Kecanduan Media Sosial di Kalangan Remaja
Eduaksi | 2025-12-18 18:01:42
Di era digital ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Hampir semua remaja mempunyai akun media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, Twitter, dan lainnya. Media sosial memang memberikan banyak manfaat, seperti mempermudah komunikasi, memperluas pertemanan, serta menjadi sumber hiburan dan informasi. Namun, dibalik manfaat tersebut, muncul masalah serius yaitu kecanduan media sosial di kalangan remaja.
Kecanduan media sosial terjadi ketika remaja tidak mampu mengontrol diri untuk berhenti menggunakannya. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam – jam hanya untuk scrolling tanpa tujuan lain adalah keinginan untuk selalu update, takut ketinggalan informasi (FOMO), serta dorongan untuk mendapatkan perhatian melalui like, komentar, atau jumlah pengikut. Selain itu, kurangnya pengawasan dari orang tua juga membuat remaja semakin bebas menggunakan media sosial tanpa batas.
Apa dampak kecanduan media sosial pada remaja?
Dampak kecanduan media sosial sangat berpengaruh terhadap remaja, baik dari segi mental, sosial, maupun pendidikan. Dari segi mental, remaja dapat mengalami stres,cemas, rendah diri, hingga depresi akibat sering membandingkan diri sendiri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Dari segi sosial, remaja menjadi lebih tertutup dan kurang berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar. Pertemanan didunia nyata bisa terganggu karena mereka lebih fokus pada dunia di media sosial. Dari segi pendidikan, kecanduan media sosial dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi belajar, malas mengerjakan tugas, kurang tidur,postur tubuh yang buruk dan prestasi akademik menurun.
Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik remaja. Terlalu lama menatap layar ponsel dapat menyebabkan gangguan mata, kurangnya aktivitas fisik, sakit kepala, hingga gangguan pola tidur. Jika keadaan ini dibiarkan terus -menerus, maka akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan pada remaja.
Bagaimana cara mengatasinya?
Untuk mengatasi permasalahan kecanduan media sosial di kalangan remaja, diperlukan peran dari berbagai pihak. Yaitu remaja itu sendiri, dan orang tua. Dari sisi remaja, kesadaran diri menjadi kunci utama. Remaja perlu memahami bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan akan membawa dampak buruk bagi kesehatan mental, prestasi belajar, dan hubungan sosial. Oleh karena itu, remaja harus belajar mengontrol diri dengan cara membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari, misalnya dengan membuat jadwal khusus penggunaan ponsel. Selain itu, remaja juga diajak untuk memanfaatkan teknologi secara lebih positif, seperti menggunakan media sosial untuk mencari materi pelajaran, mengembangkan hobi melalui konten edukatif, serta menyalurkan bakat di bidang seni, olahraga, atau kewirausahaan digital. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi alat pendukung pengembangan diri.
Peran orang tua juga sangat penting dalam mencegah dan mengatasi kecanduan media sosial. Orang tua perlu memberikan perhatian lebih terhadap kebiasaan remaja dalam menggunakan media sosial, bukan dengan cara melarang secara keras, tetapi melalui pengawasan yang bijak dan komunikasi yang terbuka. Orang tua dapat membuat kesepakatan bersama anak mengenai batas waktu penggunaan ponsel di rumah, misalnya tidak menggunakan ponsel saat waktu belajar, makan bersama, atau menjelang tidur. Selain itu, orang tua juga harus menjadi teladan yang baik dalam menggunakan media sosial. Jika orang tua juga terlalu sering bermain ponsel, anak akan cenderung meniru kebiasaan tersebut. Dengan memberikan contoh penggunaan media sosial yang sehat, anak akan lebih mudah diarahkan untuk bersikap bijak dalam menggunakan media sosial.
Media sosial memang pada dasarnya merupakan sarana yang bermanfaat jika digunakan dengan tepat. Namun, jika tidak dikontrol, media sosial dapat berubah menjadi ancaman serius bagi masa depan remaja. Oleh karena itu, kecanduan media sosial harus menjadi perhatian bersama agar generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan di era digital.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
