Perekonomian Meningkat, Kehidupan Rakyat Masih Sulit
Bisnis | 2025-12-17 18:37:59Perekonomian Meningkat, Kehidupan Rakyat Masih Sulit
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kerap disajikan sebagai kabar baik. Angka produk domestik bruto (PDB) meningkat, inflasi diklaim terkendali, dan stabilitas ekonomi nasional disebut tetap terjaga di tengah perekonomian global. Namun, dibalik deretan data tersebut, muncul pertanyaan besar dari masyarakat.
Mengapa kehidupan rakyat masih terasa sulit?
Karena harga kebutuhan yang terus naik, lapangan kerja yang terbatas, serta daya beli yang melemah membuat banyak masyarakat merasa belum benar – benar menikmati adanya jarak antara capaian ekonomi secara makro dengan realitas kehidupan rakyat sehari – hari.
Pertumbuhan ekonomi sering dijadikan indikator utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatatkan tren pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Pemerintah optimistis bahwa fondasi ekonomi nasional cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan global. Namun, kualitas di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda. Bagi sebagian besar rakyat, peningkatan angka ekonomi belum berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup. Harga bahan pangan, biaya pendidikan, kesehatan, dan perumahan terus mengalami kenaikan. Di sisi lain, pendapatan masyarakat, khususnya pekerja informal dan kelas menengah kebawah, cenderung stagnan. Akibatnya, daya beli melemah dan tekanan ekonomi semakin terasa.
Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah ketimpangan distribusi hasil pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu, sementara sebagian masyarakat lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ketika perekonomian tumbuh tanpa pemerataan, angka statistik menjadi indah, namun tidak sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan rakyat.
Selain itu, masalah ketenagakerjaan juga menjadi faktor penting. Lapangan pekerjaan yang tersedia seringkali tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja, terutama bagi generasi muda. Banyak lulusan baru sulitnya mencari pekerjaan layak dengan upah yang memadai. Kondisi ini memicu fenomena bekerja dengan pendapatan minimal atau terjebak dalam pekerjaan tidak tetap. Kelas menengah yang selama ini menjadi penopang perekonomian nasional pun mulai merasakan tekanan. Kenaikan pajak, cicilan, serta biaya hidup membuat ruang untuk menabung dan berinvestasi semakin menyempit. Jika kondisi terus berlanjut, potensi melemahnya kelas menengah, yang pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas perekonomian secara keseluruhan.
Di sisi lain, kebijakan ekonomi yang ada masih perlu dikesampingkan dari sisi keberpihakan. Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya berfokus pada infestasi dan angka marko, tetapi juga pada penguatan ekonomi rakyat. Dukungan terhadap UMKM perlindungan energi keja, serta penyediaan harga kebutuhan pokok harus menjadi prioritas utama. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil mampu menjembatani kesenjangan antara pertumbuhan dan kesejahteraan. Tanpa langkah konkret, pertumbuhan ekonomi berisiko menjadi sekadar angka tanpa makna bagi kehidupan rakyat.
Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari seberapa tinggi angka pertumbuhan, tetapi dari seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Selama rakyat masih hidup dalam kesulitan, maka pertumbuhan ekonomi patut dicermati arah dan manfaatnya. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bukan hanya segelintir pihak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
