Suka Menunda Bukan karena Malas: Ini Penjelasan Psikologinya
Gaya Hidup | 2025-12-22 13:48:42
Hampir semua orang pernah mengakhiri pekerjaannya. Tugasnya sudah ada di depan mata, sudah lewat waktu yang jelas, tapi entah kenapa tangan terasa berat untuk memulai. Anehnya, saat menunda pun pikiran tidak benar-benar tenang. Ada rasa risiko, penyesalan, dan takut jika tugas itu tidak selesai tepat waktu.
Namun, ketika kebiasaan ini terlihat oleh orang lain, penilaian yang sering muncul sangat sederhana: malas. Padahal, menunda tidak selalu soal mengecewakan niat. Dalam banyak kasus, kebiasaan ini justru berkaitan erat dengan kondisi mental seseorang.
Kenapa Kita Sering Menunda? Ini Bukan Sekadar Malas
Banyak orang yang sebenarnya ingin menyelesaikan pelayaran. Mereka tahu tanggung jawabnya dan paham hasil dari penunjukannya. Namun, ada hambatan psikologis yang membuat mereka sulit memulainya.
Berbeda dengan malas, prokrastinasi adalah kondisi ketika seseorang menghindari tugas karena merasa tidak nyaman secara emosional. Tugas tersebut dapat menimbulkan rasa cemas, takut gagal, atau takut hasilnya tidak cukup baik. Menunda akhirnya menjadi cara cepat untuk menghindari perasaan tidak enak itu, meski hanya sementara.
Akar Psikologis di Balik Kebiasaan Menunda
Salah satu penyebab utama prokrastinasi adalah kecemasan. Ketika seseorang takut melakukan kesalahan atau dinilai orang lain, otak memilih untuk menghindar. Selain itu, kesempurnaan juga sering menjadi jebakan. Keinginan untuk hasil yang sempurna justru membuat seseorang tidak berani memulai hal yang sama.
Faktor lain yang sering muncul adalah kesulitan mengelola emosi. Saat tugas terasa berat, membosankan, atau menekan, menahan dianggap sebagai bentuk “istirahat”, padahal justru menambah beban pikiran di kemudian hari.
Cara Mengatasi Prokrastinasi dengan Lebih Sehat
Mengatasi kebiasaan tidak cukup dengan memaksakan diri agar lebih disiplin. Langkah kecil justru lebih efektif. Memecah tugas besar menjadi bagian yang lebih sederhana bisa membantu otak merasa tidak terlalu terancam.
Selain itu, penting untuk menurunkan tuntutan harus sempurna. Pekerjaan yang selesai dengan cukup baik jauh lebih bermanfaat daripada menunggu kondisi ideal yang tidak kunjung datang. Yang tak kalah penting, belajarlah memahami emosi diri sendiri dan berhenti memberi label negatif pada diri sendiri.
Suka menunda bukan berarti seseorang malas atau tidak peduli. Dalam banyak kasus, itu adalah tanda bahwa ada tekanan mental yang belum terkelola dengan baik. Dengan memahami prokrastinasi dari sudut pandang psikologis, kita bisa berhenti menghakimi dan mulai mencari solusi yang lebih sehat.
Karena terkadang, yang dibutuhkan bukanlah dorongan keras, melainkan pemahaman.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
