisme, bukanlah sekadar mengisi pengetahuan, tetapi membantu seseorang menemukan makna, nilai, serta jati dirinya. Ketika Merdeka Belajar memberi kebebasan kepada siswa untuk bereksplorasi dan memberi ruang bagi guru untuk berinovasi, maka secara filosofis kebijakan ini membangkitkan semangat pembebasan manusia melalui pendidikan.

Namun, ketika gagasan ideal ini dihadapkan pada kenyataan pendidikan di Indonesia, berbagai masalah muncul. Kebebasan yang dijanjikan oleh Merdeka Belajar sering kali bertabrakan dengan keterbatasan struktural. Kurikulum yang masih dipengaruhi tuntutan administratif, sistem evaluasi standar, serta tekanan untuk mencapai prestasi akademik membuat kebebasan belajar tidak sepenuhnya terwujud. Dari sudut pandang filsafat kritis, kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara konsep dan praktik. Pendidikan tampak "merdeka" secara teori, tetapi masih terikat oleh sistem yang membatasi.

Paulo Freire, seorang tokoh dalam bidang filsafat pendidikan kritis, mengkritik model pendidikan yang disebutnya sebagai "banking education". Model ini membuat siswa hanya menjadi objek yang pasif. Merdeka Belajar seharusnya menjadi lawan dari model ini. Akan tetapi, jika guru dan siswa belum benar-benar diberdayakan untuk berpikir kritis dan merefleksikan diri, maka Merdeka Belajar bisa jadi hanya mengganti istilah tanpa mengubah cara berpikir. Kebebasan belajar bisa jadi ilusi jika siswa tetap dipandu secara satu arah, hanya dengan metode dan istilah yang berbeda.

Selain itu, perbedaan kualitas pendidikan antar daerah jadi tantangan besar. Filsafat keadilan dalam pendidikan menekankan bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan belajar yang sama. Di Indonesia, tidak semua sekolah memiliki sumber daya, fasilitas, dan guru yang cukup untuk menerapkan Merdeka Belajar. Akibatnya, kebebasan belajar lebih mudah diakses oleh sekolah tertentu, sementara yang lain masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Ini memunculkan pertanyaan etis: merdeka untuk siapa?

Meski begitu, menyebut Merdeka Belajar sebagai ilusi tidak sepenuhnya benar. Dari perspektif filsafat eksistensialisme, kebebasan bukanlah sesuatu yang langsung sempurna, melainkan proses yang terus diperjuangkan. Merdeka Belajar bisa dilihat sebagai ruang yang membuka kemungkinan perubahan dalam pendidikan. Keberhasilannya bergantung pada kesadaran dan komitmen dari semua pihak terlibat—guru, siswa, sekolah, dan pembuat kebijakan—untuk memahami kebebasan secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, Merdeka Belajar berada antara kebebasan nyata dan ilusi. Secara filosofis, pendidikan ini membawa nilai-nilai pembebasan, humanisasi, dan keadilan. Namun, di dunia nyata, nilai-nilai ini belum sepenuhnya terwujud karena berbagai hambatan struktural dan budaya. Tantangan utama pendidikan di Indonesia bukan hanya merancang kebijakan yang “merdeka”, tetapi memastikan bahwa kebebasan itu benar-benar ada, merata, dan bermakna.
Sebagai penutup, Merdeka Belajar seharusnya tidak berhenti sebagai slogan atau kebijakan biasa. Ia perlu terus dikritisi dan direfleksikan secara filosofis agar tidak kehilangan tujuannya. Pendidikan yang merdeka bukanlah pendidikan yang tidak memiliki arah, melainkan pendidikan yang menggerakkan manusia untuk berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab. Di situlah Merdeka Belajar bisa menjadi kebebasan yang sejati, bukan hanya ilusi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image