Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jhoan imanuel Lawarissa

Ketika Teknologi Menjadi Ruang Hidup Baru Manusia

Teknologi | 2025-12-30 16:59:33
Sumber Gambar Ilustrasi : https;//www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https%3A%2F%Finformatika.almaata.ac.id%2Fperkembangan-teknologi-informasi-di-indonesia-tahun-2025%2F&opi=89978449

Perkembangan teknologi digital tidak lagi sekadar menghadirkan alat bantu bagi manusia, melainkan telah membentuk ruang hidup baru. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform digital lainnya kini menjadi tempat manusia berinteraksi, bekerja, belajar, bahkan mengekspresikan emosi. Tanpa disadari, teknologi bukan hanya kita gunakan, tetapi juga kita tinggali.

Menjaga Esensi Kemanusiaan dan Etika di Tengah Arus Ruang Digital :

Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi telah berubah dari sekedar sarana menjadi lingkungan sosial. Di ruang digital, manusia membangun identitas, mencari pengakuan, dan membentuk hubungan. Namun, perubahan ini memunculkan tantangan baru: bagaimana manusia tetap memiliki kendali atas dirinya di tengah ruang hidup yang serba cepat dan serba digital?

Tidak dapat dipungkiri, teknologi membawa banyak manfaat. Informasi dapat diakses dengan mudah, komunikasi menjadi efisien, dan kesempatan untuk berkembang secara terbuka luas. Banyak orang yang sebelumnya terbatas karena jarak dan biaya kini bisa belajar, berkarya, dan bersuara melalui teknologi. Dalam konteks ini, teknologi berperan sebagai jembatan yang menghubungkan banyak peluang.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul gejala yang patut direnungkan. Ruang kerap digital mendorong manusia untuk tampil, bukan menjadi. Validasi dalam bentuk angk like, komentar, dan jumlah pengikut perlahan mempengaruhi cara manusia memandang dirinya sendiri. Nilai seseorang seolah diukur dari seberapa terlihat ia di dunia maya, bukan dari kualitas gagasan atau sikapnya di dunia nyata.

Berbaur dengan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kedalaman berpikir. Sayangnya, budaya serba cepat sering kali mengorbankan proses refleksi. Informasi dikonsumsi secara instan, lebih diutamakan daripada pemahaman. Akibatnya, ruang digital mudah dipenuhi konflik, kesalahpahaman, dan polusi.

Dalam situasi seperti ini, kesadaran digital menjadi sangat penting. Kesadaran digital berarti memahami bahwa setiap aktivitas di ruang teknologi memiliki dampak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Apa yang ditulis, dipublikasikan, dan dikomentari tidak berhenti di layar, namun berpengaruh pada hubungan sosial dan iklim diskusi masyarakat.

Teknologi juga menantang manusia untuk menjaga empati. Di balik akun dan layar, ada manusia nyata dengan perasaan dan pengalaman hidup. Sayangnya, jarak virtual sering membuat empati menipis. Komentar kasar dan penghakiman mudah dilontarkan karena tidak menghadap langsung. Padahal, etika tidak seharusnya hilang hanya karena media komunikasi berubah.

Di dunia pendidikan dan pekerjaan, teknologi menuntut adaptasi kemampuan tanpa menghilangkan nilai kejujuran dan tanggung jawab. Kemudahan akses informasi seharusnya mendorong peningkatan kualitas berpikir, bukan sekadar menyalin dan mengambil jalan pintas. Teknologi idealnya memperkuat proses belajar, bukan mencakup integritas.

Berbaur dengan teknologi juga berarti mampu menentukan batas. Tidak semua hal harus disebarluaskan, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak setiap notifikasi harus direspons. Kemampuan mengelola waktu, fokus, dan perhatian menjadi keterampilan penting di era digital. Tanpa batas yang jelas, teknologi justru berpotensi menguras energi mental dan emosional manusia.

Pada akhirnya, teknologi cermin hanyalah pilihan manusia. Ia bisa menjadi ruang yang membangun atau merusak, tergantung bagaimana kita mengisinya. Berbaur dengan teknologi bukan menjadi hal yang paling mengikuti perkembangan, tetapi menjadi manusia yang sadar akan menjadi subjek, bukan objek.

Kemajuan teknologi tidak seharusnya menjauhkan manusia dari nilai-nilai dasar seperti empati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Justru di tengah ruang kehidupan digital yang terus meluas, nilai-nilai inilah yang perlu dijaga agar teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan.

Oleh: Jhoan Imanuel Lawarissa, Mahasiswa Universitas Pamulang

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image