Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ayu Lestari

Alam Berjiwa: Refleksi Filsafat Islam atas Bencana Sumatra

Agama | 2025-12-22 13:45:08

Gumpalan awan kelam di atas dataran tinggi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tiga minggu lalu tak sekadar penanda musim hujan, tetapi juga kesedihan dan kekecewaan alam yang sudah lama tertahan. Air mata langit telah berubah menjadi banjir bandang dan tanah longsor yang menghanyutkan 147.236 rumah, 1,6 ribu fasilitas umum, 145 jalan dan jembatan, 219 fasilitas kesehatan, 967 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, dan 290 gedung/kantor serta 1059 korban jiwa (BNPB).

Lumpur, air, batang-batang pohon yang mengalir deras dari hulu ke hilir melukiskan sebuah fenomena kepedihan alam yang terasa begitu personal. Ini bukan sekadar fenomena hidrometeorologi belaka, melainkan bentuk erosi holistik hingga ke akal sehat dan jiwa-jiwa manusia serakah. Saat hutan hujan tropis yang dulu berfungsi sebagai penjaga keseimbangan berganti menjadi perkebunan monokultur sawit yang rapuh, alam semesta yang hidup karena berjiwa itu tidak tinggal diam. Ia merintih, mengaduh, dan akhirnya mengembalikan segala yang telah diambil darinya dengan cara yang paling brutal, melalui longsoran tanah dan air bah yang menyapu 52 kabupaten/kota. Bencana adalah sebuah teguran lengkap dari bahasa alam yang sering kita abaikan. Setelah bencana besar ini, apakah kita akan terus tuli? Atau mulai belajar mendengarkan bisikan peringatan dari alam yang berjiwa ini?

Sumber gambar: Kompas

Data laju deforestasi hutan Sumatera yang telah diungkap oleh berbagai media nasional telah menunjukkan fakta yang gamblang dan keras. Berdasarkan statistik dari Kementerian Kehutanan tahun 2025, total angka deforestasi hutan di Indonesia mencapai lebih dari 175.437,7 hektar. Deforestasi hutan hujan tropis menjadi perkebunan kelapa sawit monokultur telah berhasil menggerus fungsi hutan sebagai penahan air, penstabil tanah, dan penjaga keanekaragaman hayati.

Meskipun dikatakan sama-sama pohon yang berdaun, pohon hutan hujan tropis dan pohon kelapa sawit sangatlah berbeda, terutama dari struktur vegetasi, sistem akar, dan pengaruhnya terhadap resapan air hujan. Pohon-pohon di hutan hujan tropis memiliki tutupan vegetasi yang sangat rapat dan beragam. Pohon besar dan lapisan daun yang tebal akan memfiltrasi air dengan sangat efektif ke dalam tanah. Sekelompok peneliti di Panama menyampaikan bahwa pohon hutan memiliki sistem jaringan akar yang kompleks dengan kedalaman hingga mencapai puluhan meter.

Selain itu, sistem jaringan akar yang dalam juga dapat menyimpan sebagian besar karbon di dalam tanah dan mencengkram tanah sehingga tidak mudah longsor. Sebaliknya, lahan pohon kelapa sawit monokultur tersusun rapat namun bersifat homogen dengan sistem akar yang relatif dangkal hingga kedalaman satu meter saja. Pohon sawit tidak memiliki jaringan sistem akar yang kompleks seperti halnya pohon hutan. Sehingga tidak bisa mencengkram tanah hingga efektif ketika musim hujan tiba. Akibatnya, tanah lebih rentan terhadap erosi dan tanah longsor.

Setiap hektar hutan hujan tropis yang hilang telah memotong jutaan jaringan pencengkram tanah, penyimpan karbon, pelindung ekosistem yang telah lama hidup dan saling terhubung di dalamnya. Namun seringkali respon kita hanya sebatas teknis yang sempit, seperti normalisasi sungai, pembuatan sabuk pengaman, atau penanaman kembali yang bersifat hanya proyek sesaat. Di sinilah letak kegagalan terbesar manusia. Gagal menyadari penyebab krusial yang mendasari bencana besar ini. Manusia sibuk mengobati gejala namun abai pada penyakit paradigmatik yang selama ini menggerogoti pikiran hingga menjadikan kita manusia yang egois, tamak, dan serakah pada alam.

Cara pandang kita terhadap hutan hanya sebagai sekumpulan kayu yang bisa dikonversi menjadi rupiah. Kemudian mengubah lahannya menjadi perkebunan sawit yang kita nilai berdasarkan pada kontribusinya terhadap swasembada energi nasional. Semua hal hanya dilihat dari faktor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Ini adalah bentuk materialisme ekologis yang buta. Paradigma ini telah menutupi mata batin kita dari hakikat alam yang hidup dan memiliki jiwa semesta. Para filsuf muslim seperti Ibn Sina dan Ikhwan al-Safa’ menyebutnya dengan nafs kulliyah (jiwa universal) yang memberikan kehidupan dan kesadaran pada diri alam semesta seutuhnya.

Jiwa semesta lah yang telah mengalirkan kehidupan, keteraturan, dan tujuan pada setiap bagian terkecil alam. Sehingga para filsuf muslim menyebut alam sebagai makro-organisme yang saling terhubung satu sama lain oleh jiwa yang sama. Kerusakan ekologi adalah bentuk luka pada tubuh alam yang hidup. Sehingga banjir dan longsor di Sumatera merupakan respon alami dari sebuah organisme yang sedang mengalami sakit akut. Alam sedang berusaha untuk menolak penyakit eksploitasi yang ditanamkan manusia-manusia tak berperasaan. Apa yang kita lakukan ketika tangan kita dilukai, rambut kita dibotaki? Pastilah kita akan meresponnya karena rasa sakit dan kecewa.

Refleksi filsafat islam ini mengajarkan bahwa ketika kita merusak hutan, kita tidak hanya merusak tata ruang, tetapi juga sedang melukai jiwa semesta dan memutus salah satu urat nadi kehidupan dari tubuh semesta alam. Bencana adalah respon jeritan yang tak lagi bisa dibendung alam. Ini adalah bentuk dari peringatan final bahwa pengabaian terhadap jiwa semesta yang dimiliki alam ini akan berbalik menghantam peradaban kita sendiri, peradaban manusia-manusia yang lupa diri dan tak memiliki hati nurani.

Semoga bencana banjir dan longsor di Sumatera berhasil menyadarkan hati nurani kita yang terdalam, bahwa alam pun layak dihormati dan diperlakukan dengan penuh bijaksana, sebagai sesama makhluk yang memiliki jiwa yang berasal dari Tuhan. Alam adalah teman kita, saudara kita, keluarga kita di kehidupan ini. Kita dan alam adalah sama-sama manifestasi sempurna dari Tuhan, untuk saling menjaga dan menyeimbangkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image