Pondok Pesantren Darul Akhyar dan Keteladanan Dakwah Rasulullah sebagai Dai
Agama | 2025-12-20 17:42:05
Oleh: Hanifah Ghaida Shafa Nuha NIM: 1251300009 Program Studi Jurnalistik, Semester 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Mata Kuliah: Akhlak Tasawuf Dosen Pengampu: Dr. Syamsul Yakin, M.A.
Pondok Pesantren Darul Akhyar menjadi salah satu ruang pembelajaran keislaman yang memberikan pengalaman langsung tentang bagaimana nilai akhlak dan tasawuf diajarkan secara nyata. Kunjungan akademik ke Pondok Pesantren Darul Akhyar dilakukan oleh penulis sebagai mahasiswa Program Studi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam rangka memperdalam pemahaman mata kuliah Akhlak Tasawuf. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan pesantren Darul Akhyar yang diasuh oleh Dr. Syamsul Yakin, M.A., dengan tujuan melihat secara langsung praktik pendidikan akhlak dan dakwah di pesantren.
Pondok Pesantren Darul Akhyar dikenal sebagai pesantren yang menekankan pembinaan akhlak, kedalaman spiritual, dan kesederhanaan hidup santri. Kegiatan santri berlangsung secara teratur mulai dari ibadah berjamaah, pengajian kitab, halaqah keilmuan, hingga pembiasaan adab dalam kehidupan sehari-hari. Suasana pesantren yang sederhana namun penuh kedisiplinan menjadikan Darul Akhyar sebagai tempat pembentukan karakter santri agar memiliki keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas.
Pada salah satu kesempatan kunjungan, penulis mengikuti kegiatan halaqah pagi bersama para santri. Dalam halaqah tersebut, Dr. Syamsul Yakin, M.A. menyampaikan materi tentang Rasulullah SAW sebagai seorang da’i. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan reflektif dan kontekstual, sehingga mudah dipahami oleh santri dan peserta kunjungan. Materi ini menjadi sangat relevan karena tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga dikaitkan dengan praktik dakwah dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan mengenai Rasulullah sebagai da’i ditegaskan melalui ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tugas Rasulullah sebagai penyampai risalah dan peringatan. Dalam QS. al-Jin ayat 23 disebutkan bahwa Rasulullah bertugas menyampaikan risalah Allah, sementara balasan atas penerimaan atau penolakan dakwah sepenuhnya berada di tangan Allah. Dalam konteks ini, da’i dimaknai sebagai penyeru yang mengajak manusia kepada kebenaran tanpa paksaan.
Sebagai penyeru kepada agama Allah, Rasulullah SAW menjalankan dakwah dengan izin dan bimbingan Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam QS. al-Ahzab ayat 46 yang menyebut Rasulullah sebagai penyeru kepada Allah dan sebagai pelita yang menerangi. Makna pelita menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah membawa cahaya petunjuk bagi umat manusia melalui keteladanan akhlak, perkataan, dan perbuatan beliau.
Selain sebagai penyeru, Rasulullah juga diutus sebagai pemberi peringatan. Dalam QS. al-Ghasyiyah ayat 21, Allah memerintahkan Rasulullah untuk memberi peringatan karena tugas beliau hanyalah menyampaikan. Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa peringatan tersebut berisi pengingatan terhadap nikmat-nikmat Allah dan bukti-bukti keesaan-Nya agar manusia kembali kepada jalan tauhid.
Pada ayat lain, Allah SWT menjelaskan bahwa Rasulullah juga diutus sebagai saksi dan pembawa kabar gembira. QS. al-Ahzab ayat 45 menyebutkan bahwa Rasulullah berperan sebagai saksi bahwa dakwah telah disampaikan, sebagai pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang menerima dakwah berupa pahala dan surga, serta sebagai pemberi peringatan bagi mereka yang menolak dakwah dengan ancaman siksa neraka.
Sebagai seorang da’i, Rasulullah SAW tidak dibebani tanggung jawab atas diterima atau tidaknya dakwah oleh manusia. Allah SWT menegaskan dalam QS. al-Baqarah ayat 119 bahwa Rasulullah tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas penghuni neraka. Ayat ini menjadi penguat bahwa tugas da’i adalah menyampaikan dengan ikhlas dan sabar, tanpa memaksakan hasil.
Melalui pengalaman kunjungan ke Pondok Pesantren Darul Akhyar dan materi halaqah yang disampaikan, dapat dipahami bahwa nilai-nilai dakwah Rasulullah SAW benar-benar dihidupkan dalam pendidikan pesantren. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak dan tasawuf. Dengan meneladani Rasulullah sebagai da’i, Pondok Pesantren Darul Akhyar berupaya melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap berdakwah di tengah masyarakat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
