Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Beliyana Juwita

AI dan Masa Depan Kerja: Akankah Robot Menggantikan Manusia?

Teknologi | 2025-12-24 22:14:42


Kecerdasan buatan (artificial Intelligence/AI) kini menjadi topik hangat di berbagai forum global, mulai dari pertemuan World Economic Forum di Davos hingga perbincangan di media sosial Indonesia. Kehadiran teknologi seperti ChatGPT, robot industri, dan algoritma cerdas memunculkan kekhawatiran baru: apakah AI akan mengambil alih pekerjaan manusia?

Ilustrasi peran AI dalam dunia kerja yang mendorong efisiensi, tanpa menggantikan sepenuhnya peran manusia. Sumber: Pixabay 
Ilustrasi peran AI dalam dunia kerja yang mendorong efisiensi, tanpa menggantikan sepenuhnya peran manusia. Sumber: Pixabay

Di Indonesia, pertanyaan ini menjadi semakin relevan. Tingkat kemiskinan yang belum sepenuhnya pulih, dominasi sektor informal, serta melemahnya keterampilan membuat persoalan masa depan kerja tidak bisa diabaikan. Namun, AI tidak semata-mata hadir sebagai ancaman. Teknologi ini justru mengubah cara manusia bekerja dan membuka peluang baru jika dikelola dengan tepat.

Antara Ancaman dan Peluang

Laporan World Economic Forum (2023) memperkirakan bahwa AI akan menciptakan sekitar 97 juta jenis pekerjaan baru, namun juga menghilangkan 85 juta pekerjaan lama secara global. Data ini menunjukkan bahwa AI lebih banyak menggeser bentuk pekerjaan dibandingkan menghapusnya secara total.

Di Indonesia, dampaknya mulai terasa di sektor manufaktur. Di sejumlah kawasan industri di Jawa Timur dan Jawa Barat, robot otomatis menggantikan sebagian tenaga manusia di lini produksi. Efisiensi meningkat, biaya produksi menurun, namun kebutuhan terhadap pekerja manual menurun.

Meski demikian, otomatisasi juga melahirkan kebutuhan baru. Perusahaan kini memerlukan teknisi, sistem operator, analis data, hingga pengembang teknologi. Tantangan utama bukan pada hilangnya pekerjaan, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia. Pekerja yang memiliki keterampilan digital cenderung bertahan dan bahkan memperoleh penghasilan lebih baik, sementara mereka tidak siap mengambil risiko tertinggal.

Program pemerintah seperti Kartu Prakerja menjadi langkah awal yang positif. Namun, jangkauan dan kualitas pelatihan masih perlu ditingkatkan agar benar-benar menjawab kebutuhan pasar kerja masa depan.

Dampak Sosial dan Ekonomi di Indonesia

Pandemi COVID-19 mempercepat proses digitalisasi di berbagai sektor. Platform layanan berbasis teknologi seperti Gojek dan Shopee memanfaatkan kecerdasan buatan untuk sistem pemesanan dan rekomendasi. Di satu sisi, hal ini mengurangi kebutuhan tenaga kerja di beberapa posisi administratif, tetapi di sisi lain menciptakan ekosistem kerja baru bagi jutaan masyarakat.

Di sektor kesehatan, AI membantu tenaga medis dalam menganalisis data dan mendukung diagnosis penyakit, namun peran manusia tetap penting dalam pengambilan keputusan dan empati terhadap pasien. Dalam dunia pendidikan, teknologi AI mampu mempersonalisasi pembelajaran, tetapi guru tetap memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter dan nilai.

Masalah utama terletak pada distribusi manfaat teknologi. Tanpa kebijakan yang adil, AI berpotensi memperlebar kesenjangan antara pekerja terampil di perkotaan dan masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan akses teknologi.

Menyiapkan Jalan Menuju Masa Depan Kerja

AI bukanlah musuh manusia, melainkan alat yang dapat memperkuat produktivitas jika digunakan secara bijak. Oleh karena itu, ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan.

Pertama, reformasi pendidikan. Sistem pendidikan harus menekankan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas, bukan sekedar hafalan. Kedua, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan dalam program pelatihan ulang bagi tenaga kerja. Ketiga, penguatan perlindungan sosial bagi pekerja yang terdampak otomatisasi agar transisi tidak menimbulkan gejolak sosial.

Sejarah membuktikan bahwa setiap revolusi industri selalu menghadirkan kecemasan yang serupa. Mesin uap, listrik, hingga komputer pernah dianggap ancaman, namun pada akhirnya justru menciptakan lapangan kerja baru. AI pun tidak berbeda.

Pada akhirnya, keunggulan manusia tetap tidak tergantikan: kreativitas, empati, dan kemampuan beradaptasi. Masa depan kerja bukanlah tentang manusia melawan robot, melainkan tentang kolaborasi keduanya. Jika dikelola dengan tepat, AI justru dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk melompat lebih jauh dalam persaingan global.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image