Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Afra Ramadhani

Anak Suka Kabur dari Rumah? Mungkin Ini Penyebab Psikologisnya.

Parenting | 2025-12-24 19:47:11
ilustrasi konflik keluarga dan perasaan tidak diterima di rumah. Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/front-view-sad-boy-sitting-stairs_30237269.htm#fromView=image_search_similar&page=1&position=0&uuid=60217199-9a59-45cf-868d-b160c72d942e&query=remaja+depresi.

Pernah nggak sih, kamu merasa di rumah sendiri tapi kayak nggak dianggap? Pola asuh transaksional sering jadi akar masalah kenapa anak kabur dari rumah. Selalu dibandingin, dituntut harus ranking 1, tapi sekalinya jatuh langsung dimarahin. Atau sebagai orang tua, kamu bingung kenapa anak jadi sering keluar rumah, nongkrong sampai malem, atau bahkan kabur?

Perilaku kabur dari rumah sering dianggap sebagai kenakalan remaja. Tapi sebenarnya, itu adalah tanda bahwa ada yang nggak beres dalam hubungan orang tua dan anak. Bisa jadi, anak sedang mencari “rumah” yang nggak ia dapatkan di tempat aslinya. (Baca juga: https://www.kompas.id/artikel/pola-asuh-otoriter-memicu-anak-melakukan-kekerasan)

Penyebab Anak Kabur dari Rumah: Pola Asuh Transaksional

Pola asuh transaksional adalah pola pengasuhan di mana hubungan orang tua dan anak berjalan seperti transaksi. Contohnya: "Kamu dapat ranking 1, baru dapat pujian."

Coba denger cerita Hinata, seorang remaja yang curhat di TikTok:

“Yang suka membandingin gak pernah apresiasi tapi banyak menuntut. SD selalu ranking 1, tapi perpisahan aja orang tua gak dateng. Pas SMP turun ke peringkat 2 langsung dimarahin habis-habisan. Di rumah, mau makan malah dibilang ‘buat kakak aja, nanti kamu gendut’.”

Hinata akhirnya memilih kabur nongkrong di kafe, tidur di rumah teman. Bukan karena nakal, tapi karena di sanalah ia merasa diterima. Inilah salah satu penyebab psikologis kenapa anak kabur dari rumah.

Dampak Pola Asuh Transaksional pada Kesehatan Mental Remaja

Kesehatan mental remaja bisa terganggu parah akibat pola asuh transaksional. Dampaknya nggak main-main:

 

  • Harga diri rendah: Anak merasa nggak berharga kalau nggak berprestasi.
  • Sulit percaya: Anak tumbuh dengan rasa nggak aman secara emosional.
  • Selalu cari validasi dari luar: Misalnya dari pacar, teman, atau media sosial.
  • Hubungan keluarga jadi kaku, penuh tuntutan, tanpa kehangatan.
  • Rumah yang harusnya nyaman malah jadi sumber stres utama.

Jika dibiarkan, dampak pola asuh transaksional ini bisa berujung pada gangguan kecemasan, depresi, atau kenakalan remaja yang lebih serius.

Solusi: Perbaiki Hubungan Orang Tua dan Anak dengan Komunikasi Terbuka

Solusinya bukan dengan mengunci anak di rumah, tapi dengan memperbaiki komunikasi orang tua dan anak. Berikut langkah praktisnya:

 

  • Berhenti membandingkan anak dengan orang lain.
  • Hargai usaha anak meski hasilnya belum sempurna.
  • Dengarkan tanpa menghakimi.
  • Beri apresiasi untuk hal kecil.
  • Cari bantuan profesional seperti konseling keluarga jika perlu.

Tujuan akhirnya adalah mengembalikan rumah sebagai tempat aman, bukan tempat yang ingin ditinggalkan.

Untuk mendalami topik pola asuh transaksional, kamu bisa baca: https://journal.unpacti.ac.id/JPP/article/view/751

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image