Harta dan Jual Beli dalam Islam: Antara Rezeki, Etika, dan Tanggung Jawab
Agama | 2025-12-24 21:12:05
Di zaman serba digital seperti sekarang, aktivitas jual beli menjadi semakin mudah. Cukup lewat ponsel, barang bisa langsung sampai ke rumah. Namun, Islam mengingatkan bahwa transaksi ekonomi tidak hanya soal kecepatan dan keuntungan, tetapi juga soal kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab moral.
Dalam Islam, harta dipandang sebagai amanah dari Allah. Manusia boleh memiliki, mengelola, dan menikmati harta, tetapi bukan sebagai pemilik mutlak. Karena itu, cara mendapatkan harta harus halal dan tidak merugikan orang lain. Praktik seperti riba, penipuan, manipulasi harga, atau eksploitasi dilarang karena merusak keadilan dan kepercayaan dalam masyarakat.
Jual beli dalam Islam juga dibangun di atas prinsip sederhana: saling ridha, transparan, dan adil. Barang yang diperjualbelikan harus halal, jelas bentuk dan sifatnya, serta bisa diserahkan. Tidak boleh ada unsur penipuan atau ketidakjelasan berlebihan (gharar) yang membuat salah satu pihak menanggung risiko tidak wajar.
Contohnya bisa kita lihat pada praktik pre-order online di Indonesia. Banyak orang diminta membayar penuh di awal, tapi barangnya belum ada, waktu pengiriman tidak jelas, bahkan kadang penjual menghilang. Dalam perspektif Islam, transaksi seperti ini bermasalah jika sejak awal tidak ada kejelasan dan kejujuran. Islam sebenarnya membolehkan sistem pesan barang (akad salam), tapi harus disertai spesifikasi yang jelas, waktu penyerahan yang pasti, dan pembagian risiko yang adil.
Pada akhirnya, Islam tidak melarang umatnya mencari keuntungan. Yang ditekankan adalah cara dan dampaknya. Keuntungan yang diperoleh dengan cara jujur dan adil akan membawa keberkahan, sedangkan keuntungan yang lahir dari ketidakjujuran justru merusak kepercayaan dan stabilitas sosial.
Karena itu, konsep harta dan jual beli dalam Islam bukan hanya mengatur transaksi, tetapi juga membentuk karakter pelaku ekonomi agar tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab secara moral.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
