Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image nabila anggun

Kekuatan Ibu di Tengah Kehilangan

Kisah | 2025-12-21 23:54:18
Kekuatan seorang ibu yang bangkit di tengah kehilangan dan memikul peran ganda demi anak - anaknya.

Kehilangan seorang ayah adalah luka yang sangat dalam bagi sebuah keluarga. Sosok yang selama ini hadir sebagai pelindung, pencari nafkah, penasehat, sekaligus tempat bersandar, tiba-tiba pergi dan meninggalkan kekosongan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rumah yang sebelumnya dipenuhi suara dan tawa perlahan menjadi lebih sunyi. Ada rindu yang menetap, ada kebiasaan kecil yang tak lagi terulang, dan ada rasa kehilangan yang terus terasa meski waktu berjalan.

Dalam situasi seperti itu, duka tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga oleh seorang ibu yang kehilangan pasangan hidupnya. Ia kehilangan sosok yang selama ini berjalan berdampingan dengannya, berbagi tanggung jawab, harapan, dan impian. Namun, di tengah kesedihan yang mendalam, ibu sering kali tidak memiliki banyak pilihan selain bangkit. Kehidupan harus terus berjalan, dan anak-anak tetap membutuhkan sosok yang kuat untuk bersandar.

Perlahan namun pasti, ibu mengambil peran ganda yang sebelumnya dijalani bersama. Ia menjadi ibu sekaligus ayah dalam satu waktu. Tanpa persiapan dan tanpa latihan, ibu belajar menghadapi dunia dengan cara yang sama sekali baru. Ia memikul tanggung jawab yang lebih besar, mengatur kebutuhan rumah tangga, mencari nafkah atau mengelola keuangan dengan lebih ketat, serta memastikan anak-anak tetap dapat melanjutkan hidup mereka dengan rasa aman.

Ibu tidak hanya menjadi pelukan hangat ketika kesedihan datang, tetapi juga menjadi figur yang tegas ketika keadaan menuntut ketegasan. Ia belajar menahan air mata demi terlihat kuat di depan anak-anaknya. Di balik senyum yang ditunjukkan setiap hari, tersimpan lelah dan rindu yang tak selalu terucap. Namun, justru dari situlah terlihat betapa besar cinta dan pengorbanan seorang ibu.

Menjadi “ayah” bagi anak-anaknya tidak berarti ibu kehilangan kelembutan dan kasih sayangnya. Sebaliknya, ia justru mampu memadukan dua peran yang tampak bertolak belakang. Ia tetap hadir dengan kelembutan seorang ibu, namun juga menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan keberanian. Ia mengajarkan anak-anak untuk kuat tanpa harus kehilangan sisi manusiawi mereka. Dari sikapnya, anak-anak belajar bahwa ketegasan tidak harus keras, dan kasih sayang tidak selalu lembek.

Dalam keseharian yang dijalani, ibu juga menanamkan nilai kemandirian. Ia mengajak anak-anak untuk ikut berproses, memahami keadaan, dan belajar menghadapi kenyataan hidup. Tanpa banyak ceramah, ibu menunjukkan melalui tindakan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan yang lebih menantang.

Anak-anak pun perlahan belajar bahwa keberanian tidak selalu datang dari sosok ayah yang kuat secara fisik. Keberanian bisa tumbuh dari keteguhan seorang ibu yang tetap berdiri meski hatinya terluka. Mereka belajar bahwa ketahanan bukan berarti tidak pernah merasa sedih, melainkan tetap melangkah meski rasa sedih itu ada.

Namun, penting untuk diingat bahwa ibu juga manusia biasa. Ada hari-hari di mana ia merasa sangat lelah, rapuh, dan ingin menyerah. Ada malam-malam sunyi ketika rindu pada sosok ayah kembali menyeruak, dan air mata jatuh tanpa suara. Ia pun memiliki ketakutan dan kekhawatiran tentang masa depan. Meski demikian, ibu memilih untuk tidak tenggelam dalam kesedihan. Ia menjadikan rasa sakit sebagai sumber kekuatan, dan kehilangan sebagai alasan untuk terus berjuang.

Dari kerentanannya, lahir kekuatan yang luar biasa. Ibu mengajarkan bahwa tidak apa-apa merasa lemah, selama tidak berhenti berusaha. Ia menunjukkan bahwa keberanian sejati bukanlah tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang bangkit setiap kali terjatuh. Nilai-nilai inilah yang secara perlahan membentuk karakter anak-anaknya.

Ibu yang menggantikan peran ayah adalah simbol ketahanan dan cinta tanpa syarat. Ia membuktikan bahwa kasih seorang ibu mampu melampaui batas peran gender dan ekspektasi sosial. Ia mampu mengisi kekosongan, menjaga keharmonisan keluarga, dan memastikan bahwa rumah tetap menjadi tempat yang hangat meski kehilangan telah terjadi.

Pada akhirnya, ibu bukan sekadar “pengganti ayah.” Ia adalah cahaya yang menjaga keluarga agar tidak tenggelam dalam gelap. Ia adalah bukti nyata bahwa cinta, keberanian, kesabaran, dan doa seorang ibu mampu menjadi fondasi yang sangat kuat. Di tengah kehilangan yang menyakitkan, ibu hadir sebagai pengingat bahwa harapan selalu bisa tumbuh, bahkan dari luka yang paling dalam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image