Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maryam Sakinah

Ibu Arsitek Peradaban

Kolom | 2025-12-22 21:09:01
image by GeminiAI

Menjadi ibu di zaman ini penuh tantangan. Menjadi ibu lagi bukan sekadar urusan domestik yang hanya memastikan perut anak kenyang atau nilai rapor matematikanya sempurna. Di pundak seorang ibu, tersemat beban sekaligus kemuliaan yang jauh lebih berat, yakni memastikan keberlangsungan peradaban yang pernah gemilang dalam naungan Islam.

Dalam Islam, ibu adalah madrasah pertama (al umm wa madrasatun al ula). Sebagai madrasah, seorang ibu harus memastikan fondasi akidah Islam menancap kuat di dalam jiwa-jiwa buah hatinya.

Visi Menembus Langit

Peran ideal seorang ibu bukanlah mencetak anak yang sekadar "sukses duniawi". Bukan anak yang mempunyai jabatan tinggi atau gaji besar tapi abai pada agamanya. Visi ibu adalah memastikan buah hatinya selamat di dunia dan akhirat, bahkan bisa turut serta menyelamatkan orang lain dari jalan yang salah menuju jalan yang penuh cahaya.

Bila ibu-ibu pada masa lalu berhasil mencetak Muhammad Al-Fatih dan Shalahuddin Al-Ayyubi, kita hari ini seharusnya juga mampu. Di tangan-tangan kita, dalam pengasuhan kita, mari kita upayakan lahirnya pemimpin dan penakluk. Generasi yang tidak takut miskin, tidak takut dicela, dan tidak gentar pada siapa pun kecuali kepada Allah Swt.

Bertarung di Tengah Gempuran Sistem Sekuler

Namun, kita harus jujur, mendidik anak hari ini ibarat menggenggam bara api. Kita hidup di tengah penerapan sistem kapitalisme sekuler yang secara sistematis berupaya memisahkan agama dari kehidupan. Tantangannya luar biasa mulai dari serangan pemikiran, tsunami digital, hingga impitan ekonomi.

Serangan pemikiran membuat anak-anak dikepung oleh arus budaya asing. Isu kesetaraan gender, HAM, hingga moderasi beragama sering kali menjadi "bungkus" halus yang justru mengaburkan pemahaman Islam yang Kaffah. Ini menciptakan lingkungan yang merusak fitrah.

Di sisi lain, anak-anak juga dalam empasan tsunami digital. Gadget bukan lagi sekadar alat, tapi pintu masuk segala macam kerusakan moral yang bisa diakses dari dalam kamar tidur mereka. Di sini peran seorang ibu diuji. Bagaimana agar gawai digunakan sesuai kepentingannya, bukan untuk memuaskan hasrat mendapatkan hiburan semata.

Sementara itu, sistem ekonomi kapitalisme memaksa para ibu bekerja keras di luar rumah demi menopang ekonomi keluarga. Di sini, membuat peran utama mendidik generasi semakin berat dan waktu kebersamaan kian terkikis.

Ibu dengan Kesadaran Politik Tinggi

Lantas, apa yang harus dilakukan? Kuncinya adalah kesadaran akan peran strategis kita sebagai ibu. Menjadi ibu ideologis berarti memadukan kelembutan peran ibu dengan ketajaman visi dakwah. Seorang ibu yang "melek politik" dalam pandangan Islam paham bahwa kerusakan moral anak bukan semata salah pergaulan, melainkan buah dari sistem yang rusak.

Oleh karena itu, peran riil kita saat ini harus mencakup tiga hal:

Pertama, Menancapkan Visi Pendidikan Islam. Tanamkan pada anak-anak kita bahwa identitas mereka adalah Abdullah (hamba Allah), Khalifah fil ardh (pemimpin di muka bumi), dan bagian dari Khairu Ummah (umat terbaik). Standar sukses mereka adalah rida Allah, bukan standar materi kapitalis.

Kedua, Menjadi Teladan (Uswah). Anak tidak mendengar apa yang kita ceramahkan, tapi meniru apa yang kita lakukan. Kesalehan ibu adalah kurikulum yang tak tertulis namun paling membekas.

Ketiga, Bergerak Mengubah Sistem. Ini yang sering dilupakan. Ibu ideologis menyadari bahwa mendidik anak saleh di tengah sistem yang fasad (rusak) itu sulit. Maka, peran domestik harus dibarengi dengan peran publik yakni berdakwah. Kita harus turut serta dalam upaya mencabut akar masalahnya, yakni sistem kapitalisme sekuler, dan memperjuangkan tegaknya sistem Islam yang menyejahterakan.

Ibu memberi nyawa pada jasad anaknya, tetapi Ibu Ideologis memberi "nyawa" pada jiwa anaknya dengan cita-cita besar kebangkitan Islam. Mari luruskan niat. Kita bukan sekadar membesarkan anak, kita sedang menyiapkan pemimpin peradaban. Kita, para ibu adalah arsitek-arsitek peradaban itu.[]

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image