Risiko Trauma: Mengapa Dukungan Psikologis Relawan Bencana Harus Diperhatikan
Humaniora | 2025-12-24 22:32:25
Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada rentetan bencana alam yang mendesak, seperti erupsi Gunung Semeru dan juga banjir di beberapa wilayah yang menuntut respons cepat. Di tengah hiruk pikuk evakuasi dan pemulihan, tangan-tangan tak dikenal yang mengenakan rompi relawan tampil sebagai garda terdepan yang mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan nyawa demi keselamatan para korban.
Namun, di balik kegigihan fisik yang luar biasa, ada satu aspek yang kerap terabaikan, yaitu kesehatan mental dan emosional mereka sendiri. Mereka terus-menerus terpapar pemandangan trauma, kesedihan, dan kehancuran. Mereka mendengarkan ratapan, melihat puing-puing, dan menyaksikan kehilangan secara berulang-ulang. Kelelahan fisik dapat dipulihkan dengan istirahat, namun beban emosional yang mereka bawa pulang jauh lebih dalam.
Meskipun risiko mental relawan telah terbukti serius, dukungan psikologis formal (seperti sesi debriefing atau konseling) tidak diatur sebagai SOP wajib dan tidak diprioritaskan di lapangan, berbanding terbalik dengan pemenuhan logistik.
Masalah mental relawan bencana tidak boleh lagi dianggap sebagai urusan pribadi. Oleh karena itu, dukungan psikologis harus diintegrasikan ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) Manajemen Bencana Nasional.
Mengenal Risiko Trauma Relawan
Relawan bencana bekerja sangat dekat dengan situasi penuh tekanan. Melihat korban terluka, kehilangan anggota keluarga, hingga mendengar cerita yang sangat emosional dari para korban. Paparan berulang seperti ini dapat memicu vicarious trauma, yaitu tekanan psikologis yang muncul karena terlalu sering menyaksikan penderitaan orang lain.
Menurut penelitian Nur Halimah dan Widuri (2012), relawan yang terus-menerus berada di situasi darurat rentan mengalami perubahan emosi, pikiran yang mengganggu, serta menurunnya rasa aman, terutama ketika dukungan psikologis masih minim. Hal ini juga sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa keterlibatan jangka panjang dalam kondisi darurat dapat meningkatkan risiko tekanan emosional bila relawan tidak memiliki ruang pemulihan yang memadai (Pratiwi dkk., 2025).
Risiko seperti ini kerap tak disadari, padahal dampaknya bisa muncul pelan-pelan dan memengaruhi kesejahteraan relawan dalam jangka panjang.
Analisis Kesenjangan antara Kebutuhan dan Fasilitas
Meskipun relawan terjun langsung ke situasi yang penuh tekanan emosional, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dukungan yang mereka terima masih jauh dari kebutuhan sebenarnya. Menurut penelitian Siti Mariyah dan Nazaruddin (2025), banyak relawan bekerja dalam sistem yang tidak menyediakan pelatihan, perlindungan, maupun mekanisme pendampingan yang berkelanjutan. Relawan sering diminta memenuhi tuntutan tinggi, tetapi struktur organisasi yang menaungi mereka belum siap memberikan dukungan memadai, sehingga tercipta ketimpangan antara beban kerja dan kesiapan psikologis. Kondisi ini makin diperparah oleh budaya kerja yang cenderung memosisikan relawan sebagai “pahlawan,” sehingga kebutuhan emosional mereka sering dianggap bisa ditangani sendiri tanpa dukungan formal.
Sementara itu, temuan Myn (2022) menunjukkan bahwa pembekalan yang diberikan banyak organisasi relawan masih sebatas aturan dan ajaran nilai moral, belum sampai pada dukungan praktis yang benar-benar dibutuhkan relawan di lapangan. SOP yang ada juga sering hanya berbentuk dokumen tanpa penerapan yang jelas, sehingga relawan tidak punya pegangan ketika harus menghadapi tekanan psikologis saat bertugas. Dalam FGD yang dilaporkan Myn, beberapa organisasi bahkan mengaku masih kesulitan menyusun pembekalan yang terstruktur, sehingga tidak semua relawan mendapatkan bekal yang sama. Kondisi ini membuat kesenjangan antara kebutuhan relawan dan fasilitas yang diberikan semakin terasa.
Dukungan Psikologis sebagai Kebijakan Wajib
Kesenjangan yang dialami relawan menunjukkan bahwa dukungan psikologis memang harus dijadikan bagian wajib dalam SOP, bukan pelengkap. Temuan Myn (2022) dan Mariyah & Nazaruddin (2025) sama-sama menunjukkan bahwa banyak organisasi masih punya aturan di atas kertas, tapi pelaksanaannya belum kuat. Karena itu, dukungan mental perlu diatur lebih jelas dan bisa diaudit, karena hal tersebut sama pentingnya dengan logistik atau keselamatan fisik.
Beberapa langkah kebijakan yang bisa dijadikan standar wajib adalah:
1. Debriefing Psikologis
Sesi refleksi setelah penugasan perlu dilakukan secara rutin, bukan hanya kalau ada masalah besar. Tujuannya sederhana, yaitu untuk membantu relawan menurunkan tekanan emosional dan memberi ruang untuk memproses pengalaman berat sebelum kembali bertugas.
2. Pelatihan Psychological First Aid (PFA)
PFA sebaiknya jadi keterampilan dasar setiap relawan. Dengan pelatihan ini, relawan bisa mengenali tanda-tanda stres pada diri sendiri dan orang lain, sekaligus tahu langkah awal untuk menjaga keselamatan mental selama bertugas.
3. Sistem Rotasi dan Cuti Pemulihan
Relawan butuh ritme kerja yang manusiawi. Rotasi dan cuti membantu mencegah penumpukan kelelahan fisik dan emosional, terutama di situasi darurat yang panjang. Ini bukan kelemahan, tapi cara menjaga relawan tetap sehat dan efektif.
Pada akhirnya, relawan tetaplah manusia yang membawa pulang setiap pengalaman yang mereka saksikan. Jika risiko traumanya diabaikan, yang hilang bukan hanya tenaga, tapi juga kemanusiaan yang mereka bawa. Dukungan psikologis bukan lagi pilihan tambahan, melainkan bagian dari perlindungan dasar yang seharusnya disiapkan sejak awal. Dengan cara inilah relawan bisa terus menolong tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Sumber:
Mariyah, S., & Nazaruddin. (2025). Dikotomi kerelawanan dan profesional di dunia pendidikan: Mencari titik temu antara idealisme dan realitas. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 3(2), 453–460. https://doi.org/10.61104/alz.v3i2.1058
Myn, G. E. (2022). Etika organisasi pada Relawan Penakluk Api (RPA) dalam pemberdayaan kepemudaan di Kota Samarinda. JPKPM, 2(2), 232–241.
Nur Halimah, S., & Widuri, E. L. (2012). Vicarious trauma pada relawan bencana alam. Diakses dari http://download.garuda.kemdikbud.go.id/
Pratiwi, I. D., Purwanto, E., Shela, A., & ’Aini, N. (2025). Dampak lama bekerja dan pelatihan pertolongan pertama pada vicarious trauma relawan lalu lintas di Kota Malang. Jurnal Penelitian Inovatif, 5(3), 2643–2650. https://doi.org/10.54082/jupin.1791
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
