Misteri Gaji Numpang Lewat: Mengapa Semakin Besar Penghasilan, Semakin Terasa Kurang?
Gaya Hidup | 2025-12-23 09:49:17
Banyak dari kita mungkin pernah mengalami momen aneh saat melihat saldo rekening di akhir bulan. Dulu, ketika gaji kita masih di level awal, uang rasanya cukup-cukup saja untuk bertahan hidup sebulan. Namun anehnya, setelah posisi naik dan gaji bertambah berkali lipat, saldo di akhir bulan justru tetap kritis, bahkan kadang sampai harus meminjam. Fenomena ini bukanlah sihir, melainkan sebuah jebakan halus yang sering disebut sebagai inflasi gaya hidup.
Inflasi gaya hidup terjadi ketika standar kenyamanan kita meningkat seiring dengan bertambahnya pendapatan. Tanpa sadar, hal-hal yang dulu kita anggap sebagai kemewahan pelan-pelan berubah menjadi kebutuhan. Dulu, makan di warteg sudah cukup membuat kenyang, namun sekarang rasanya harus ke kafe setiap hari agar merasa setara dengan teman sejawat. Kita seringkali tidak sedang memenuhi kebutuhan perut, melainkan sedang memenuhi tuntutan gengsi yang tidak ada habisnya.
Media sosial memperparah kondisi ini dengan menciptakan standar kebahagiaan yang semu. Kita sering terjebak dalam lingkaran "self-reward" yang berlebihan, menganggap setiap jerih payah bekerja harus dibayar dengan belanja barang mahal. Padahal, seringkali itu hanyalah pelarian dari rasa lelah, yang justru berujung pada kecemasan finansial baru di bulan berikutnya. Kita lebih takut terlihat tidak mampu di mata orang lain daripada benar-benar tidak memiliki simpanan untuk masa depan.
Untuk keluar dari jebakan ini, kita perlu belajar kembali membedakan antara kebutuhan dan keinginan secara jujur. Salah satu cara paling ampuh adalah dengan langsung menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan tepat di hari saat gaji mendarat, sebelum uang tersebut habis untuk hal-hal impulsif. Selain itu, cobalah untuk memberi jeda beberapa hari sebelum memutuskan membeli barang mewah. Seringkali, keinginan membara itu akan hilang dengan sendirinya setelah kita berpikir lebih tenang.
Pada akhirnya, kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak barang yang kita pamerkan di media sosial, melainkan dari seberapa tenang hati kita saat menghadapi keadaan darurat. Memiliki gaya hidup sederhana dengan tabungan yang cukup jauh lebih membahagiakan daripada terlihat mewah namun penuh beban cicilan. Mari kita mulai menyadari bahwa gaji yang besar adalah kesempatan untuk membangun masa depan, bukan sekadar jalan untuk memperumit gaya hidup.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
