Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aulia Aul

Bahaya Perselingkuhan bagi Kesehatan Mental dan Tubuh Kembang Anak

Info Terkini | 2025-12-18 09:22:25

Perselingkuhan bukan lagi isu yang asing dalam kehidupan modern. Di tengah derasnya arus komunikasi dan media sosial, batasan antara hubungan yang wajar dan menggoda sering kali menjadi kabur. Ketika kepercayaan yang sudah dibangun dengan susah payah dihianati, luka yang ditinggalkan tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga bisa menghancurkan kesehatan mental seseorang. Rasa cemas, kecewa, marah, hingga kehilangan makna hidup adalah sebagian dari dampak yang muncul setelah pengkhianatan terjadi.

Perselingkuhan Menyebabkan Keluarga Menjadi Berantakan.

Bukan hanya pasangan yang terlibat yang merasakan dampaknya, keluarga pun ikut goyah. Anak-anak dapat kehilangan figur harmonis yang selama ini mereka andalkan, sementara relasi antarkeluarga menjadi renggang dan penuh kecurigaan. Perselingkuhan memang kerap dimulai dari hal kecil—sekadar obrolan, perhatian lebih, atau rasa penasaran—namun akibatnya bisa menjadi sangat besar.

Perselingkuhan makin sering terjadi, bahkan di kalangan pasangan muda, dan jadi salah satu pemicu perceraian paling tinggi.

Dampak selingkuh ke mental seseorang nggak main-main: dari stres, trauma, sampai kehilangan rasa percaya diri.

Keluarga juga ikut terdampak—anak, pasangan, bahkan lingkungan sosial ikut kena efeknya.

Banyak pasangan menganggap selingkuh cuma “kesalahan kecil”, padahal konsekuensinya bisa sangat panjang.

Pengaruh perselingkuhan bisa dari lingkung an sekitar, seperti teman-teman yang melakukan Perselingkuhan atau media yang mempromosikan gaya hidup bebas.

Artikel ini membahas kenapa perselingkuhan bisa merusak mental seseorang, bagaimana dampaknya terhadap keharmonisan keluarga, dan langkah nyata yang bisa dilakukan untuk mencegah keretakan hubungan.

Kenapa Selingkuh Bisa Menghancurkan Mental?

Perselingkuhan bukan cuma tentang pengkhianatan cinta, tapi juga soal rasa aman, kepercayaan, dan harga diri. Saat seseorang dikhianati, otak memprosesnya sebagai “ancaman emosional”.

Menurut American Psychological Association (APA, 2022), korban pengkhianatan berisiko mengalami trust issues, kecemasan, dan bahkan gejala depresi.

Kondisi ini muncul karena korban merasa gagal, tidak cukup, dan takut hubungan sosialnya rusak.

Efek Selingkuh pada Keluarga dan Anak

Selingkuh nggak hanya melukai pasangan, tapi juga menghancurkan stabilitas keluarga.

Menurut laporan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, 2021), perselingkuhan adalah salah satu penyebab terbesar konflik rumah tangga yang berujung pada perceraian.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang sedang berkonflik berat cenderung lebih mudah mengalami kecemasan dan kesulitan mengontrol emosi (BKKBN, 2021).

Retaknya kepercayaan antar-orangtua juga membuat suasana rumah tidak kondusif dan memengaruhi perkembangan psikologis anak.

Langkah Nyata untuk Mengurangi Risiko Keretakan karena Selingkuh

Bangun komunikasi yang jujur dan rutin: Banyak pasangan selingkuh karena masalah kecil tidak pernah dibahas sampai akhirnya menumpuk.

Tetapkan batasan dalam pergaulan: Kesadaran diri penting agar tidak membuka ruang menuju perselingkuhan emosional atau fisik.

Konseling keluarga: Menurut Ikatan Konselor Indonesia (IKI, 2023), konseling terbukti membantu pasangan memulihkan kepercayaan dan mengelola emosi setelah perselingkuhan.

Ajarkan empati dan tanggung jawab emosional: Pasangan perlu sadar bahwa tindakan mereka berdampak pada keluarga, terutama anak.

Perselingkuhan bukan sekadar masalah cinta, tapi masalah serius yang bisa merusak mental seseorang, menghancurkan kepercayaan, dan mengacaukan keluarga. Kalau dibiarkan tanpa penanganan, luka emosionalnya bisa bertahan lama dan memengaruhi masa depan semua anggota keluarga. Karena itu, penting bagi pasangan untuk menjaga komunikasi, memahami batasan, dan tidak ragu mencari bantuan profesional saat hubungan mulai goyah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image